Buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya karya Andreas Kurniawan (Sumber Foto: Gramedia)

Psikiater Andreas Kurniawan Hadir dengan Buku Baru tentang Keinginan dan Penyesalan

09 February 2025   |   17:30 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Psikiater sekaligus penulis buku, Andreas Kurniawan baru saja meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya. Acara peluncuran buku berlangsung pada Minggu (9/2/2025) di Gramedia Matraman, Jakarta.

Adapun buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya, merupakan karya terbarunya setelah merilis buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring. Menariknya, sampul dari kedua buku tersebut terhubung.

Baca juga: Fotografer Eddy Hasby Luncurkan Buku Foto East Timor: Gate of Redemption 

Pada buku pertamanya memperlihatkan potret seorang pria yang sedang mencuci piring di dapur, ditemani kucing dan anjing. Sementara buku keduanya, seorang wanita duduk sambil memakan semangka di ruangan yang bersebelahan dengan dapur. Tampak pada jendelanya terlihat halaman dengan bunga matahari yang merekah cantik.

Peluncuran buku diisi dengan sesi talkshow eksklusif bersama penulis yang dipandu oleh Nathalie Indry, selanjutnya diikuti dengan sesi tanya jawab interaktif dan acara tanda tangan. Buku ini mengangkat tema mendalam tentang unfulfilled desire alias keinginan yang tidak terpenuhi, kekecewaan terhadap hidup, konsep ketidaksempurnaan, serta penyesalan telah dilahirkan di dunia.

Ditulis dengan gaya narasi yang ringan dan bahasa yang santai, buku ini menawarkan perspektif unik yang berbeda dari kebanyakan buku nonfiksi pada umumnya. Beberapa bagian dalam buku ini juga disajikan dalam bentuk dialog dengan tokoh tertentu, sehingga memberikan pengalaman membaca yang lebih mendalam dan mengalir.

Melalui sesi talkshow, Andreas berbagi lebih dalam mengenai gagasan di balik buku ini, serta bagaimana dia ingin membantu pembaca memahami sisi lain dari ketidaksempurnaan dalam hidup. Tak sedikit orang yang ingin terlahir kembali di kehidupan berikutnya, menurutnya ini mencerminkan penyesalan mendalam pada diri manusia dan ketidakmampuan untuk mengubahnya.

 

Peluncuran buku Andreas Kurniawan, Minggu (9/2/2025). (Sumber Foto: Hypeabis.id/Kintan Nabila)

Peluncuran buku Andreas Kurniawan, Minggu (9/2/2025). (Sumber Foto: Hypeabis.id/Kintan Nabila)

 

Sebelum acara dimulai, pengunjung yang hadir diminta untuk menuliskan jawaban atas pertanyaan "Seandainya terlahir kembali di kehidupan berikutnya, kamu ingin menjadi apa?". Penulis kemudian membacakan beberapa jawaban yang dipilih secara acak, sekaligus membagikan pandangannya.

Menariknya, banyak yang ingin terlahir kembali menjadi wujud aneh dan tak terpikirkan sebelumnya, seperti batu, kucing, bunga matahari, bahkan semangka. Ada yang ingin menjadi ubur-ubur, karena bisa melayang bebas tanpa tekanan atasan dan ekspektasi sosial. Ada juga yang ingin menjadi ikan mas koki karena memorinya hanya bertahan lima detik, jadi tidak akan overthinking.

Suatu hari, seorang pasien perempuan Andreas mengatakan bahwa dia ingin terlahir kembali menjadi bunga matahari. Terdengar sangat indah, ya? Tapi, di sesi berikutnya, dia merevisi pendapatnya. "Aku ingin menjadi pohon semangka di kehidupan berikutnya." Andreas pun bertanya-tanya, kehidupan seperti apa yang dia alami sampai berpikir lebih baik menjadi pohon semangka?

"Biasanya kita lihat semangka sudah dalam bentuk buah dan tersaji untuk langsung dimakan, sebelum menulis buku ini saya sendiri juga enggak tahu pohonnya seperti apa," ujar Andreas.

Lebih lanjut dia memaparkan, rupanya semangka adalah tanaman merambat dan bukan pohon. Ada orang yang ingin terlahir kembali jadi pohon semangka yang walaupun orang-orang tidak banyak yang tahu wujudnya seperti apa, tapi tanaman ini bisa memberikan manfaat untuk banyak orang.

Andreas sendiri ingin menjadi pohon pinus di kehidupan berikutnya. Gagasan ini muncul setelah dia liburan ke hutan pinus di Bandung untuk istirahat sejenak mencari udara segar setelah bergelut dengan cuaca Jakarta yang panas di kesehariannya. Menurutnya pohon pinus terlihat tinggi dan keren, serta satu pohon dan pohon lainnya terlihat berjarak yang dianalogikan olehnya seperti social distancing.

"Pohon pinus terlihat sangat tinggi, tapi ini bukan berarti saya sombong, tapi dari ketinggian tersebut saya ingin melihat dunia lebih luas dan lebih banyak lagi," katanya.

Pinus juga berjarak antar pohonnya, ini dapat diartikan setiap orang tentu butuh space atau ruang untuk dirinya sendiri. Dalam kesehariannya, Andreas sendiri banyak berinteraksi dengan banyak orang, termasuk pasien-pasiennya. Tentu lebih baik untuknya dan semua orang di dunia ini untuk punya ruang bagi diri sendiri supaya tidak kehilangan dirinya dan dunianya.

Sebagai penulis, Andreas menyampaikan bahwa buku ini adalah buku tentang kekecewaan, penyesalan, dan ketidaksempurnaan. Cocok untuk kalian yang sering dituduh kurang bersyukur, yang suka duduk di kursi minimarket di akhir hari, yang ingin belajar menanam bunga matahari, dan tentunya yang masih mencari arti dari kata kebahagiaan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Fotografer Eddy Hasby Luncurkan Buku Foto East Timor: Gate of Redemption 

BERIKUTNYA

Serba-serbi Cek Kesehatan Gratis yang Mulai Dilakukan 10 Februari 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga