foto kegiatan Komunitas Historia Indonesia (sumber : KHI)

Komunitas Historia Indonesia Ajak Masyarakat Jelajahi Sejarah dengan Cara Menyenangkan

10 July 2025   |   21:30 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Mempelajari tentang sejarah mungkin sering dianggap sebagai kegiatan membosankan bagi sebagian orang karena identik dengan hafalan, ruang museum yang sunyi, atau cerita panjang yang sulit dicerna. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan tersebut mulai berubah menjadi lebih menyenangkan.

Salah satu penggerak di balik perubahan cara pandang ini adalah Komunitas Historia Indonesia (KHI). Didirikan pada tahun 2003 oleh Asep Kambali, KHI hadir dari kegelisahan sang pendiri mengenai pandangan masyarakat yang menilai pembelajaran sejarah atau wisata sejarah terasa kurang mengasyikan.

“Akhirnya saya membentuk komunitas ini dengan tujuan untuk mencari formulasi bagaimana menjadikan sejarah itu menarik,” ujar Asep.

Baca Juga: Fadli Zon Janji Penulisan Sejarah Nasional Lebih Terbuka & Berbasis Temuan Baru

Namun, seiring waktu tujuan tersebut berubah menjadi sesuatu yang lebih besar. Sejak 2006, KHI mengusung visi baru yakni menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme melalui kesadaran sejarah.

Untuk mencapai tujuan tersebut, KHI mendesain pengalaman sejarah melalui konsep re-edutainment yang mengombinasikan antara edukasi, rekreasi, dan hiburan. Mereka mengajak publik menyusuri situs bersejarah secara langsung mulai dari napak tilas di Kota Tua, menyusuri lorong museum, hingga ekspedisi ke pulau-pulau bersejarah.

“Kalau membawa buku atau mendengarkan guru di kelas itu membosankan. Namun kalau melihat langsung situs atau benda sejarah, akan timbul rasa ingin tahu dan empati,” jelas Asep. Dari sana tumbuh rasa memiliki, dan dari kepemilikan itu, muncullah kebanggaan sebagai bangsa.

KHI tak ingin wisata sejarah hanya menjadi tren sesaat. Melalui pendekatan pendidikan berbasis tiga ranah yakni kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (tindakan), mereka mendorong perubahan nyata. “Setelah tahu tempat ini bersejarah, akan tumbuh kesadaran untuk menjaganya,” kata Asep.

Bahkan, banyak peserta yang kemudian tergerak membuat aksi seperti membersihkan situs, membuat penanda, hingga ikut mengadvokasi pelestarian.

Meski antusiasme publik makin besar terhadap wisata sejarah tetapi tantangan tetap ada. Situs sejarah yang terbengkalai, minimnya perhatian pemerintah, hingga gedung-gedung tua yang digusur demi pembangunan, masih jadi persoalan. “Banyak museum ditinggalkan dan sejarah dilupakan,” ujar Asep.

Namun KHI tak menyerah. Mereka menjalin kolaborasi dengan sektor swasta, kampus, dan memanfaatkan kekuatan digital untuk menyebarkan semangat ini lebih luas. Salah satu kanalnya adalah situs komunitashistoria.id dan akun Instagram @komunitashistoria yang menjadi media kampanye sejarah dalam format yang segar dan mudah dicerna.

“Kami membutuhkan ruang-ruang sinergi dan kolaboratif agar bisa terus menyebarluaskan dampak,” ungkap Asep.

Kini, Komunitas Historia Indonesia bukan hanya dikenal di dalam negeri. Mereka telah memiliki lebih dari 27.000 anggota yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk luar negeri seperti Amerika, Paris, Italia, Jepang, hingga Belanda. Dengan jejaring ini, semangat merawat sejarah dan kebudayaan Indonesia ikut dibawa ke panggung global.

Di tengah era disinformasi dan derasnya arus budaya global, komunitas seperti KHI mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu yang usang. Ia adalah identitas, fondasi, dan sumber kekuatan untuk membentuk masa depan.

“Kami ingin menjadikan sejarah sebagai kekuatan yang membangun, bukan sekadar nostalgia,” tutup Asep.

Baca Juga: Jakarta di Simpang Sejarah Tenggelam, Tumbuh, dan Terus Bergerak

SEBELUMNYA

Lima Cara Hindari Jebakan Gaya Hidup Doom Spending

BERIKUTNYA

The Panturas Kembali dengan Maxi Single Baru, Siap Guncang Tur Asia Perdana

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga