Film Indonesia Kian Mendominasi di Bioskop, Ini Faktor Pendorongnya
31 March 2026 |
14:05 WIB
Dalam beberapa tahun terakhir, karya-karya sineas Tanah Air kian mendominasi layar bioskop, baik secara kuantitas maupun jumlah penonton yang jauh melampaui film impor. Dominasi ini bukan sekadar fenomena belaka tetapi mencerminkan perubahan struktur pasar, pergeseran demografi penonton, serta strategi industri.
Pengamat Perfilman Hikmat Darmawan mengatakan, tren penguatan film Indonesia sudah terlihat bahkan sejak sebelum pandemi dan semakin menguat setelahnya. Ini terlihat dari riset Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) yang dipresentasikan Ade Armando pada 2019 lalu, preferensi menonton film lokal sudah tampak sejak 2019.
Baca juga: Di Tengah Isu Perang Dunia III, Film Ini Jadi Pengingat Kengerian Perang
Data tersebut menunjukkan bahwa anak muda usia 15 hingga 30 tahun lebih memilih film Indonesia dibandingkan film impor, sementara kelompok usia di atas 40 tahun cenderung lebih memilih film Hollywood.
“Artinya, pergeseran dominasi lokal sesungguhnya telah teridentifikasi sebelum pandemi, seiring menguatnya generasi muda sebagai penonton utama bioskop,” jelasnya.
Sejumlah laporan industri mencatat bahwa pangsa pasar film lokal kini konsisten berada di atas 50%, bahkan dalam beberapa periode mencapai sekitar 60% lebih dari total penonton bioskop nasional.
Pada 2025 misalnya, total penonton bioskop untuk film lokal menembus angka 80,27 juta penonton atau sekitar 64?ri total 124,75 juta penonton bioskop dengan jumlah film yang tayang mencapai 201 judul. Sementara sisanya menonton film impor dari Hollywood, Korea, China, India, Jepang, atau Thailand.
“Dominasi ini sebagian besar terjadi di kota-kota besar yang memiliki bioskop modern, seperti Jakarta dan kota-kota dengan mall yang menampung jaringan bioskop Cineplex, XXI, CGV, dan Cinepolis,” terangnya
Meski demikian, Hikmat mengatakan bahwa fenomena ini bukan semata karena kualitas film, tetapi juga dipengaruhi oleh demografi dan preferensi pasar. Selain itu, dia juga menekankan bahwa dominasi film lokal tidak sepenuhnya mencerminkan kualitas atau keberagaman konten.
Menurut Hikmat, industri perfilman Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar dan strategi eksibitor. Eksibitor bioskop memiliki peran gatekeeping, menentukan jatah layar dan slot tayang, sehingga film-film tertentu yang biasanya produksi rumah produksi (PH) besar mendapat kesempatan yang lebih besar baik dalam jumlah layar maupun slot waktu penayangan di musim ramai.
Selain itu, dia juga melihat bahwa struktur industri saat ini lebih fokus pada penjualan kursi daripada mutu film itu sendiri. Okupansi dan jumlah layar menjadi indikator utama, sehingga strategi marketing dan FOMO (fear of missing out) sering digunakan untuk menarik penonton.
Misalnya, film dengan alokasi layar yang besar dapat mendorong jumlah penonton cepat, meskipun kualitas film tidak selalu menjadi faktor utama.
Tren genre juga mencerminkan strategi pasar. Film horor dan komedi mendominasi, mengikuti pola global yang menunjukkan bahwa film mid-budget horror sering meraih keuntungan besar.
Dia mencontohkan bagaimana film seperti “KKN di Desa Penari” menunjukan tren FOMO dan strategi pemasaran berperan penting dalam mencapai angka penonton tinggi.
Sementara itu, keragaman genre lain seperti sci-fi, animasi, atau action masih terbatas. “Karena saat ini produser cenderung mengambil risiko kecil dan memilih genre yang dianggap aman secara finansial,” ungkapnya.
Namun seiring waktu, risiko dominasi satu genre menurutnya juga dapat membatasi keberlanjutan pertumbuhan pasar. Hikmat pun menilai bahwa dominasi film lokal saat ini bisa saja bersifat sementara jika tidak ada upaya untuk membangun pasar yang lebih majemuk.
Keberlanjutan industri akan tergantung pada kemampuan semua pihak untuk mendukung keragaman bioskop, genre, dan strategi produksi.
Selain itu, harga tiket bioskop yang relatif tinggi, biaya tambahan untuk makanan atau parkir, serta waktu yang dibutuhkan untuk menonton di akhir pekan, menjadi tantangan tersendiri bagi model pasar saat ini.
“Peluang besar yang ada saat ini harus diimbangi dengan upaya membangun pasar yang lebih beragam, agar film lokal bukan hanya menjadi “tuan rumah di negeri sendiri” sementara, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka Panjang,” tuturnya.
Pengamat Perfilman Hikmat Darmawan mengatakan, tren penguatan film Indonesia sudah terlihat bahkan sejak sebelum pandemi dan semakin menguat setelahnya. Ini terlihat dari riset Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) yang dipresentasikan Ade Armando pada 2019 lalu, preferensi menonton film lokal sudah tampak sejak 2019.
Baca juga: Di Tengah Isu Perang Dunia III, Film Ini Jadi Pengingat Kengerian Perang
Data tersebut menunjukkan bahwa anak muda usia 15 hingga 30 tahun lebih memilih film Indonesia dibandingkan film impor, sementara kelompok usia di atas 40 tahun cenderung lebih memilih film Hollywood.
“Artinya, pergeseran dominasi lokal sesungguhnya telah teridentifikasi sebelum pandemi, seiring menguatnya generasi muda sebagai penonton utama bioskop,” jelasnya.
Sejumlah laporan industri mencatat bahwa pangsa pasar film lokal kini konsisten berada di atas 50%, bahkan dalam beberapa periode mencapai sekitar 60% lebih dari total penonton bioskop nasional.
Pada 2025 misalnya, total penonton bioskop untuk film lokal menembus angka 80,27 juta penonton atau sekitar 64?ri total 124,75 juta penonton bioskop dengan jumlah film yang tayang mencapai 201 judul. Sementara sisanya menonton film impor dari Hollywood, Korea, China, India, Jepang, atau Thailand.
“Dominasi ini sebagian besar terjadi di kota-kota besar yang memiliki bioskop modern, seperti Jakarta dan kota-kota dengan mall yang menampung jaringan bioskop Cineplex, XXI, CGV, dan Cinepolis,” terangnya
Meski demikian, Hikmat mengatakan bahwa fenomena ini bukan semata karena kualitas film, tetapi juga dipengaruhi oleh demografi dan preferensi pasar. Selain itu, dia juga menekankan bahwa dominasi film lokal tidak sepenuhnya mencerminkan kualitas atau keberagaman konten.
Menurut Hikmat, industri perfilman Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar dan strategi eksibitor. Eksibitor bioskop memiliki peran gatekeeping, menentukan jatah layar dan slot tayang, sehingga film-film tertentu yang biasanya produksi rumah produksi (PH) besar mendapat kesempatan yang lebih besar baik dalam jumlah layar maupun slot waktu penayangan di musim ramai.
Selain itu, dia juga melihat bahwa struktur industri saat ini lebih fokus pada penjualan kursi daripada mutu film itu sendiri. Okupansi dan jumlah layar menjadi indikator utama, sehingga strategi marketing dan FOMO (fear of missing out) sering digunakan untuk menarik penonton.
Misalnya, film dengan alokasi layar yang besar dapat mendorong jumlah penonton cepat, meskipun kualitas film tidak selalu menjadi faktor utama.
Tren genre juga mencerminkan strategi pasar. Film horor dan komedi mendominasi, mengikuti pola global yang menunjukkan bahwa film mid-budget horror sering meraih keuntungan besar.
Dia mencontohkan bagaimana film seperti “KKN di Desa Penari” menunjukan tren FOMO dan strategi pemasaran berperan penting dalam mencapai angka penonton tinggi.
Sementara itu, keragaman genre lain seperti sci-fi, animasi, atau action masih terbatas. “Karena saat ini produser cenderung mengambil risiko kecil dan memilih genre yang dianggap aman secara finansial,” ungkapnya.
Namun seiring waktu, risiko dominasi satu genre menurutnya juga dapat membatasi keberlanjutan pertumbuhan pasar. Hikmat pun menilai bahwa dominasi film lokal saat ini bisa saja bersifat sementara jika tidak ada upaya untuk membangun pasar yang lebih majemuk.
Keberlanjutan industri akan tergantung pada kemampuan semua pihak untuk mendukung keragaman bioskop, genre, dan strategi produksi.
Selain itu, harga tiket bioskop yang relatif tinggi, biaya tambahan untuk makanan atau parkir, serta waktu yang dibutuhkan untuk menonton di akhir pekan, menjadi tantangan tersendiri bagi model pasar saat ini.
“Peluang besar yang ada saat ini harus diimbangi dengan upaya membangun pasar yang lebih beragam, agar film lokal bukan hanya menjadi “tuan rumah di negeri sendiri” sementara, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka Panjang,” tuturnya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.