Ilustrasi seseorang mengalami trauma. (Sumber gambar: Mart Production/Pexels)

Kenali Trauma, Ciri-ciri & Langkah untuk Mengatasinya Menurut Psikiater

14 July 2025   |   06:00 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Trauma merupakan masalah kesehatan yang masih dialami banyak orang. Berdasarkan data International Association of Trauma Surgery and Intensive Care (IATSIC) dan WHO, setiap hari sekitar 16.000 orang meninggal karena trauma dan angka kecacatan permanen yang masih sangat tinggi. 
 
Dilaporkan bahwa angka kejadian trauma di dunia mencapai 16 persen dari seluruh kejadian penyakit, dan sekitar 90 persen dari kejadian trauma tersebut terjadi di negara miskin dan berkembang.
 
Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, di Indonesia, angka keseluruhan trauma yang terjadi belum dapat dipastikan secara jelas. Hal ini berkaitan dengan kondisi geografis yang luas, transportasi yang belum memadai, perekonomian yang rendah serta tingkat pendidikan yang rendah.  

Baca juga: Psikiater Jiemi Ardian Ajak Pembaca Pulih dari Trauma lewat Buku Terbaru
 
Psikiater Jiemi Ardian mengatakan sebagian besar kasus trauma yang dialami masyarakat Indonesia ialah karena kekerasan dan pengabaian orang tua, yang pada saat beranjak dewasa membuat mereka rentan mengalami cemas, depresi hingga masalah rumah tangga.
 
Selain itu, dia juga menyoroti banyaknya kejadian di Indonesia yang rentan menciptakan trauma struktural di kalangan masyarakat. Misalnya, soal banyaknya kasus kriminal yang dilakukan oleh kalangan pejabat namun lolos dari jerat hukum dan tidak menangkap pelakunya.
 
Kejadian-kejadian tersebut, katanya, bukan tidak mungkin membuat masyarakat yang berada di pihak korban merasa tidak aman hingga trauma lantaran tidak adanya kepastian hukum yang melindunginya. Mereka merasa tak berdaya berhadapan dengan ketidakadilan yang struktural. Beberapa contoh trauma struktural lainnya termasuk bias gender, deforestasi, pengambilan tanah adat, dan sebagainya.
 
"Secara struktural keadilan itu punya peran besar di dalam trauma, karena itu yang dalam menjadi 'penyembuh' trauma kolektif secara struktural. Kalau itu enggak ada, trauma kolektifnya kan tetap ada. Kalau trauma kolektifnya tetap ada, kita tetap bisa dapat kekerasan kapanpun," katanya saat ditemui Hypeabis.id di Jakarta, Minggu (13/7/2025).
 

Apa Itu Trauma & Ciri-cirinya? 

Menurut American Psychological Association (APA), trauma adalah pengalaman mengganggu yang dialami seseorang, sehingga mengakibatkan ketakutan yang signifikan, ketidakberdayaan, disosiasi, kebingungan, atau perasaan mengganggu lainnya yang cukup intens. Dalam jangka panjang, trauma menimbulkan efek negatif baik pada perilaku atau aspek fungsi lain seseorang.
 
Pengalaman traumatis bisa muncul dari berbagai peristiwa yang melampaui kapasitas untuk mencernanya secara emosional. Mulai dari yang disebabkan perilaku manusia misalnya pemerkosaan, kekerasan fisik, perang, atau kecelakaan, hingga peristiwa dari alam seperti gempa bumi, tsunami dan sebagainya. 
 
Pengalaman traumatis menggerus rasa aman seseorang di dunia dan menciptakan perasaan bahwa bencana bisa datang kapan saja. Trauma itu pun tersimpan dalam bentuk memori yang membentuk cara pandang seseorang terhadap realita yang ada di kehidupan sehari-hari.
 
Jiemi menjelaskan ciri-ciri untuk mendeteksi seseorang mengalami trauma bisa dilihat dari segi respons fisik dan emosional, ketika melihat, mendengar atau bahkan mengalami kembali memori traumatis yang pernah terjadi pada masa lalu. Seperti berdebar, denyut jantung meningkat, napas cepat, otot tegang, hingga pingsan. 
 
Sementara secara respons emosional, mereka akan mengalami emosi yang intens seperti sedih atau marah yang dipicu oleh hal tertentu, dan terkadang terjadi secara berubah-ubah. 
 
"Ada juga respon-respon emosi berupa penghindaran, kabur dari realita dan ada beberapa bentuk gejala yang bentuknya khas misalnya mimpi buruk atau flashback, sesuatu yang traumatik tadi muncul ke permukaan tanpa kita harapkan. Itu salah satu bentuk gejala khas yang jarang gangguan lain itu punya flashback," jelasnya.
 
Jiemi mengatakan ketika seseorang mengalami trauma, jangan sampai menganggapnya sebagai kelemahan apalagi sampai menyalahkan diri sendiri. Sebaliknya, yang harus dilakukan ialah menganggapnya sebagai bentuk respons terhadap suatu hal atau peristiwa, yang harus diselesaikan dan hanya bisa dilakukan oleh diri sendiri.
 
"Setelah dia sadar dan bertanggung jawab dengan traumanya, jika respons emosionalnya terlalu kuat, akan lebih baik ke psikolog-psikiater karena enggak bisa diselesaikan atau dipulihkan sendiri," ujarnya. 

Baca juga: Rintik Terakhir Sajikan Kisah Cinta & Trauma

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
Editor:

SEBELUMNYA

Menbud Fadli Zon Tetapkan 17 Oktober Jadi Hari Kebudayaan Nasional

BERIKUTNYA

Review Album Swag, Ketika Justin Bieber Menjawab Gosip dengan Musik

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga