drg. Hardini Dyah Astuti resmi meluncurkan dua buku seni bertajuk “39 is 0” dan “My Rhapsody in Blue”, serta satu dek Sacred Feminine Oracle Card (Sumber : Hadania)

Ketika Seni dan Science Jalan Beriringan Lewat Buku dan Pameran 39 is 0

21 June 2025   |   11:00 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Perjalanan spiritual dan pencarian jati diri bisa datang dalam berbagai bentuk salah satunya dalam bentuk buku seperti yang dilakukan oleh drg. Hardini Dyah Astuti. Mengusung nama pena Hadania, dokter gigi spesialis periodonsia ini resmi meluncurkan dua buku seni bertajuk “39 is 0” dan “My Rhapsody in Blue”, serta satu dek Sacred Feminine Oracle Card dalam pameran tunggal bertajuk '39 is 0' yang digelar di Galeri Cemara 6, Menteng, Jakarta, pada 18–22 Juni 2025.
 
Ketiga karya tersebut tak hanya menjadi produk literasi dan visual semata, tetapi juga sebagai dokumentasi batin yang lahir dari proses reflektif mendalam. Hadania menulis, memotret, dan menciptakan kartu orakelnya sebagai cara untuk menyelami dan memahami ulang pertanyaan yang telah lama menghantuinya. Siapa saya sebenarnya? 

Baca juga: Pameran Once Was: Memori yang Bergerak Lewat Boneka dan Arang
 
Dia menuturkan bahwa selama bertahun-tahun menjelajahi berbagai ruang fisik dan batiniah, dari keramaian kota hingga kesunyian diri, dan lorong pikiran yang rumit. Pengalaman tersebut dituangkan dalam bentuk puisi, fotografi, serta karya visual lain yang membentuk trilogi artistik ini. 
 
“Tahun lalu, saat saya berusia 39 tahun, saya mulai menoleh ke dalam diri, mencari makna yang lebih dalam. Dari sanalah trilogi ini lahir, sebagai ungkapan perjalanan menemukan diri sejati,” ungkapnya.
 
Dalam dua bukunya, Hadania memadukan puisi dan fotografi sebagai jembatan untuk menjelajahi lanskap batin, spiritualitas, dan luka-luka tersembunyi jiwa. Sementara itu, Sacred Feminine Oracle Card dihadirkan sebagai alat refleksi dan penguatan intuisi, terutama bagi perempuan yang tengah mencari ruang kesadaran diri.
 
Pameran bertajuk “39 is 0” pun menjadi medium ekspresif dari keseluruhan proses itu. Menggabungkan seni visual, literasi, dan praktik spiritual, pameran ini dirancang sebagai pengalaman holistik. Dalam ruang galeri, kata dan citra berdampingan, tidak saling menggantikan, melainkan memperkuat.
 
Sebagai seorang dokter gigi yang telah lama berkecimpung di dunia medis, Hadania membuktikan bahwa seni dan sains dapat berjalan beriringan. Dia menyeimbangkan profesinya sebagai tenaga medis dengan karya seni yang multidisiplin menjadi penyair, fotografer, dan pemikir bebas yang menjadikan intuisi da pengalaman hidup sebagai bahan ekspresi. "Seni bagi saya bukan sekadar teknik tetapi juga kepekaan batin yang menuntun dalam setiap karya," ucapnya.
 
Menurut kurator pameran, Edy Purnomo dari PannaFoto Institute karya Hadania adalah bentuk katarsis atas pergulatan batin yang sunyi tetapi begitu intens. Dia menyebut bahwa fotografi dan puisi Hadania menciptakan “ruang dialog” yang jujur antara seniman dan dirinya sendiri sekaligus mengundang orang lain masuk ke dalamnya.
 
Selama lima hari, pengunjung tidak hanya bisa menikmati karya visual dan tulisan, tetapi juga mengikuti berbagai sesi yang memperdalam interaksi dengan karya, seperti diskusi buku bersama Ayu Utami, kelas membaca kartu oracle, sesi pernapasan dan suara, hingga pertunjukan puisi teatrikal dan sound healing.
 
Tokoh-tokoh publik dan seniman turut hadir memberikan dukungan pada hari pembukaan, termasuk DR. Soraya Jasmin Hague, Bella Fawzi, Maya Hasan, Debby Sahertian, dan Haikal dari Titimangsa.
 
Sebagai wujud kepedulian sosial, Hadania juga mengalokasikan 10 persen hasil penjualan tiket untuk membantu penyintas talasemia di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).
 
“Saya ingin karya ini menjadi wujud nyata dari harmoni antara seni dan kepedulian. Semoga pameran ini bisa menjadi ruang saling berbagi, bertukar pengalaman, dan menumbuhkan refleksi bersama,” tutup Hadania.

Baca juga: Pameran Gion dalam Simulasi, Saat Seni Gambar Jadi Medan Tafsir Sosial
 
Kini di usia 40 tahun, Hadania menganggap dirinya bukan sekadar seorang dokter atau seniman, melamkan perempuan biasa yang terus belajar untuk tidak “sekedar hidup” namun bahagia. 
 
“Semoga pameran ini bisa menjadi jembatan bagi saya dan para pengunjung untuk saling bertukar pengalaman, dan memberi ruang refieksi yang dalam. Saya sangat menantikan kehadiran publik untuk bersama menikmati dan merayakan karya-karya ini,” tutup Hadania. 
 
 

SEBELUMNYA

Cek 5 Agenda Pameran Seni Juni 2025 di Jakarta, Cocok untuk Melepas Penat

BERIKUTNYA

Menikmati Panggung Provokasi Artistik dari 19 Seniman Jakarta di Pos Bloc

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: