Review Album Swag, Ketika Justin Bieber Menjawab Gosip dengan Musik
14 July 2025 |
09:00 WIB
1
Like
Like
Like
Tanpa peringatan, Justin Bieber kembali mengguncang dunia musik pop lewat peluncuran album ketujuhnya bertajuk Swag. Dirilis berbarengan dengan debut lini fesyen barunya, Skylrk, album ini datang seperti kejutan tanpa adanya promosi panjang, teaser, dan hanya satu pengumuman singkat beberapa jam sebelum rilis.
Tidak sekedar rilisan dadakan, Selama beberapa waktu terakhir, Bieber diam-diam membangun proyek ini bersama para produser kepercayaannya seperti Harv, Carter Lang (salah satu produser dan penulis lagu yang pernah bekerja dengan SZA), Eddie Benjamin, hingga warna musik dari Mk.gee dan Dijon yang terasa sangat berbeda.
Ada juga kolaborasi lintas genre dengan bebebrapa hiphop rap yang sedang naik daun seperti Lil B, Gunna, Sexyy Red, dan Cash Cobain, yang makin memperluas spektrum suara di dalam album tersebut.
Baca juga: Justin Bieber Comeback Lewat Album Anyar Swag
Melansir Variety, bagi sebagian penggemar, album ini adalah tanda kebangkitan. Bagi lainnya, skeptis pun tak terhindarkan. Akan tetapi kenyataannya, Swag berdiri di antara keduanya: ambisius tak selalu presisi, penuh insting tapi tetap terasa personal.
Bieber yang kini berusia 31 tahun, berada dalam posisi langka sebagai seorang pop star global yang bisa mengeksplorasi musik tanpa tekanan hit semata.
Sejak album Justice (2021), hidup pribadi Bieber berubah drastis. Dia menjadi seorang ayah, melepas manajer lamanya Scooter Braun, membatalkan tur globalnya, dan secara terbuka menghadapi masalah kesehatan, termasuk gangguan neurologis.
Isu kesehatan mentalnya pun kerap jadi tajuk utama media, terutama setelah sejumlah unggahan sosial media yang membingungkan dan kemunculan publik yang dinilai tak biasa. Dua momen viral itu kini justru disisipkan sebagai sampel dalam album barunya.
Di antara 21 lagu yang disuguhkan, kilasan paling jujur dari sisi pribadi Bieber justru datang lewat interlude bersama Druski—sosok komedian internet yang, anehnya, berperan sebagai suara akal sehat.
Di Therapy Session ketika ditanya soal citra dirinya di internet, Bieber menanggapi dengan getir: “Orang-orang terus bertanya apakah aku baik-baik saja… hingga membuatku merasa aku satu-satunya yang bermasalah, seolah semua orang lain sempurna," katanya.
Namun secara keseluruhan, Swag lebih banyak bicara tentang cinta—terutama untuk istrinya, Hailey, dan anak mereka, Jack. Ini menjadi semacam surat cinta panjang pada rumah tangga, kesetiaan, dan keintiman.
Dalam "Walking Away", misalnya, dia mengakui dirinya belum jadi pasangan yang sempurna, tapi berkomitmen untuk terus tumbuh. Sedangkan di "Too Long" dan "Go Baby", dia justru memuja sang istri, bahkan menyelipkan pujian untuk bisnis kosmetiknya.
Secara musikal, Swag mengambil inspirasi dari R&B era ’80-an akhir hingga pop awal ’90-an. Vokal Bieber tetap jadi pusat gravitasi, membungkus ritme-ritme lembut dan balada bergaya Usher.
Lagu pembuka "All I Can Take" penuh energi drum syncopated yang mengingatkan pada Michael Jackson, sementara "Daisies" dan "Yukon" menghadirkan sentuhan gitar khas Mk.gee dan atmosfer R&B modern yang lapang.
Walau tak selalu konsisten—misalnya masuknya Sexyy Red di Sweet Spot yang agak mengganggu nuansa halus—album ini justru kuat di bagian-bagian yang membiarkan Bieber bernyanyi tanpa banyak distraksi. Salah satunya "Glory Voice Memo", potongan suara mentah dari sesi rekaman yang terasa sangat tulus.
Belum dapat dipastikan apakah album Swag ini hanya pembuka menuju rilisan pop besar berikutnya seperti yang dibisikkan rumor. Namun, satu hal pasti Justin Bieber masih berani bereksperimen, menabrak batasan nyaman, dan tak berhenti mencari kedalaman artistik yang lebih otentik.
