Gempa dan tsunami. (foto: ilustrasi)

Cek Fakta Ramalan Manga The Future I Saw Karya Ryo Tatsuki tentang Megathrust Jepang

05 July 2025   |   22:57 WIB
Image
Fajar Sidik Hypeabis.id

Manga populer The Future I Saw karya Ryo Tatsuki membuat kehebohan. Manga ini disebut meramalkan bencana dahsyat pada 5 Juli 2025, khususnya gempa bumi super dan tsunami yang tiga kali lebih besar dari bencana Tohoku pada 2011. Prediksi ini viral di berbagai platform media sosial, hingga memicu spekulasi dan kecemasan atas situasi di Jepang.   

Mengutip Earthquaketrack, pada Sabtu, 5 Juli 2025, sebuah gempa bumi berkekuatan 5,4 magnitudo mengguncang gugusan Kepulauan Tokara di Prefektur Kagoshima, Jepang barat daya.

Peristiwa ini bagian dari serangkaian getaran yang terus-menerus terjadi di wilayah tersebut. Sejak Sabtu sebelumnya, hampir 500 gempa bumi telah dilaporkan di Kepulauan Tokara, dan pada 3 Juli, gempa berkekuatan 5,5 magnitudo juga melanda kepulauan tersebut. 

Baca juga: Palung Nankai, Zona Gempa Mematikan di Jepang Berpotensi M9

Peristiwa gempa bumi moderat memang terjadi di Kepulauan Tokara, dan kesesuaian tanggal seperti yang diramalkan dalam manga itu menciptakan persepsi semu. Padahal, aktivitas seismik di Kepulauan Tokara memang sudah terjadi sejak beberapa hari sebelumnya dengan adanya ratusan gempa bumi kecil.

Namun, persepsi publik sepertinya membuat ramalan manga yang tidak ilmiah itu, menjadi tampak lebih kredibel hingga memicu kepanikan akan datangnya bencana besar.

Rumor itupun semakin viral ketika serangkaian aktivitas seismik minor di Kepulauan Tokara yang dimanfaatkan secara salah, hingga memicu reaksi dan kepanikan publik. Padahal, otoritas BMKG Jepang sama sekali tidak mengumumkan peringatan apa pun.

Kecemasan massal dan kepanikan yang didorong oleh misinformasi serta keyakinan semu atas ramalan manga telah memicu kepanikan berlebihan akan ancaman bencana besar yang sama sekali tidak terverifikasi. Sebagaimana diketahui, Jepang memiliki protokol paling siap dalam menghadapi gempa bumi karena lokasi geologisnya yang berada di pusat gempa. 


Ryo Tatsuki dan Manga The Future I Saw

Mengutip Bizzbuzz News, Ryo Tatsuki adalah seorang seniman manga yang populer lewat karya The Future I Saw (Watashi ga Mita Mirai) yang diterbitkan pertama kali pada 1999. Manga ini mendapatkan perhatian signifikan setelah gempa bumi dan tsunami Tohoku 2011. 

Ryo Tatsuki pun dijuluki sebagai Baba Vanga Baru Jepang karena kemampuannya dalam meramal peristiwa masa depan. Lalu, edisi cetak ulang manga ini dirilis pada 2021 yang memanfaatkan popularitas Ryo Tatsuki ramalan bencana besar pada Juli 2025.   

Prediksi megathrust dan tsunami berskala tiga kali lebih dahsyat disebutkan dalam manga, bakal terjadi pada 5 Juli 2025. Versi terbaru manga itu menggambarkan retakan besar yang terbentuk di bawah dasar laut antara Jepang dan Filipina. 

Retakan ini diramalkan memicu tsunami yang tiga kali lebih besar dari bencana Tohoku 2011. Gambaran lebih lanjut yang terkait dengan prediksi tersebut mencakup kota-kota yang jatuh ke laut dan kondisi laut yang mendidih telah memicu spekulasi tentang aktivitas vulkanik atau ledakan geotermal bawah laut. Area dampak yang diprediksi meluas di luar pantai selatan Jepang hingga Taiwan, Indonesia, dan Kepulauan Mariana Utara. 

Reputasi Tatsuki berasal dari klaim bahwa dia secara akurat memprediksi beberapa peristiwa masa lalu. Yang paling menonjol, sampul bukunya tahun 1999 menyebutkan bahwa bencana akan tiba pada Maret 2011. 

Ramalan itu pun dihubungkan oleh para penggemarnya dengan gempa bumi dan tsunami Tohoku pada Maret 2011. Akan tetapi, Tatsuki sendiri dikabarkan telah melupakan cerita naskah ini pada saat peristiwa 2011 terjadi dan naskah tersebut hanya ada di sampul, bukan di dalam konten buku. 

Fakta ini menggambarkan adanya bias kognitif umum, di mana prediksi yang samar secara buta diinterpretasikan sebagai akurat, setelah munculnya peristiwa bencana besar. 

Kenyataan bahwa Tatsuki sendiri lupa akan prediksi tersebut, semakin menekankan bahwa akurasi yang dirasakan sebagian besar merupakan konstruksi interpretasi publik dan memori selektif alias cocokologi. 

Mekanisme ini sangat penting untuk memahami bagaimana rumor semacam itu mendapatkan kredibilitasnya, meskipun tidak memiliki dasar ilmiah, karena pikiran manusia lebih condong mencari pola dan koneksi saja.   

Daftar prediksi serupa juga sempat mencuri perhatian antara lain gempa bumi Kobe 1995, kematian Putri Diana dan Freddie Mercury, ramalan pandemi Covid-19, gempa bumi Great Hanshin, kematian Ozaki Yutaka, dan letusan Gunung Fuji pada Agustus yang tidak pernah terjadi. 

Meskipun terjadi 'kegilaan' publik, Tatsuki sendiri berusaha meredakan spekulasi dengan menyatakan bahwa dia bukan seorang nabi dan mendesak pembaca untuk tidak terlalu terpengaruh oleh narasi dalam bukunya. Namun, dia tidak sepenuhnya menarik kembali prediksinya. 

Dengan tidak sepenuhnya menarik kembali prediksi spesifik 5 Juli 2025, Tatsuki membiarkan spekulasi tetap ada, karena memberikan ruang untuk interpretasi di antara orang-orang yang percaya yang mungkin menganggapnya sebagai peringatan kehati-hatian. 

Sementara itu, Badan Meteorologi Jepang (JMA) secara resmi dan berulang kali telah menanggapi kekhawatiran yang berkembang dengan menyebut ramalan manga sebagai hoaks dan disinformasi. JMA menyatakan bahwa tidak ada metode ilmiah yang dapat menentukan tanggal, waktu, lokasi atau magnitudo yang pasti atas ancaman gempa bumi di masa depan.  

Para ahli mitigasi bencana dari Universitas Tokyo, seperti Profesor Sekiya Naoya dan Profesor Kimiro Meguro menyatakan bahwa tidak ada metode sains saat ini yang dapat memprediksi kapan dan di mana gempa bumi akan terjadi secara tepat. 

Ahli gunung berapi laut, Yokose pun mengonfirmasi bahwa meskipun gempa bumi hingga magnitudo 6 mungkin terjadi di wilayah Tokara, gelombang gempa bumi minor saat ini bukanlah tanda kejadian bencana, seperti gempa bumi super yang diperkirakan di Palung Nankai, karena proses geologisnya berbeda. 

Baca juga: Peristiwa Gempa Bumi Terbesar di Dunia, Terbaru di Myanmar-Thailand

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Sendy Widjaja Bicara Soal Venue & Konsep Ruang Pamer Baru ArtMoments Jakarta 2025

BERIKUTNYA

Benny Raharjo Mengarsiteki Kritik Sosial lewat Pameran Pro-Gress di Neo Gallery

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: