Seniman, arsitek, sekaligus Owner dari Masterpiece Auction House, Benny Raharjo di Neo Gallery (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Benny Raharjo Mengarsiteki Kritik Sosial lewat Pameran Pro-Gress di Neo Gallery

06 July 2025   |   07:52 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Di antara banyak karya dalam pameran bertajuk Pro-Gress yang digelar di Neo Gallery, satu karya mixed media dari seniman Benny Raharjo cukup mencuri perhatian pengunjung. Berjudul Beneath the Luxury (Di Balik Kemewahan), karya berukuran 80 x 90 cm ini seolah tengah menyentil wajah lain dari pembangunan dan modernitas di sebuah kota.

Dari kejauhan, karya ini tampak seperti miniatur rumah-rumah padat di kawasan kumuh kota besar. Dibangun dari bahan daur ulang seperti potongan kardus, sobekan kain, stik kayu, hingga lampu-lampu kecil, Benny menyusun lapisan-lapisan kehidupan warga marjinal dalam komposisi yang padat, bertumpuk, dan semrawut. 

Namun, dalam kekacauan inilah, narasi sosialnya menjadi sangat jelas, bahwa ada dunia lain yang kerap tak terlihat, tersembunyi di balik pencakar langit dan iklan-iklan mewah kota metropolitan. Sesuatu yang barang kali terlewat bagi banyak orang, bahkan mungkin pemangku kebijakan, kini ditampilkan gamblang oleh Benny.

Baca juga: Sendy Widjaja Bicara Soal Venue & Konsep Ruang Pamer Baru ArtMoments Jakarta 2025
 

(Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

 Beneath the Luxury (Di Balik Kemewahan) (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)


Setiap detail dalam karya ini terasa sangat manusiawi. Jemuran pakaian yang digantung di antara sela-sela bangunan, bendera merah putih kecil di atap-atap rumah, serta lampu-lampu temaram yang menyala dari dalam, semuanya membangun atmosfer keintiman dan ketegangan sekaligus. 

Benny seolah mengajak kita mengintip kehidupan sehari-hari warga di hunian padat, tidak dengan rasa iba, tapi dengan kesadaran. Karya ini menjadi kritik visual yang halus tapi tajam. Di tengah wacana kemajuan yang kerap dibalut kemewahan dan estetika modern, Beneath the Luxury menyuarakan mereka yang tertinggal dan terus berjuang untuk bertahan.

Dalam pameran ini, dirinya menampilkan tak hanya satu, tapi setidaknya empat karya yang masih berada dalam benang merah konsep yang sama. Selain Beneath the Luxury, ada juga karya berjudul Layered Homes, Layerest Fates (Rumah Bertingkat, Nasib Terhimpit), Unequal Walls (Dinding yang Tak Sama), dan Homes as the Edge of a Dream (Rumah di Ujung Mimpi). 

Semuanya memanfaatkan bentuk seperti maket bangunan untuk menggambarkan realitas hunian di ruang-ruang pinggiran kota. Bentuk maket dalam karya-karya Benny bukanlah pilihan estetika semata. Ada latar yang cukup kuat di balik pendekatan visual ini. 

Selain aktif sebagai seniman, Benny juga memiliki latar belakang sebagai seorang arsitek. Pengalaman inilah yang tampaknya membentuk cara pandangnya dalam membaca ruang, struktur, dan kehidupan yang berkelindan di dalamnya.

Seniman yang juga pemilik dari Masterpiece Auction House itu mengungkapkan bahwa karya Beneath the Luxury berangkat dari pengalaman lamanya ketika masih menempuh pendidikan arsitektur di bangku kuliah. Sejak awal 1980-an, dia sudah sering turun ke lapangan untuk mengamati langsung kondisi ruang dan permukiman di wilayah urban Indonesia.

