Penulis & Musisi Reda Gaudiamo mengikuti diskusi sekaligus peluncuran buku Sejumlah Sajak Sapardi Djoko Damono, Rubaiyat Den Sastro di Jakarta, Minggu (29/6/2025). (Sumber gambar: Hypeabis.id/Arief Hermawan P )

Cerita Reda Gaudiamo Soal Naskah Rubaiyat Den Sastro yang Tersimpan Selama 2 Dekade

30 June 2025   |   09:33 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Selama dua dekade, seberkas warisan sastra terakhir dari Sapardi Djoko Damono terjaga dalam diam. Sajak-sajak itu belum pernah dipublikasikan, terjilid dengan sederhana, dan selalu disimpan dengan rapi. Kini, setelah dua puluh tahun berlalu, naskah terakhir sang maestro akhirnya bisa bertemu dengan pembaca.

Diterbitkan oleh Indonesia Tera, naskah-naskah dari Sapardi ini diberi judul Rubaiyat den Sastro. Buku ini memuat sajak-sajak dari Sapardi yang sempat dititipkan kepada kawan yang dia percayai. Kawan tersebut bernama Reda Gaudiamo.

Reda mengatakan proses penerbitan buku ini cukup unik. Dia bercerita, dua puluh tahun lalu, Sapardi memanggil dirinya ke kampus. Kala itu, dia menyerahkan amplop berwarna cokelat. Di dalam amplop tersebut, tersimpan sajak-sajak dari Sapardi.

"Waktu itu bapak Sapardi bilang 'aku punya puisi baru loh'. Ya, itu puisi yang ada di amplop cokelat ini," ungkap Reda saat ditemui di M Bloc, Jakarta Selatan. 

Baca juga: Rubaiyat Den Sastro, Warisan Sapardi Djoko Damono Suguhkan Ruang Refleksi pada Era Digital 
 

Buku Sejumlah Sajak Sapardi Djoko Damono, Rubaiyat Den Sastro. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Arief Hermawan P )

Buku Sejumlah Sajak , Rubaiyat Den Sastro. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Arief Hermawan P )

Mulanya, dia begitu bersemangat. Reda pun sempat membaca naskah-naskah yang ada di amplop cokelat tersebut. Akan tetapi, tak berselang lama, dia kembali mendapat pesan dari Sapardi. Dirinya diminta untuk menyimpan naskah ini tanpa perlu bilang siapa-siapa dan jangan dijadikan apa-apa sampai waktunya tiba.

Dia sempat bertanya, kapan waktu tersebut tiba? Namun, Sapardi hanya menjawab singkat. "Nanti, kamu tahu sendiri kapan dan bisa jadi apa (naskah ini, Red)" kata Reda menirukan Sapardi. 

Reda kemudian menyimpan berkas asli ini di sebuah koper. Dia tak pernah lagi menengok koper tersebut sejak pesan terakhir itu. Saat Sapardi meninggal pada 2020 lalu, naskah itu terasa memanggilnya. Dia pun berniat membawa naskah itu kepada Sonya Indriati Sondakh, istri Sapardi, tetapi kemudian diurungkan. Niat serupa terulang lagi pada 40 hari meninggalnya Sapardi, tetapi kembali diurungkan. 

Kemudian, pada Desember 2024, Sonya, Reda, dan Windy Ariestanty bertemu di Cikini. Reda memberi tahu Sonya soal keberadaan sejumlah sajak tersebut. Sonya pun memberikan izin penerbitannya kepada Indonesia Tera, penerbit pertama yang menerbitkan karya-karya Sapardi, lewat Windy.

"Setelah saya dapat izin dari Sonya, langsung menghubungi Iwan Effendi untuk menggambar sampul dan isi Rubaiyat Den Sastro. Terus, kami ke Yogyakarta untuk mencari gambar-gambar yang bisa dipakai," imbuhnya.
 

Sejarawan & Penulis Hilmar Farid (dari kiri), Penggambar Sampul & isi Rubaiyat Den Sastro, Iwan Effendi, Istri Sapardi Djoko Damono, Sonya Indriati Sondakh, dan Penulis & Musisi Reda Gaudiamo mengikuti diskusi sekaligus peluncuran buku Sejumlah Sajak Sapardi Djoko Damono, Rubaiyat Den Sastro di Jakarta, Minggu (29/6/2025).

Sejarawan & Penulis Hilmar Farid (dari kiri), Penggambar Sampul & isi Rubaiyat Den Sastro, Iwan Effendi, Istri Sapardi Djoko Damono, Sonya Indriati Sondakh, dan Penulis & Musisi Reda Gaudiamo mengikuti diskusi sekaligus peluncuran buku Sejumlah Sajak Sapardi Djoko Damono, Rubaiyat Den Sastro di Jakarta, Minggu (29/6/2025). (Sumber gambar: Hypeabis.id/Arief Hermawan P )

Reda mengatakan proses meminta izin kepada Sonya punya cerita yang juga menarik. Sebab, awalnya Sonya tidak tahu bahwa naskah tersebut masih ada karena sudah sangat lama. Sang istri bahkan sempat berpikir bahwa naskah tersebut sudah hilang total.

Namun, ketika dirinya menyuguhkan naskah itu, Sonya cukup terkejut. Tak butuh waktu lama, Sonya pun kemudian memberi izin untuk menerbitkan naskah ini.

Menurut Reda, proses penyusunan buku ini berjalan sangat lancar. Kendati demikian, tetap ada beberapa kendala teknis, yang cukup membuatnya deg-degan. Sebab, saat akan masuk ke percetakan, mesin cetaknya rusak hingga kaos merchandise yang tidak kunjung jadi. Namun, dinamika ini akhirnya bisa teratasi.

Dalam prosesnya, Reda menyebut buku ini kemudian diterbitkan dalam satu rangkaian dengan buku berjudul Akhirnya, Den Sastro Tiba. Ini adalah buku yang berisi kumpulan kisah yang ditulis oleh sahabat dan murid-murid Sapardi Djoko Damono, sebagai pelengkap dari buku puisi Rubaiyat Den Sastro karya Sapardi Djoko Damono.

"Buku ini berisi kisah-kisah yang ditulis oleh orang-orang terdekat Sapardi, seperti teman dan murid-muridnya, sebagai bentuk penghormatan dan pelengkap dari karya puisi tersebut," katanya

Beberapa penulis yang terlibat di buku ini adalah Adimas Imanuel, Dorothe Rosa, Sunu, hingga Hilmar Farid.

Seperti namanya, Rubaiyat Den Sastro ditulis oleh Sapardi dalam bentuk rubaiyat. Ini adalah bentuk puisi empat baris atau kuplet yang memiliki rima tertentu. Rubaiyat merupakan bentuk puisi klasik yang berasal dari Persia, dan Sapardi mengadaptasinya dalam bahasa Indonesia. Biasanya, rubaiyat memiliki pola rima aaba atau aaaa. 

Sajak-sajaknya akan berbicara banyak hal, dengan Den Sastro sebagai benang merah menarik. Den Sastro,  yang disebut dalam sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, bukanlah tokoh nyata, melainkan sosok fiktif yang diciptakan oleh penyair untuk menyampaikan berbagai cerita atau peristiwa, terutama yang berkaitan dengan berita.

Melalui sosok Den Sastro, Sapardi Djoko Damono menghadirkan cerita-cerita yang lebih luas, tidak hanya tentang cinta, tetapi juga tentang kehidupan sehari-hari, peristiwa, dan berita. 

Baca juga: 4 Buku Puisi Terbaik Karya Sapardi Djoko Damono yang Harus Dibaca Anak Muda 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

5 Strategi UMKM Indonesia Menembus Pasar Ekspor Australia

BERIKUTNYA

Rubaiyat Den Sastro, Warisan Sapardi Djoko Damono Suguhkan Ruang Refleksi pada Era Digital

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: