Paris Haute Couture Fall/Winter 2025-2026, Koleksi Adibusana Gothic sampai Gaun Alga
15 July 2025 |
12:00 WIB
Paris kembali menjadi pusat perhatian para pencinta mode dunia selama perhelatan Haute Couture Week Fall/Winter 2025-2026, yang digelar 7-10 Juli lalu. Pekan mode ini tak hanya menjadi panggung bagi koleksi adibusana dari rumah mode ikonik, tetapi juga menghadirkan ekspresi seni dalam berbusana yang lebih dari sekadar modis.
Mengutip Vogue, salah satu momen yang menjadi sorotan utama dalam pekan mode ini adalah perpisahan Demna Gvasalia, direktur kreatif Balenciaga yang mengucap perpisahan setelah satu dekade memimpin rumah mode tersebut. Lewat koleksi Balenciaga Fall 2025 Couture, Demna memilih pendekatan reflektif, alih-alih pesta besar.
Baca juga: Milan Men's Fashion Week 2026, Semangat Musim Panas dalam Koleksi Busana Pria
Pertunjukan dibuka dengan suara para penjahit atelier yang menyebut nama mereka satu per satu. Koleksinya menampilkan tailoring arsitektural dengan struktur yang seolah meleleh di tubuh, gaun-gaun slip satin yang ringan, dan puffer couture ikonik dalam versi yang lebih subtil.
Gaun dan jas dengan struktur ekstra besar dibuat dari bahan stretch yang menyesuaikan bentuk tubuh pemakainya, mengaburkan batas antara mode maskulin dan feminin, serta menekankan inklusivitas bentuk tubuh.
Momen paling mencuri perhatian datang saat Kim Kardashian menutup peragaan dalam balutan gaun satin putih ala Elizabeth Taylor, lengkap dengan mantel bulu dan anting berlian asli milik Taylor, sementara aktris Prancis Isabelle Huppert tampil penuh karisma dalam setelan hitam minimalis.
Koleksi ini mencampurkan glamor klasik Hollywood dengan eksperimen khas Demna, menghadirkan kemewahan yang tidak berteriak, tetapi berbisik dalam siluet dan detail. Di tengah suasana perpisahan, Balenciaga berhasil mengemas warisan Demna dengan penuh penghormatan dan memberi ruang bagi babak baru di bawah arahan kreatif yang akan datang.
Sementara itu, Chanel juga berada dalam masa transisi menjelang masuknya Matthieu Blazy sebagai direktur kreatif pada Oktober mendatang. Ini menjadi karya terakhir yang ditangani oleh tim studio internal Chanel.
Digelar di Grand Palais dengan dekorasi menyerupai butik Chanel di Paris 31 rue Cambon, pertunjukan ini menghidupkan kembali semangat klasik dan lembut dari rumah mode tersebut. Palet warna netral seperti ivory, cokelat tanah, dan hijau daun mendominasi. Menarik inspirasi dari lanskap pedesaan Inggris dan Skotlandia sebagai tempat yang menjadi bagian penting dari sejarah Gabrielle Chanel.
Siluetnya terdiri dari jaket tweed oversized, culottes, dan coatdress yang dirancang untuk memberi keleluasaan tubuh bergerak. Material seperti mohair, bouclé, dan bulu tampil bersahaja namun mewah, dipadukan dengan detail khas Chanel seperti sulaman gandum emas dan tepian braid bordir. Koleksi kali ini memang tidak bombastis, tetapi justru dalam kesederhanaan itulah kekuatan Chanel kembali berbicara dan membangun fondasi kuat untuk lembaran baru di bawah arahan kreatif yang akan datang.
Di sisi lain, Maison Margiela membuka babak baru di bawah direktur kreatif Glenn Martens, yang melakukan debut adibusana dengan gaya punk-arsip. Koleksinya mengangkat kembali elemen grunge dan anti-mode khas Margiela, diiringi atmosfer gelap dan soundtrack Smashing Pumpkins yang memberi kesan teatrikal nan provokatif.
Pertunjukan digelar di ruang bawah tanah Le Centquatre. Dindingnya berlapis wallpaper terkelupas yang gelap dan misterius. Para model mengenakan masker yang terbuat dari logam tua, kristal, tulle, hingga renda yang menutupi wajah mereka.
Martens menunjukkan kekuatan craftsmanship lewat gaun plastik dramatis, metallic sheaths, dan coat draped dengan struktur yang merujuk pada arsitektur Gothic Bruges. Setiap detailnya mulai dari outerwear plastik, corset logam, hingga celana jeans dan jas biker upcycled, mewakili dialog antara estetika warisan rumah mode dan visi kontemporer sang desainer.
Paris Couture tahun ini juga menunjukkan evolusi mode ke arah keberlanjutan dan bioteknologi. Desainer asal Belanda, Iris van Herpen, mencuri perhatian dengan koleksi berjudul Sympoiesis, sebuah karya yang mengeksplorasi hubungan simbiotik antara teknologi, seni, dan alam.
Koleksi ini dibuka dengan gaun hidup yang mengandung 125 juta alga bioluminescent (Pyrocystis lunula) yang menyala biru elektrik saat model bergerak di runway, sehingga menciptakan efek visual yang memukau. Dalam prosesnya, dikembangkan oleh van Herpen dan biodesigner Chris Bellamy, bersama peneliti dari University of Amsterdam dan Francis Crick Institute.
Baca juga: Eloknya Motif Khas Kazakhstan dalam Koleksi Gaun Desainer Aida Kaumenova
Paris Haute Couture Fall/Winter 2025–2026 bukan sekadar pertunjukan busana, melainkan representasi dari masa depan mode yang dinamis. Tahun ini menunjukkan bagaimana couture tetap relevan bukan hanya karena kemewahannya, tetapi karena keberaniannya menjawab pertanyaan zaman soal keberlanjutan dan ekspresi artistik yang berani.
Mengutip Vogue, salah satu momen yang menjadi sorotan utama dalam pekan mode ini adalah perpisahan Demna Gvasalia, direktur kreatif Balenciaga yang mengucap perpisahan setelah satu dekade memimpin rumah mode tersebut. Lewat koleksi Balenciaga Fall 2025 Couture, Demna memilih pendekatan reflektif, alih-alih pesta besar.
Baca juga: Milan Men's Fashion Week 2026, Semangat Musim Panas dalam Koleksi Busana Pria
Pertunjukan dibuka dengan suara para penjahit atelier yang menyebut nama mereka satu per satu. Koleksinya menampilkan tailoring arsitektural dengan struktur yang seolah meleleh di tubuh, gaun-gaun slip satin yang ringan, dan puffer couture ikonik dalam versi yang lebih subtil.
Gaun dan jas dengan struktur ekstra besar dibuat dari bahan stretch yang menyesuaikan bentuk tubuh pemakainya, mengaburkan batas antara mode maskulin dan feminin, serta menekankan inklusivitas bentuk tubuh.
Koleksi ini mencampurkan glamor klasik Hollywood dengan eksperimen khas Demna, menghadirkan kemewahan yang tidak berteriak, tetapi berbisik dalam siluet dan detail. Di tengah suasana perpisahan, Balenciaga berhasil mengemas warisan Demna dengan penuh penghormatan dan memberi ruang bagi babak baru di bawah arahan kreatif yang akan datang.
Sementara itu, Chanel juga berada dalam masa transisi menjelang masuknya Matthieu Blazy sebagai direktur kreatif pada Oktober mendatang. Ini menjadi karya terakhir yang ditangani oleh tim studio internal Chanel.
Digelar di Grand Palais dengan dekorasi menyerupai butik Chanel di Paris 31 rue Cambon, pertunjukan ini menghidupkan kembali semangat klasik dan lembut dari rumah mode tersebut. Palet warna netral seperti ivory, cokelat tanah, dan hijau daun mendominasi. Menarik inspirasi dari lanskap pedesaan Inggris dan Skotlandia sebagai tempat yang menjadi bagian penting dari sejarah Gabrielle Chanel.
Di sisi lain, Maison Margiela membuka babak baru di bawah direktur kreatif Glenn Martens, yang melakukan debut adibusana dengan gaya punk-arsip. Koleksinya mengangkat kembali elemen grunge dan anti-mode khas Margiela, diiringi atmosfer gelap dan soundtrack Smashing Pumpkins yang memberi kesan teatrikal nan provokatif.
Koleksi ini dibuka dengan gaun hidup yang mengandung 125 juta alga bioluminescent (Pyrocystis lunula) yang menyala biru elektrik saat model bergerak di runway, sehingga menciptakan efek visual yang memukau. Dalam prosesnya, dikembangkan oleh van Herpen dan biodesigner Chris Bellamy, bersama peneliti dari University of Amsterdam dan Francis Crick Institute.
Baca juga: Eloknya Motif Khas Kazakhstan dalam Koleksi Gaun Desainer Aida Kaumenova
Paris Haute Couture Fall/Winter 2025–2026 bukan sekadar pertunjukan busana, melainkan representasi dari masa depan mode yang dinamis. Tahun ini menunjukkan bagaimana couture tetap relevan bukan hanya karena kemewahannya, tetapi karena keberaniannya menjawab pertanyaan zaman soal keberlanjutan dan ekspresi artistik yang berani.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.