 

Homes as the Edge of a Dream (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Homes as the Edge of a Dream (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

 

 

Unequal Walls (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Unequal Walls (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

 


Dari sana, dia melihat langsung jurang yang sangat nyata antara yang mewah dan yang tersingkir. “Dulu waktu saya kuliah tahun 1982, saya banyak melihat survei di lapangan. Banyak gedung-gedung tinggi, tapi di belakangnya itu masih banyak slum, kata Benny kepada Hypeabis.id

Pengalaman melihat kontras ekstrem tersebut rupanya tertanam kuat dalam ingatannya, dan menjadi salah satu alasan dirinya membuat karya ini sekarang. Meski telah puluhan tahun berlalu, Benny melihat bahwa kondisi itu belum banyak berubah. 

“Saya membuat karya ini karena teringat bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang tinggal di kota-kota besar itu belum mendapatkan rumah yang layak,” ujarnya. 

Namun, karya ini tidak hadir sebagai nostalgia semata, tetapi menjadi bentuk pengingat bahwa ketimpangan semacam itu masih terjadi hingga saat ini. Dalam hal pemilihan material, Benny secara sadar juga memilih menggunakan benda-benda yang sederhana dan mudah ditemui di sekitar, seperti kardus bekas, potongan papan, stik kayu, serta lampu-lampu kecil.

Di karya ini, dirinya tidak menggunakan bahan mahal atau material jadi, melainkan yang seadanya dan bersifat daur ulang. "Jadi, saya memang membuat karya ini sengaja menggunakan bahan-bahan yang seadanya. Sehingga lebih kuat mempresentasikan kehidupan daripada masyarakat bawah," imbuhnya.

Selain empat karya dalam bentuk seperti maket, sebenarnya ada dua karya lain Benny yang juga dipamerkan. Namun, dua karya tersebut hadir dengan pendekatan visual yang berbeda. Karya berjudul Fibers of Hope 1 dan Fibers of Hope 2 menampilkan sisi artistik lain dari Benny yang tak kalah menarik.

Fibers of Hope dibuat dari material kain jenis bagor yang telah melalui proses perobekan, pencabikan, dan penyusunan ulang. Teksturnya tampak kasar, berlapis-lapis, dan memberi kesan seolah ada yang sedang bergerak dari dalam. 

 

 

 

 

Fibers of Hope (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Fibers of Hope (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

 


Kain bagor, atau lebih lazim disebut goni, jelas dipilih Benny bukan tanpa maksud. Material ini sejak lama identik dengan kehidupan kelas pekerja, digunakan untuk membawa, menampung, atau mengemas sesuatu.

Benny memanfaatkan material yang sederhana itu untuk menyampaikan sesuatu yang lebih dalam, bahwa di balik hal-hal yang dianggap kasar, fungsional, atau bahkan sepele, ada ketekunan dan daya tahan yang tidak bisa diabaikan.

Benny bercerita proses pembuatan dua karya terakhir itu rumit. Pertama, dirinya harus mengolah kain goni terlebih dahulu dengan bahan-bahan kimia supaya bisa hancur. Setelah itu, kain yang sudah hampir rusak itu disusun ulang, diperhatikan komposisinya, dan diberi warna. Pewarnaannya pun tak bisa sekali, meski berkali-kali agar bisa menghasilkan kontras yang diinginkan.

Di balik proses artistiknya, Benny berharap karyanya juga bisa menggugah kesadaran sosial. “Saya harap karya ini bisa menggugah banyak pihak, termasuk semoga cepat ada bantuan dari pemerintah untuk masyarakat kelas bawah ini,” tegasnya.

Enam karya Benny Raharjo dapat dinikmati di pameran Pro-Gress yang berlangsung di Neo Gallery. Selain Benny, sejumlah seniman lain juga turut menampilkan karya terbarunya di pameran ini, antara lain Chusin Setiadikara, Inda C. Noerhadi, Iryanto Hadi, Joni Ramlan, P. Lanny Andriani, Siont Teja, Syakieb Sungkar, Tommy F. Awuy, dan Widya Triyana. Pameran Pro-Gress berlangsung dari 5–25 Juli 2025.

Baca juga: Ekosistem Seni Rupa Indonesia Kiwari: Tatkala Negara, Pasar, dan Media Bertemu

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Cek Fakta Ramalan Manga The Future I Saw Karya Ryo Tatsuki tentang Megathrust Jepang

BERIKUTNYA

Pemain Voli Megawati Hangestri Pertiwi Gabung ke Klub Turki

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: