Menilik Destinasi Wisata Urban Farming Budidaya Anggur di Kampung Munjul, Jakarta Timur
23 June 2025 |
03:26 WIB
Pekarangan rumah warga di Kampung Anggur RT.009/RW.04, Kelurahan Munjul, Jakarta Timur, kini tampak asri dan teduh berkat rimbunnya tanaman anggur yang merambat di setiap teralis. Kawasan padat penduduk tersebut bertransformasi menjadi permukiman ramah tumbuhan melalui penerapan urban farming, khususnya budidaya anggur.
Sejak masa pandemi COVID-19, warga mengisi waktu dengan menanam anggur, yang kemudian berkembang menjadi inisiatif “Kampung Anggur” dan mendapat dukungan dari London School of Public Relations (LSPR).
Baca juga: Kelebihan Urban Farming dengan Beragam Tanaman Pangan ala Kebun Kumara
Mahasiswa LSPR Institute of Communication and Business Jakarta Batch 26 Kelas Excellence bekerja sama dengan masyarakat Kampung Anggur mempersembahkan kampanye Si Manis Munjul pada Minggu (22/06/2025), di Waduk Ambalat, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
Kampanye ini menjadi komitmen nyata untuk memperkuat identitas Kampung Anggur sebagai kampung inovatif, meningkatkan visibilitas di masyarakat urban, serta membuka peluang kolaborasi lintas sektor guna mendukung pengembangan pertanian lokal berkelanjutan.
“Festival Si Manis Munjul merupakan bentuk nyata dari upaya kami sebagai mahasiswa tidak hanya belajar secara teori tetapi terlibat langsung dalam membangun dan memberdayakan potensi lokal masyarakat. Dalam proses tersebut, kami belajar bahwa potensi lokal di Kampung Anggur (Munjul) bisa menjadi sumber inspirasi dan peluang,” ujar Jonathan Ezra Widjaya, Ketua Acara Festival Si Manis Munjul, dari keterangan resminya.
Festival ini menjadi ajang peluncuran kampanye dan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk petani urban Kampung Anggur, ibu-ibu PKK, pelaku UMKM kuliner berbasis anggur, serta para siswa dari SMK Sahid, SMK 63, SMK Paskita Global, SMK 24, dan SMK 66 Jakarta. Mereka mengikuti workshop penanaman dan pencangkokan anggur, dan pembuatan jus anggur.
Tujuan utama kegiatan ini adalah mengenalkan Kampung Anggur secara lebih luas sebagai desa percontohan pertanian urban yang inovatif, serta mempromosikan UMKM warga melalui festival.
Sebelumnya, telah digelar workshop pra-acara mengenai branding dan media sosial, yang bertujuan membekali para petani urban dengan keterampilan membangun identitas merek, memasarkan produk di media sosial, dan menjual hasil panen serta olahannya di platform e-commerce. Seluruh kegiatan dilaksanakan bersama warga setempat dengan mengedepankan aspek keberlanjutan.
“Di LSPR Institute of Communication and Business, seluruh program telah dijalankan sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Khusus pada program Si Manis Munjul, kami mengaitkannya dengan SDGs pilar 11 tentang kota dan komunitas dan pilar 15 mengenai ekosistem darat. Kami sangat berharap program dapat bermanfaat pada komunitas atau masyarakat, menginspirasi lebih banyak pihak, dan berkelanjutan,” jelas Maylaffayza Wiguna, pengajar mata kuliah Community Development LSPR Jakarta.
Lukman Widodo, Ketua RT.009/RW.04 Kampung Anggur, menyatakan bahwa program ini berperan penting dalam pengembangan agrikultur di wilayahnya. Dia menyebutkan, sejak warga memanfaatkan lahan sempit untuk kebun anggur, kampung tersebut mulai dikenal luas karena keunikannya.
“Kami berharap program ini dapat menjadikan Kampung Anggur Munjul menjadi destinasi agrowisata perkotaan sehingga dapat memberi dampak langsung bagi masyarakat. Dari hasil workshop ini kami menjadi sadar pentingnya punya identitas. Kami ingin sekali anggur menjadi ikon Kampung Munjul,” kata Lukman.
Lebih dari sekadar mengubah kawasan padat menjadi permukiman hijau dan produktif, Kampung Anggur juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Salah satunya adalah pemberdayaan perempuan. Dari 15 petani urban di kampung tersebut, 10 di antaranya adalah perempuan.
“Sejak Kampung Munjul mulai dikenal sebagai Kampung Anggur, ibu-ibu semakin semangat untuk terus belajar dan tidak ragu mecoba hal-hal baru. Kehadiran mahasiswa sangat membantu ibu-ibu untuk terus mengasah keahlian terutama di identitas, penyebarluasan di sosial media, dan penjualan di marketplace,” tutur Komariah, Kader Dasa Wisma 09.
