Psikiater Jiemi Ardian Ajak Pembaca Pulih dari Trauma lewat Buku Terbaru
13 July 2025 |
16:11 WIB
Psikiater sekaligus penulis Jiemi Ardian meluncurkan buku anyar tentang kesehatan mental berjudul Pulih dari Trauma. Seperti judulnya, buku ini mengajak pembaca untuk lebih kenal dengan trauma, sekaligus mencari tahu bagaimana langkah-langkah untuk memulihkannya.
Baca juga: Penulis Brian Khrisna Rilis Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Buku setebal 372 halaman tersebut mencoba memberikan 'pencerahan' tentang berbagai pemahaman yang kurang tepat tentang trauma. Jiemi menjelaskan bahwa trauma kerap disalahpahami sebagai luka permanen, padahal sejatinya trauma tersimpan dalam bentuk memori yang bisa diolah dan diproses ulang.
Trauma bukan hanya tentang kejadiannya, tetapi juga tentang bagaimana respons tubuh dan pikiran terhadap peristiwa tersebut. Trauma tersimpan dalam bentuk memori, dan memori itulah yang membentuk cara pandang seseorang terhadap realita yang ada di kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Psikiater Andreas Kurniawan Hadir dengan Buku Baru tentang Keinginan dan Penyesalan
Baca juga: Psikiater Andreas Kurniawan Hadir dengan Buku Baru tentang Keinginan dan Penyesalan

Acara peluncuran buku Pulih dari Trauma karya Jiemi Ardian di Gramedia Jalma, Jakarta, Minggu (13/7/2025). (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Lewat buku Pulih dari Trauma, Jiemi memperkenalkan konsep dan praktik Trauma Processing Therapy (TPT), yang dirancang untuk membantu seseorang memulihkan luka batin secara menyeluruh, bukan cuma dengan bercerita, tapi dengan mengolah kembali memori yang menyakitkan secara aman dan terarah.
TPT merupakan metode yang dikembangkan sendiri oleh Jiemi berdasarkan praktik klinisnya. Psikiater jebolan Universitas Sebelas Maret ini menawarkan cara yang terstruktur dan aplikatif untuk membantu individu baik yang mengalami trauma maupun para pendamping, dalam proses pemulihan psikologis.
Selain mengupas teori dan konsep, buku ini juga memuat latihan-latihan singkat yang dapat digunakan sebagai panduan awal bagi pembaca. Meski demikian, Jiemi tetap menyarankan pembaca untuk berkonsultasi dengan profesional jika merasa proses membaca terlalu berat.
"Buku ini menggambarkan secara deskriptif apa itu trauma secara sudut pandang ilmiah, sehingga seseorang tidak kebingungan bahwa apa rasa sakitnya yang dirasakan itu nyata atau tidak, benar atau tidak, valid atau tidak. Dan bagaimana juga menemui rasa sakit ke dalam [trauma] itu untuk memulihkannya," katanya saat ditemui di Gramedia Jalma, Jakarta, Minggu (13/7/2025).

(Sumber gambar: Gramedia Pustaka Utama).
Buku Pulih dari Trauma terdiri dari 8 bab. Misalnya, pada bab awal yang diberi judul "Jejak Masa Lalu", sang penulis memberikan penjelasan menyeluruh tentang berbagai pengertian trauma, dan membedakan mana yang benar-benar menggambarkan esensinya.
Lalu ada juga bab "Cerita Trauma yang Membingungkan". Dalam bab ini, Jiemi menjelaskan bahwa penyintas trauma memang butuh dukungan emosional, karena pengalaman mereka seringkali dikecilkan, disuruh cepat move on, atau bahkan disalahkan. Meski demikian, mendengarkan saja tidak cukup untuk menyembuhkan.
Selain itu, ada bab "Trauma dan Relasi", yang menjelaskan konsep repetition compulsion, yaitu dorongan bawah sadar untuk terus mengulang pengalaman traumatis, dengan harapan bisa “memperbaiki” masa lalu yang belum tuntas.

Acara peluncuran buku Pulih dari Trauma karya Jiemi Ardian di Gramedia Jalma, Jakarta, Minggu (13/7/2025). (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Menurut Jiemi, trauma bukan sesuatu yang ada dan mengambil seluruh ruang dalam diri seseorang, melainkan hanya sebagiannya. Oleh karena itu, hal yang harus dilakukan adalah menemukan rasa sakit yang menjadi sumber trauma seseorang, agar rasa itu bisa perlahan mereda bahkan hilang dalam memori.
Dengan harapan, memori traumatik yang terekam dalam pikiran bisa kehilangan daya emosinya. Sebab, paparnya, memori traumatik punya muatan emosional yang bisa membuat seseorang merasa terganggu. Sehingga, ketika emosinya bisa dikurangi atau diredam, maka memori traumatik yang ada tidak lagi mengganggu dan membayangi di masa depan.
Dalam menyusun buku ini, Jiemi menghabiskan waktu selama tiga tahun. Hal itu dikarenakan dia membutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses telaah literatur, yang dia jadikan sumber rujukan dalam menulis buku Pulih dari Trauma. Selain itu, dia juga memasukkan beberapa cerita pengalamannya dalam menangani pasiennya.
"Jadi sebagian besar waktunya justru mungkin bukan di area menulisnya, tapi di area telaah literaturnya. Jadi saya membaca, merenung, menuliskan ulang, jadi prosesnya memang banyak justru di riset," imbuhnya.
Jiemi pun berharap dengan adanya buku Pulih dari Trauma, pembaca dapat lebih memahami trauma dan tidak menganggapnya sebagai sebuah kesalahan atau kelemahan diri. Termasuk, tidak membuat trauma itu harus ada dan dibawa seumur hidup, namun bisa diupayakan untuk mencapai kondisi pulih.
Baca juga: Penulis Brian Khrisna Rilis Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.