Menurut Genhype yang Beliebers, apa pendapat kalian tentang album ini?
Baca juga: Fakta-fakta Justin Bieber Bakal Comeback 2025, Masalah Keuangan hingga Rilisan Baru
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Tidak sekedar rilisan dadakan, Selama beberapa waktu terakhir, Bieber diam-diam membangun proyek ini bersama para produser kepercayaannya seperti Harv, Carter Lang (salah satu produser dan penulis lagu yang pernah bekerja dengan SZA), Eddie Benjamin, hingga warna musik dari Mk.gee dan Dijon yang terasa sangat berbeda.
Ada juga kolaborasi lintas genre dengan bebebrapa hiphop rap yang sedang naik daun seperti Lil B, Gunna, Sexyy Red, dan Cash Cobain, yang makin memperluas spektrum suara di dalam album tersebut.
Baca juga: Justin Bieber Comeback Lewat Album Anyar Swag
Melansir Variety, bagi sebagian penggemar, album ini adalah tanda kebangkitan. Bagi lainnya, skeptis pun tak terhindarkan. Akan tetapi kenyataannya, Swag berdiri di antara keduanya: ambisius tak selalu presisi, penuh insting tapi tetap terasa personal.
Bieber yang kini berusia 31 tahun, berada dalam posisi langka sebagai seorang pop star global yang bisa mengeksplorasi musik tanpa tekanan hit semata.
Sejak album Justice (2021), hidup pribadi Bieber berubah drastis. Dia menjadi seorang ayah, melepas manajer lamanya Scooter Braun, membatalkan tur globalnya, dan secara terbuka menghadapi masalah kesehatan, termasuk gangguan neurologis.
Isu kesehatan mentalnya pun kerap jadi tajuk utama media, terutama setelah sejumlah unggahan sosial media yang membingungkan dan kemunculan publik yang dinilai tak biasa. Dua momen viral itu kini justru disisipkan sebagai sampel dalam album barunya.
— Justin Bieber (@justinbieber) July 12, 2025
Di antara 21 lagu yang disuguhkan, kilasan paling jujur dari sisi pribadi Bieber justru datang lewat interlude bersama Druski—sosok komedian internet yang, anehnya, berperan sebagai suara akal sehat.
Di Therapy Session ketika ditanya soal citra dirinya di internet, Bieber menanggapi dengan getir: “Orang-orang terus bertanya apakah aku baik-baik saja… hingga membuatku merasa aku satu-satunya yang bermasalah, seolah semua orang lain sempurna," katanya.
Namun secara keseluruhan, Swag lebih banyak bicara tentang cinta—terutama untuk istrinya, Hailey, dan anak mereka, Jack. Ini menjadi semacam surat cinta panjang pada rumah tangga, kesetiaan, dan keintiman.
Dalam "Walking Away", misalnya, dia mengakui dirinya belum jadi pasangan yang sempurna, tapi berkomitmen untuk terus tumbuh. Sedangkan di "Too Long" dan "Go Baby", dia justru memuja sang istri, bahkan menyelipkan pujian untuk bisnis kosmetiknya.
Secara musikal, Swag mengambil inspirasi dari R&B era ’80-an akhir hingga pop awal ’90-an. Vokal Bieber tetap jadi pusat gravitasi, membungkus ritme-ritme lembut dan balada bergaya Usher.
Lagu pembuka "All I Can Take" penuh energi drum syncopated yang mengingatkan pada Michael Jackson, sementara "Daisies" dan "Yukon" menghadirkan sentuhan gitar khas Mk.gee dan atmosfer R&B modern yang lapang.
Walau tak selalu konsisten—misalnya masuknya Sexyy Red di Sweet Spot yang agak mengganggu nuansa halus—album ini justru kuat di bagian-bagian yang membiarkan Bieber bernyanyi tanpa banyak distraksi. Salah satunya "Glory Voice Memo", potongan suara mentah dari sesi rekaman yang terasa sangat tulus.
Belum dapat dipastikan apakah album Swag ini hanya pembuka menuju rilisan pop besar berikutnya seperti yang dibisikkan rumor. Namun, satu hal pasti Justin Bieber masih berani bereksperimen, menabrak batasan nyaman, dan tak berhenti mencari kedalaman artistik yang lebih otentik.
Menurut Genhype yang Beliebers, apa pendapat kalian tentang album ini?
Baca juga: Fakta-fakta Justin Bieber Bakal Comeback 2025, Masalah Keuangan hingga Rilisan Baru
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.