Kampung Anggur Munjul bukan sekadar representasi keberhasilan urban farming, melainkan juga simbol dari pembentukan identitas kampung, pemberdayaan ekonomi lokal, serta keterlibatan aktif perempuan dalam pengembangan komunitas.
Baca juga: Hidroponik Masih Favorit dalam Urban Farming
Sejak masa pandemi COVID-19, warga mengisi waktu dengan menanam anggur, yang kemudian berkembang menjadi inisiatif “Kampung Anggur” dan mendapat dukungan dari London School of Public Relations (LSPR).
Baca juga: Kelebihan Urban Farming dengan Beragam Tanaman Pangan ala Kebun Kumara
Mahasiswa LSPR Institute of Communication and Business Jakarta Batch 26 Kelas Excellence bekerja sama dengan masyarakat Kampung Anggur mempersembahkan kampanye Si Manis Munjul pada Minggu (22/06/2025), di Waduk Ambalat, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
Kampanye ini menjadi komitmen nyata untuk memperkuat identitas Kampung Anggur sebagai kampung inovatif, meningkatkan visibilitas di masyarakat urban, serta membuka peluang kolaborasi lintas sektor guna mendukung pengembangan pertanian lokal berkelanjutan.
“Festival Si Manis Munjul merupakan bentuk nyata dari upaya kami sebagai mahasiswa tidak hanya belajar secara teori tetapi terlibat langsung dalam membangun dan memberdayakan potensi lokal masyarakat. Dalam proses tersebut, kami belajar bahwa potensi lokal di Kampung Anggur (Munjul) bisa menjadi sumber inspirasi dan peluang,” ujar Jonathan Ezra Widjaya, Ketua Acara Festival Si Manis Munjul, dari keterangan resminya.

Kegiatan Penanaman dan Pencangkokan Pohon Anggur di Kampung Munjul (Sumber Foto: LSPR)
Festival ini menjadi ajang peluncuran kampanye dan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk petani urban Kampung Anggur, ibu-ibu PKK, pelaku UMKM kuliner berbasis anggur, serta para siswa dari SMK Sahid, SMK 63, SMK Paskita Global, SMK 24, dan SMK 66 Jakarta. Mereka mengikuti workshop penanaman dan pencangkokan anggur, dan pembuatan jus anggur.
Tujuan utama kegiatan ini adalah mengenalkan Kampung Anggur secara lebih luas sebagai desa percontohan pertanian urban yang inovatif, serta mempromosikan UMKM warga melalui festival.
Sebelumnya, telah digelar workshop pra-acara mengenai branding dan media sosial, yang bertujuan membekali para petani urban dengan keterampilan membangun identitas merek, memasarkan produk di media sosial, dan menjual hasil panen serta olahannya di platform e-commerce. Seluruh kegiatan dilaksanakan bersama warga setempat dengan mengedepankan aspek keberlanjutan.
“Di LSPR Institute of Communication and Business, seluruh program telah dijalankan sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Khusus pada program Si Manis Munjul, kami mengaitkannya dengan SDGs pilar 11 tentang kota dan komunitas dan pilar 15 mengenai ekosistem darat. Kami sangat berharap program dapat bermanfaat pada komunitas atau masyarakat, menginspirasi lebih banyak pihak, dan berkelanjutan,” jelas Maylaffayza Wiguna, pengajar mata kuliah Community Development LSPR Jakarta.
Lukman Widodo, Ketua RT.009/RW.04 Kampung Anggur, menyatakan bahwa program ini berperan penting dalam pengembangan agrikultur di wilayahnya. Dia menyebutkan, sejak warga memanfaatkan lahan sempit untuk kebun anggur, kampung tersebut mulai dikenal luas karena keunikannya.
“Kami berharap program ini dapat menjadikan Kampung Anggur Munjul menjadi destinasi agrowisata perkotaan sehingga dapat memberi dampak langsung bagi masyarakat. Dari hasil workshop ini kami menjadi sadar pentingnya punya identitas. Kami ingin sekali anggur menjadi ikon Kampung Munjul,” kata Lukman.
Lebih dari sekadar mengubah kawasan padat menjadi permukiman hijau dan produktif, Kampung Anggur juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Salah satunya adalah pemberdayaan perempuan. Dari 15 petani urban di kampung tersebut, 10 di antaranya adalah perempuan.
“Sejak Kampung Munjul mulai dikenal sebagai Kampung Anggur, ibu-ibu semakin semangat untuk terus belajar dan tidak ragu mecoba hal-hal baru. Kehadiran mahasiswa sangat membantu ibu-ibu untuk terus mengasah keahlian terutama di identitas, penyebarluasan di sosial media, dan penjualan di marketplace,” tutur Komariah, Kader Dasa Wisma 09.
Kampung Anggur Munjul bukan sekadar representasi keberhasilan urban farming, melainkan juga simbol dari pembentukan identitas kampung, pemberdayaan ekonomi lokal, serta keterlibatan aktif perempuan dalam pengembangan komunitas.
Baca juga: Hidroponik Masih Favorit dalam Urban Farming
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.