Ilustrasi (sumber : Tuur Tisseghem/pedes)

Tak Sekadar Tempat Belanja, Ini 5 Strategi Mall Agar Tetap Eksis

12 July 2025   |   07:00 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Tekanan ekonomi dan perubahan pola konsumsi mendorong pusat perbelanjaan di Jakarta untuk berpikir ulang soal fungsi bisnisnya pada era pascapandemi. Mal dan pusat perbelanjaan tak bisa lagi mengandalkan transaksi belanja secara tradisional semata, tetapi perlu meningkatkan daya tariknya dengan pendekatan baru.

Di tengah meningkatnya dominasi e-commerce dan menurunnya daya beli masyarakat, pusat perbelanjaan dituntut menjadi lebih dari sekadar tempat belanja, harus menjadi ruang sosial, destinasi gaya hidup, hingga simbol pengalaman kota.

Baca juga: Monster Playground, Karya Seniman Darbotz Bertengger di BXc Mall Bintaro

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menyebut bahwa tantangan yang dihadapi mall hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan satu dekade lalu.

"Mall harus mampu beradaptasi dengan dua tekanan sekaligus yakni ekonomi yang belum stabil dan perubahan gaya hidup konsumen. Strategi ke depan bukan sekadar soal diskon, tapi bagaimana menciptakan experience yang tak bisa digantikan oleh e-commerce,” ujar Alphonzus.

Lalu, strategi apa saja yang dilakukan mall di Jakarta untuk bertahan sekaligus menarik minat konsumen di tengah tantangan ekonomi dan gempuran digital? Berikut lima di antaranya:


1. Rebranding dan Repositioning

Banyak mal memilih melakukan rebranding sebagai langkah awal untuk menyegarkan citra. Bukan sekadar ganti nama atau logo, tetapi juga penyesuaian konsep dengan karakter dan kebutuhan masyarakat saat ini. Seperti yang dilakukan Mal Atrium Senen yang menegaskan kembali konsep heritage modern khas kawasan Segitiga Emas Senen.

Tak hanya mengganti nama dari Millennium Mall menjadi Mal Atrium Senen, Mall yang dikelola oleh PT Nusa Mandiri Properti ini juga merombak tampilan hingga identitas merek secara menyeluruh.

"Transformasi ini bukan sekadar perubahan nama, tetapi juga pembaruan identitas dan semangat kami dalam mengembangkan pusat perbelanjaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat urban masa kini,” ujar Elly Christin Direktur PT Nusa Mandiri Properti. 


2. Renovasi Fasilitas Publik dan Tata Ruang

Tak sedikit mal yang mulai memperbarui fasilitas seperti toilet, lift, eskalator, hingga area publik sehingga lebih nyaman, estetik, dan inklusif. Pasalnya, kenyamanan dan kebersihan kini menjadi nilai jual tersendiri, terutama untuk menarik keluarga dan pengunjung yang datang bukan hanya untuk belanja, tapi juga rekreasi.

"Mall tidak bisa hanya sekadar mengandalkan penjualan untuk belanja karena kalau hanya itu, jelas kalah dibandingkan ecommerce. Harus ada sesuatu yang menjadi nilai lebih," ujar Alphonzus. 

Ini sejalan juga dengan laporan terbaru dari Colliers yang menyebutkan bahwa mall saat ini lebih banyak yang melalukan renovasi dan peremajaan. 


3. Penyesuaian Tenant Mix dan Fokus ke Produk Harga Terjangkau

Menurut Alphonzus pola belanja masyarakat saat ini sudah berubah. Konsumen lebih selektif dan sensitif terhadap harga. Tenant dengan produk harga satuan rendah atau value for money justru lebih berkembang. Beberapa mall memilih menghadirkan merek lokal, UMKM, hingga kuliner kekinian dengan harga ramah kantong untuk merespons daya beli yang menurun.

Data Colliers juga menunjukkan bahwa peritel F&B atau kuliner masih terbilang cukup antusias melakukan ekspansi di pusat perbelanjaan. Selain dari sisi kuliner, pola belanja masyarakat juga mulai bergeser untuk memenuhi kebutuhan hobi dan gaya hidup. 

 
4. Menonjolkan Fungsi Sosial Mall sebagai Ruang Interaksi

Mall mengandalkan kekuatan yang tidak dimiliki e-commerce yakni interaksi sosial langsung. Setelah pandemi, kebutuhan untuk berkumpul dan bersosialisasi meningkat. Mall mengadaptasi hal ini lewat ruang terbuka, event komunitas, hingga spot nongkrong kekinian yang mendorong keterlibatan emosional konsumen.

“Mal adalah tempat di mana manusia bisa merasa hadir, berjalan, tertawa, dan menjadi bagian dari kehidupan nyata bukan hanya dunia maya,” kata Alphonzus.

Tak heran bila keberadaan pusat ritel berukuran kecil yang mengusung konsep gaya hidup dan ruang terbuka makin menjamur khususnya di wilayah Bodetabek. 


5. Kolaborasi dengan Pemerintah dan Komunitas

Beberapa mall membentuk sinergi strategis dengan pemerintah daerah dan asosiasi industri. Seperti Mal Atrium Senen yang dipercaya menjadi tuan rumah penutupan Festival Jakarta Great Sale 2025 sebuah bukti kepercayaan atas potensi kawasan tersebut sebagai pusat aktivitas belanja dan hiburan kota.

Di tengah kondisi saat ini, APPBI memproyeksikan industri pusat perbelanjaan akan tetap tumbuh pada 2025, meski tidak signifikan. Faktor pendorongnya bukan hanya Ramadan atau musim liburan, tapi kemampuan mall dalam menciptakan pengalaman yang dibutuhkan masyarakat urban yaini menciptakan tempat berinteraksi, menikmati waktu luang, dan merasa terhubung.

Dengan mengedepankan inovasi, fleksibilitas, dan keberanian membaca tren, mall di Jakarta terus berevolusi agar tak hanya menjadi tempat berbelanja, tetapi juga pusat kehidupan kota yang terus bergerak.
 

SEBELUMNYA

Riak Laut Kei Imazu: Saat Mitos, Sejarah & Ekologi Berpadu dalam Seni Rupa

BERIKUTNYA

Film Horor Labinak: Mereka Ada Di Sini, Bawa Teror Keluarga Kanibal

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga