Rubaiyat Den Sastro, Warisan Sapardi Djoko Damono Suguhkan Ruang Refleksi pada Era Digital
30 June 2025 |
06:24 WIB
Rubaiyat Den Sastro, kumpulan puisi terakhir karya almarhum Sapardi Djoko Damono resmi diterbitkan setelah lebih dari dua dekade tersimpan. Naskah puisi itu, yang sebelumnya hanya berupa jilidan sederhana dalam amplop cokelat dan disimpan di rumah sahabat dekat Sapardi, kini hadir sebagai catatan penting lanskap sastra Indonesia.
Karya ini memuat sekitar dua puluhan puisi pendek dalam format kuatrin, dan menjadi buku pertama Sapardi yang dirilis setelah kepulangannya. Sejarawan Hilmar Farid menanggapi penerbitan buku ini sebagai momen penting dalam menghidupkan kembali relevansi puisi di tengah era digital.
Menurutnya, kelahiran buku puisi Sapardi pada era sekarang punya makna yang begitu penting. “Saya sudah cukup akrab dengan puisi-puisi Pak Sapardi, tetapi yang satu ini terasa berbeda. Dari bentuknya yang konsisten menggunakan kuatrin hingga kehadiran figur Den Sastro yang khas, kita dapat merasakan bahwa energi kreatif beliau seolah tidak pernah habis,” ujar Hilmar.
Baca juga: 4 Buku Puisi Terbaik Karya Sapardi Djoko Damono yang Harus Dibaca Anak Muda
Hilmar menjelaskan bahwa bentuk empat baris sajak yang digunakan Sapardi dalam Rubaiyat Den Sastro mengingatkan pada tradisi Rubaiyat dari penyair Persia, Umar Khayyam. Dalam pandangannya, Sapardi memanfaatkan bentuk tersebut sebagai sarana untuk menghadirkan perenungan, baik secara personal maupun filosofis.
Hilmar lantas menyoroti tokoh Den Sastro yang kembali muncul di buku ini. Nama Den Sastro bukan sesuatu yang baru dalam khazanah karya Sapardi. Akan tetapi, baginya, kemunculannya selalu menarik untuk dibahas dan direnungkan.
Menurutnya, figur ini kerap muncul sebagai representasi naratif atau alter ego dari sang penyair. Dia menyebut banyak seniman menggunakan bentuk dialog internal dalam karya-karyanya. Den Sastro, dalam hal ini, menjadi perangkat sastra yang memungkinkan Sapardi mengeksplorasi dimensi psikologis dirinya.
Lebih jauh, Hilmar menilai bahwa penggunaan Den Sastro mencerminkan proses proyeksi emosional maupun intelektual, yang membuat Sapardi menyampaikan hasrat dan refleksi pribadinya secara literer. “Dalam dinamika ego dan alter ego, Den Sastro memiliki fungsi yang sangat instrumental dalam menciptakan dialog batin yang intens dan berlapis,” tambahnya.
Di luar itu, kemunculan buku puisi Sapardi juga punya makna yang lebih luas. Dalam konteks perkembangan teknologi dan ledakan informasi saat ini, Hilmar menyoroti pentingnya puisi sebagai medium reflektif.
Menurutnya, meski karya ini tersimpan dua dekade dan baru dirilis sekarang, sajak-sajak Sapardi justru kini menjadi makin relevan karena mampu menghadirkan kesederhanaan dan kedalaman makna di tengah arus komunikasi yang cepat dan serba instan.
“Puisi Sapardi sangat aksesibel. Ia tidak menggunakan diksi yang rumit, dan justru akrab dengan pengalaman sehari-hari. Hal ini memberi ruang bagi pembaca untuk merenung dan memahami hubungan antara kata dan makna secara lebih mendalam,” ungkap Hilmar.
Menurutnya, Rubaiyat Den Sastro hadir sebagai counterpoint terhadap derasnya laju kata dalam era digital, termasuk produksi teks oleh kecerdasan buatan. Meskipun hanya terdiri dari dua puluh puisi pendek, lanjutnya, buku ini memiliki kekuatan untuk sejenak membuat pembacanya melambat dan mengajaknya masuk ke dalam ruang perenungan yang hening di pikiran masing-masing.
“Dunia saat ini sangat membutuhkan puisi, bukan hanya sebagai bentuk estetika, tetapi sebagai sarana untuk memahami kembali diri,” katanya.
Penerbitan Rubaiyat Den Sastro bukan hanya menghadirkan kembali suara Sapardi dalam bentuk baru, tetapi juga memperkuat posisi puisi sebagai bagian dari seni yang penting ada pada era sekarang. Hilmar juga menyebut bahwa karya ini membawa nilai personal yang kuat, terlebih karena dia mengenal langsung sosok Sapardi semasa hidupnya.
“Pada akhirnya, buku ini tidak hanya diterbitkan, tapi juga diapresiasi luas, seperti hari ini. Itu sangat menggembirakan,” tutupnya.
Rubaiyat Den Sastro diterbitkan oleh Indonesia Tera bersama dengan Akhirnya, Den Sastro Tiba.
Buku Rubaiyat Den Sastro berisi kumpulan sajak Sapardi yang tersimpan selama dua dekade. Adapun Akhirnya, Den Sastro Tiba merupakan buku yang berisi kumpulan kisah yang ditulis oleh sahabat dan murid-murid Sapardi Djoko Damono, sebagai pelengkap dari buku puisi karya Sapardi Djoko Damono.
Baca juga: Melihat Perjalanan Penyair Sapardi Djoko Damono di Pameran Urban Masters
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Karya ini memuat sekitar dua puluhan puisi pendek dalam format kuatrin, dan menjadi buku pertama Sapardi yang dirilis setelah kepulangannya. Sejarawan Hilmar Farid menanggapi penerbitan buku ini sebagai momen penting dalam menghidupkan kembali relevansi puisi di tengah era digital.
Menurutnya, kelahiran buku puisi Sapardi pada era sekarang punya makna yang begitu penting. “Saya sudah cukup akrab dengan puisi-puisi Pak Sapardi, tetapi yang satu ini terasa berbeda. Dari bentuknya yang konsisten menggunakan kuatrin hingga kehadiran figur Den Sastro yang khas, kita dapat merasakan bahwa energi kreatif beliau seolah tidak pernah habis,” ujar Hilmar.
Baca juga: 4 Buku Puisi Terbaik Karya Sapardi Djoko Damono yang Harus Dibaca Anak Muda
Hilmar menjelaskan bahwa bentuk empat baris sajak yang digunakan Sapardi dalam Rubaiyat Den Sastro mengingatkan pada tradisi Rubaiyat dari penyair Persia, Umar Khayyam. Dalam pandangannya, Sapardi memanfaatkan bentuk tersebut sebagai sarana untuk menghadirkan perenungan, baik secara personal maupun filosofis.
Hilmar lantas menyoroti tokoh Den Sastro yang kembali muncul di buku ini. Nama Den Sastro bukan sesuatu yang baru dalam khazanah karya Sapardi. Akan tetapi, baginya, kemunculannya selalu menarik untuk dibahas dan direnungkan.
Menurutnya, figur ini kerap muncul sebagai representasi naratif atau alter ego dari sang penyair. Dia menyebut banyak seniman menggunakan bentuk dialog internal dalam karya-karyanya. Den Sastro, dalam hal ini, menjadi perangkat sastra yang memungkinkan Sapardi mengeksplorasi dimensi psikologis dirinya.
Lebih jauh, Hilmar menilai bahwa penggunaan Den Sastro mencerminkan proses proyeksi emosional maupun intelektual, yang membuat Sapardi menyampaikan hasrat dan refleksi pribadinya secara literer. “Dalam dinamika ego dan alter ego, Den Sastro memiliki fungsi yang sangat instrumental dalam menciptakan dialog batin yang intens dan berlapis,” tambahnya.
Di luar itu, kemunculan buku puisi Sapardi juga punya makna yang lebih luas. Dalam konteks perkembangan teknologi dan ledakan informasi saat ini, Hilmar menyoroti pentingnya puisi sebagai medium reflektif.
Menurutnya, meski karya ini tersimpan dua dekade dan baru dirilis sekarang, sajak-sajak Sapardi justru kini menjadi makin relevan karena mampu menghadirkan kesederhanaan dan kedalaman makna di tengah arus komunikasi yang cepat dan serba instan.
“Puisi Sapardi sangat aksesibel. Ia tidak menggunakan diksi yang rumit, dan justru akrab dengan pengalaman sehari-hari. Hal ini memberi ruang bagi pembaca untuk merenung dan memahami hubungan antara kata dan makna secara lebih mendalam,” ungkap Hilmar.
Menurutnya, Rubaiyat Den Sastro hadir sebagai counterpoint terhadap derasnya laju kata dalam era digital, termasuk produksi teks oleh kecerdasan buatan. Meskipun hanya terdiri dari dua puluh puisi pendek, lanjutnya, buku ini memiliki kekuatan untuk sejenak membuat pembacanya melambat dan mengajaknya masuk ke dalam ruang perenungan yang hening di pikiran masing-masing.
“Dunia saat ini sangat membutuhkan puisi, bukan hanya sebagai bentuk estetika, tetapi sebagai sarana untuk memahami kembali diri,” katanya.
Penerbitan Rubaiyat Den Sastro bukan hanya menghadirkan kembali suara Sapardi dalam bentuk baru, tetapi juga memperkuat posisi puisi sebagai bagian dari seni yang penting ada pada era sekarang. Hilmar juga menyebut bahwa karya ini membawa nilai personal yang kuat, terlebih karena dia mengenal langsung sosok Sapardi semasa hidupnya.
“Pada akhirnya, buku ini tidak hanya diterbitkan, tapi juga diapresiasi luas, seperti hari ini. Itu sangat menggembirakan,” tutupnya.
Rubaiyat Den Sastro diterbitkan oleh Indonesia Tera bersama dengan Akhirnya, Den Sastro Tiba.
Buku Rubaiyat Den Sastro berisi kumpulan sajak Sapardi yang tersimpan selama dua dekade. Adapun Akhirnya, Den Sastro Tiba merupakan buku yang berisi kumpulan kisah yang ditulis oleh sahabat dan murid-murid Sapardi Djoko Damono, sebagai pelengkap dari buku puisi karya Sapardi Djoko Damono.
Baca juga: Melihat Perjalanan Penyair Sapardi Djoko Damono di Pameran Urban Masters
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.