Sejumlah pengunjung menikmati pameran tunggal Kei Imazu, bertajuk The Sea is Barely Wrinkled (Laut Nyaris Tak Beriak) di Museum MACAN, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Riak Laut Kei Imazu: Saat Mitos, Sejarah & Ekologi Berpadu dalam Seni Rupa

11 July 2025   |   21:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Lewat guratan kanvas, dan instalasi Kei Imazu merangkai cerita panjang sejarah, mitos, kolonialisme, sampai isu ekologi yang terus berubah. Semua refleksi itu dirangkum dalam pameran tunggalnya bertajuk The Sea is Barely Wrinkled (Laut Nyaris Tak Beriak) di Museum MACAN, Jakarta, hingga 5 Oktober 2025.

Seniman asal Jepang yang kini menetap di Bandung ini, mengupas lapis-lapis narasi yang jarang terdengar—tentang laut, sejarah, hingga alam yang tak pernah sepenuhnya bisa ditaklukkan. Judul pamerannya terinspirasi dari novel Mr. Palomar (1983) karya Italo Calvino, di mana laut jadi simbol tenang di permukaan tapi penuh arus dan misteri di kedalaman.

Baca juga: Lebih dari 50 Galeri Siap Ramaikan ArtMoments Jakarta 2025, Animo Tahun Ini Tinggi

Begitu melangkah ke ruang pamer, pengunjung seolah tenggelam dalam dunia bawah laut. Langit-langit galeri disulap dengan kain perca transparan bergradasi biru pucat sampai nila, menyerupai riak ombak yang terus bergerak. Pencahayaan remang menciptakan suasana seperti sinar matahari yang tembus ke dasar laut, mistis, magis, dan membetot imajinasi.

Di ambang pintu masuk, sosok Nyai Roro Kidul langsung mencuri perhatian. Sang Penguasa Laut Selatan dihadirkan dalam bentuk instalasi tiga dimensi: seekor ular raksasa dengan tubuh berkelok dan tangan menjulur seolah meraih sesuatu yang tak tampak. 

Sisik ular digambarkan lewat motif batik parang hijau, salah satu motif Jawa tertua yang mewakili ombak samudra. Setiap lengkungan seolah menuturkan kisah spiritual dan animisme Nusantara dari masa prasejarah sampai Mataram Islam.

Lewat figur mitologis ini, Imazu merajut mitos dengan tragedi sejarah seperti tenggelamnya kapal VOC di Morning Reef, Australia, tahun 1629, ketika berlayar menuju Hindia Belanda. Baginya, mitos bukan sekadar cerita rakyat, tapi suara-suara tersembunyi yang menyingkap kondisi pesisir Jakarta hari ini: banjir, penurunan tanah, sampai tekanan ekologis lain yang makin genting.

“Mitos juga hadir sebagai suara yang menyampaikan narasi-narasi tersembunyi itu. Saya berupaya memberi wujud pada suara yang nyaris tak terdengar,” kata Imazu.
 

Seniman Kei Imazu (kanan). (Sumber gambar: Hypeabis.id/ Robby Fathan)

Seniman Kei Imazu (kanan). (Sumber gambar: Hypeabis.id/ Robby Fathan)


Beberapa langkah dari instalasi Nyai Roro Kidul, dua lukisan besar berjudul Harbor View (2025) dan Sunda Kelapa (2024) berdiri megah. Kedua lukisan ini membentangkan potongan sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa dalam layer visual yang berbeda namun masih padu.

Kedunya merunut citraan rempah pala dan cengkeh—pemicu bangsa Eropa datang ke Nusantara—sampai kerangka makhluk purba dan artefak kolonial. Semua elemen saling bertaut, memetakan jalur perdagangan, pergerakan manusia, dan jejak ekologi dari masa ke masa.

Karya pamungkas berjudul The Sea is Barely Wrinkled (2025) tampil bak lanskap arkeologis bawah laut. Di palet biru yang tenang, Imazu menorehkan serpihan artefak kapal karam Batavia sebagai simbol ambisi kolonial yang karam di tangan alam. Karya ini seolah menegaskan satu hal: manusia tak pernah benar-benar bisa menguasai laut.

“Laut jadi titik temu antara sejarah kolonial dan geologi purba,” jelas Venus Lau, Direktur Museum MACAN. Menurutnya, Imazu ingin mengajak publik merasakan waktu dan sejarah sebagai sesuatu yang cair, terus bergerak, hidup, dan saling berkelindan, layaknya lautan.

Imazu juga menawarkan ‘peta waktu’ pendekatan visual yang melebur masa lalu, masa kini, dan masa depan ke dalam satu lanskap narasi utuh. “Pameran ini membuka ruang kontemplasi untuk merenungi relasi kita dengan alam, juga sejarah berlapis yang sering kita lupakan,” lanjut Venus.
 

ahah

Sejumlah pengunjung menikmati pameran tunggal Kei Imazu, bertajuk  The Sea is Barely Wrinkled (Laut Nyaris Tak Beriak) di Museum MACAN, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
 

Di jantung ruang pamer, Genhype juga akan menjumpai instalasi Batavia Ship. Rangka besi besar berdiri melengkung seperti tulang punggung kapal yang patah diterpa ombak dan waktu. Kapal Batavia sendiri tenggelam di Houtman Abrolhos, Australia Barat, dan reruntuhannya ditemukan pada 1963.

Di sudut terakhir, Slanted Portico of the Batavia Port (2025) menghadirkan interpretasi gapura Waterpoort Batavia Lama yang semula dirancang dari 137 balok batu pasir. Balok-balok ini dibawa dari Belanda pada 1628 sebagai pemberat kapal Batavia, kapal yang tak pernah sampai tujuan karena karam. 

Dalam tangan Imazu, gapura itu berdiri miring di atas tumpukan pasir pantai, mengingatkan bahwa kuasa manusia bisa runtuh di hadapan samudra dan waktu. Lewat pameran ini, Imazu juga merefleksikan bahwa laut bukan hanya permukaan biru tenang, ia adalah ruang berlapis yang merekam tragedi, mitos, hingga krisis lingkungan yang tak kunjung usai.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Film Lyora: Penantian Buah Hati Rilis Official Poster dan Trailer

BERIKUTNYA

Tak Sekadar Tempat Belanja, Ini 5 Strategi Mall Agar Tetap Eksis

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga