ilustrasi (sumber gambar : RF._.studio _/pexels)

Tren Kewirausahaan Terus Meningkat Seiring Sulitnya Mencari Kerja

14 July 2025   |   22:00 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah kondisi pasar tenaga kerja yang kompetitif dan ketidakpastian ekonomi, menjadi wirausaha kini menjadi pilihan yang semakin rasional bagi banyak anak muda di Indonesia. Selain sebagai solusi dari keterbatasan lapangan kerja, berwirausaha juga membuka potensi penciptaan lapangan kerja baru.

Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menyebut bahwa era teknologi saat ini sangat mendukung kemudahan memulai usaha, bahkan dengan modal yang relatif kecil. “Banyak anak muda memulai bisnis dengan konsep yang relevan dengan gaya hidup segmen mereka sendiri, seperti food truck dan bisnis berbasis digital,” ujarnya.

Baca juga: Kerja Sama Produksi, Jurus UMKM Menekan Modal & Tetap Kompetitif

Menurut Bhima, tren kewirausahaan ini turut didorong oleh pasar kelas menengah di Indonesia yang memiliki daya beli dan akses terhadap modal awal untuk memulai usaha, terutama bagi mereka yang baru lulus kuliah atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Di sisi lain, media sosial juga berperan penting karena tak jarang pengusaha muda yang sukses dianggap memiliki status sosial lebih tinggi dibanding menjadi karyawan.”Itu juga yang jadi pemicu banyaknya gelombang baru wirausaha,” tambah Bhima.

Adanya berbagai pelatihan gratis baik dari pemerintah, perguruan tinggi, hingga influencer kian memudahkan generasi muda untuk belajar langsung dari pengalaman orang lain.

Meski peluang terbuka lebar, menjadi wirausaha bukan tanpa tantangan. Tantangan pertama adalah menemukan ide bisnis yang tepat, khususnya yang berada di pasar “blue ocean” atau belum terlalu kompetitif. Hal ini membutuhkan riset pasar yang matang dan peran mentor yang bisa memberi arahan strategis.

“Mentor bisa membantu memberi pandangan sektor mana yang potensial dan mana yang terlalu padat persaingan,” jelasnya.

Selain itu, banyak wirausaha pemula yang belum memiliki tim atau sumber daya manusia pendukung sehingga mereka merasa menjalankan bisnis seorang diri, terutama di tahun-tahun awal.

Modal memang masih jadi hal yang penting, tapi bukan satu-satunya. “Banyak yang justru tumbang di tengah jalan karena lebih sibuk mengejar popularitas dibanding membangun pondasi bisnis yang kuat. Tak sedikit yang terburu-buru mengikuti program kementerian atau pitching ke investor, padahal model bisnisnya belum teruji,” jelasnya.

Bhima juga menyoroti tantangan eksternal seperti banjirnya produk impor yang menekan industri pengolahan lokal. Karena itu, penting bagi wirausaha untuk fokus pada ketahanan bisnis jangka panjang, bukan sekadar ekspansi cepat. “Endurance itu kunci. Bangun perlahan sambil terus belajar dan berinovasi,” tegasnya.

Menurut Bhima, ada sejumlah hal mendasar yang perlu dibenahi untuk mendorong pertumbuhan wirausaha di Indonesia. Pertama, kemudahan perizinan dan akses terhadap pembiayaan yang berkualitas. “Suku bunga harus lebih rendah dan proses pengajuan pembiayaan mesti lebih inklusif,” katanya.

Kedua, peningkatan keterampilan harus dilakukan secara berkelanjutan. Program pelatihan kewirausahaan tidak boleh berhenti di tahap formalitas. Harus ada tindak lanjut dan pendampingan yang konsisten. Bahkan, pendidikan kewirausahaan idealnya dimulai sejak jenjang sekolah dasar.

“Anak-anak harus diajarkan bagaimana mengembangkan ide, menyusun model bisnis, dan membangun koneksi sejak dini,” ujar Bhima. Dengan pendekatan yang menyeluruh dari hulu ke hilir, ekosistem kewirausahaan di Indonesia akan semakin kokoh dan inklusif.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Produser Manoj Punjabi Pastikan Film La Tahzan Tidak Mengulang Formula Ipar Adalah Maut

BERIKUTNYA

Hypereport: Urgensi & Konsep Proyek Penulisan Ulang Sejarah Nasional

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: