The Panturas Kembali dengan Maxi Single Baru, Siap Guncang Tur Asia Perdana
10 July 2025 |
22:00 WIB
Band surf-rock asal Jatinangor The Panturas merilis maxi single bertajuk “Knights of Jahannam / Soma Gospel” di bawah label mereka sendiri, Los Panturas Records. Lagu ini menjadi gebrakan baru dari The Panturas untuk menjangkau audiens global, menuju tur Asia perdana mereka.
Dua lagu dalam maxi-single ini, “Knights of Jahannam” dan “Soma Gospel”, bukan sekadar kelanjutan dari karya-karya sebelumnya. Rilisan ini menjadi penanda era eksplorasi baru bagi The Panturas, yang selama ini dikenal dengan gaya surf rock berbalut sentuhan Nusantara dan kekayaan lokal.
Surya Fikri alias Kuya, sang drummer, mengatakan seluruh materi dalam maxi-single ini benar-benar ditulis dari nol dan menjadi semacam “laboratorium eksplorasi” musik baru bagi The Panturas. Rilisan ini juga menjadi bukti eksplorasi mereka yang ingin mencoba keluar dari zona nyaman.
Bagi para personel, Tur Asia 2025 ini juga membuka ruang mimpi yang lebih luas, yakni permulaan dari ambisi yang lebih besar. Acin menyebut Taiwan dan Filipina sebagai negara yang paling bikin penasaran karena menurut mereka negara tersebut punya skena musik independen yang dinamis. “Kami pengen ketemu teman-teman musisi di sana, belajar dan ngebuka kemungkinan kolaborasi,” ucapnya.
Dua lagu dalam maxi-single ini, “Knights of Jahannam” dan “Soma Gospel”, bukan sekadar kelanjutan dari karya-karya sebelumnya. Rilisan ini menjadi penanda era eksplorasi baru bagi The Panturas, yang selama ini dikenal dengan gaya surf rock berbalut sentuhan Nusantara dan kekayaan lokal.
Surya Fikri alias Kuya, sang drummer, mengatakan seluruh materi dalam maxi-single ini benar-benar ditulis dari nol dan menjadi semacam “laboratorium eksplorasi” musik baru bagi The Panturas. Rilisan ini juga menjadi bukti eksplorasi mereka yang ingin mencoba keluar dari zona nyaman.
“Kami benar-benar menantang diri kami sendiri. Musik, lirik, dan konsep ini benar-benar baru, lahir dari proses workshop yang intens. Bahkan saya cukup kaget ternyata output-nya bisa seperti ini,” ujar Kuya dalam keterangan resminya, Kamis (10/7/2025).

Cover artwork maxi single “Knights of Jahannam / Soma Gospel”. (Sumber gambar: Los Panturas Production)
Vokalis sekaligus gitaris The Panturas, Abyan Zaki alias Acin, menambahkan salah satu inspirasi utama dari dua lagu ini adalah pengalaman spiritual dan kekacauan kolektif yang para personel alami dalam beberapa tahun terakhir. "Lagu-lagu ini terinspirasi dari banyak hal yang terjadi di sekitar kita belakangan. Ini kayak pengingat tentang akhir. Tentang kiamat, teman-teman. Ingatlah tentang kiamat,” tambahnya.
Acin menjelaskan secara musikal, rilisan maxi-single ini melanjutkan semangat eksperimental The Panturas yang sudah mereka lakukan sejak album Galura Tropikalia (2024), namun kini dibawa ke level yang lebih dalam. Komposisi lagu tetap mengalir organik, tidak dibuat untuk kesan eksotis yang dijual secara permukaan.
“Kami memang enggak pengen musiknya dibuat terlalu eksotis atau kayak ‘jualan budaya’. Unsur Sunda-nya di sini lebih ke elemen artistik. Sebagai tekstur, bukan gimmick,” tegas Acin.

The Panturas. (Sumber gambar: Los Panturas Production)
Maxi-single ini juga menjadi penanda kembalinya The Panturas setelah kesuksesan album mini Galura Tropikalia. Namun, alih-alih mendaur ulang formula lama, band ini justru menggali kemungkinan baru. Mulai dari penggunaan bahasa Inggris dalam lirik, sentuhan reggae 70-an di tengah nuansa Sunda, hingga komposisi yang lebih progresif namun tetap bisa dinikmati oleh penikmat musik garage dan surf rock.
Sang bassist, Bagus Patria alias Gogon, menjelaskan bahwa beberapa elemen musik baru yang muncul di dua lagu baru ini datang dari pengaruh personal. “Sebenarnya gue lagi seneng banget sama bass line yang repetitif tapi catchy, jadi ya secara natural referensinya masuk ke 70's reggae,” ungkapnya.
Pengaruh itu berpadu mulus dengan instrumen lokal dan nuansa eksotis yang selama ini menjadi ciri khas The Panturas. Sosok penting di balik keberanian musikal ini adalah Ricky Surya Virgana, produser sekaligus musisi kawakan yang kali ini mengambil peran menyeluruh dalam rilisan musik The Panturas, mulai dari menulis intro, menyusun fondasi lagu, hingga membentuk dinamika aransemen.
Kuya menggambarkan proses kerja samanya dengan sang produser seperti anak les yang digembleng untuk memainkan setiap bagian dengan presisi. Namun setelah itu, semua anggota diberi ruang untuk “menghajar” lagu sesuai insting masing-masing, menciptakan kombinasi chaos dan kontrol yang unik.

The Panturas. (Sumber gambar: Los Panturas Production)
Menjadi Pintu Menuju Panggung Global
Lebih dari sekadar karya musik, maxi-single “Knights of Jahannam / Soma Gospel” sekaligus punya misi strategis yakni memperluas jangkauan The Panturas ke panggung internasional. “Kami pengen karya ini nyebrang batas negara, kayak tur kami nanti,” harap Bagus Patria.
Seperti diketahui, The Panturas akan menggelar tur konser Asia perdana mereka di enam negara. Selama dua minggu, mereka akan tampil di Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Taiwan dan Jepang, yang berlangsung mulai 12 hingga 27 Juli 2025. Di Jepang, mereka akan tampil di Fuji Rock Festival, salah satu festival musik paling prestisius di dunia.
Bagi para personel, Tur Asia 2025 ini juga membuka ruang mimpi yang lebih luas, yakni permulaan dari ambisi yang lebih besar. Acin menyebut Taiwan dan Filipina sebagai negara yang paling bikin penasaran karena menurut mereka negara tersebut punya skena musik independen yang dinamis. “Kami pengen ketemu teman-teman musisi di sana, belajar dan ngebuka kemungkinan kolaborasi,” ucapnya.
“Knights of Jahannam / Soma Gospel” juga menjadi bukti bahwa The Panturas bukan sekadar band nostalgia atau pemuja ombak dari masa lalu. Mereka adalah kelompok kreatif yang terus tumbuh, berani bereksperimen, namun tetap menjaga benang merah identitas yang telah dibangun.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.