5 Kejanggalan Penyusunan Buku Sejarah Nasional Indonesia Diungkap Peneliti Truman Simanjuntak
18 June 2025 |
16:02 WIB
Buku Sejarah Nasional Indonesia yang sedang dalam proses pemutakhiran, terus menuai sorotan tajam dari kalangan akademisi. Terbaru, salah satunya datang dari Truman Simanjuntak, arkeolog dan ahli prasejarah senior yang terlibat dalam tahap awal penyusunan buku, tetapi kini telah mengundurkan diri.
Keterlibatan Prof. Truman dalam penyusunan buku ini berawal dari ajakan langsung sejak tahap persiapan. Dia mengaku ‘dieret-eret’ untuk bergabung ke dalam tim. Akhirnya dia menyetujuinya.
Baca juga: JJ Rizal: Menyongsong 500 Tahun Jakarta dengan Memahami Sejarah untuk Modal Masa Depan
Pada awalnya, dirinya cukup menyambut baik proyek tersebut. Truman bercerita bahwa saat rapat-rapat awal penyusunan telah dimulai sejak akhir November dan berlanjut ke Desember 2024. Lalu pada Januari 2025, tim mulai memasuki tahap konsepsi.
Optimisme Truman muncul karena ada janji bahwa proyek itu bertujuan memutakhirkan data, terutama dalam bidang prasejarah yang selama dua dekade terakhir mengalami banyak perkembangan.
“Saya senang, bahkan ingin bantu sepenuhnya. Karena saya lihat editor menyampaikan buku ini untuk update data, dan itu saya sangat setuju,” ungkapnya dalam diskusi luring bertajuk Prasejarah Bukan Sejarah yang digelar Center For Prehistory and Austronesian Studies (CPAS).
Menurut Truman, dalam bidang prasejarah, memang ada banyak sekali temuan baru. Dia pun menyambut baik jika temuan-temuan itu bisa masuk ke dalam buku tersebut.
Sebab, penemuan baru di bidang prasejarah selalu punya dampak besar. Sebab, penemuan ini tidak hanya menambah pengetahuan faktual, tetapi juga menggugah lahirnya pandangan-pandangan baru atau bahkan membongkar pemahaman lama.
Namun, seiring jalannya proses, Truman mencatat ada banyak kejanggalan yang muncul. Setidaknya, lanjutnya, ada lima hal yang tidak lazim muncul dalam penyusunan buku ini.
Pertama, soal target penyusunan yang terlalu cepat dan tidak realistis. Truman menyayangkan bahwa proses penyusunan ulang Buku Sejarah Nasional Indonesia dikejar tenggat hanya dalam waktu sekitar lima bulan, yakni dari Januari hingga Juni.
Menurutnya, target itu tidak sepadan dengan kompleksitas dan tanggung jawab akademik dalam menyusun buku sejarah berskala nasional. Dia pun membandingkannya dengan proyek buku Indonesia dalam Arus Sejarah (IDAS) yang disusun selama sepuluh tahun penuh (2002–2012).
“Bukan main. Kita yang sudah biasa menulis buku sejarah bisa butuh waktu bertahun-tahun,” ujar Truman.
Kedua, adanya dugaan intervensi penguasa dalam konsepsi ilmiah. Truman menjelaskan bahwa kejanggalan ini telah menyentuh integritas independensi akademik.
Dengan demikian, penulisan buku tidak tumbuh dari semangat akademik yang bebas, melainkan dirancang oleh editor umum berdasarkan arahan langsung dari pejabat negara.
“Konsepsi penulisan buku itu disusun editor umum arahan penguasa. Saya masih ingat ketika rapat persiapan pertama di akhir November. Menteri ada di rapat itu. Lalu, bahkan di bulan Januari masih perlu lagi mengarahkan tim editor dalam suatu rapat di sore hari. Janganlah menyusun konsepsi itu di bawah arahan penguasa,” tuturnya.
Menurutnya, wilayah keilmuan yang seharusnya steril dari pengaruh luar. Truman juga mengkritik penyusunan buku ini tidak didahului oleh diskusi akademik yang terbuka seperti seminar atau lokakarya.
Alih-alih menjaring pemikiran dari para ahli lintas bidang, penyusunan hanya didasarkan pada rapat-rapat terbatas. Truman menilai hal ini sebagai bentuk pelemahan proses verifikasi ilmiah.
Ketiga, arkeolog ternama ini juga mengkritik perihal aspek metodologis, terutama di bab prasejarah. Dia menyebut outline atau kerangka jilid tentang prasejarah justru ditulis oleh sejarawan, bukan prasejarawan.
Penerima Sarwono Awards 2015 ini juga menilai hal tersebut menyebabkan konten yang direduksi secara signifikan serta banyaknya kekeliruan dalam struktur dan alur pikir. Selain itu, penyusunan seperti ini dapat mengakibatkan kemunduran narasi yang sudah berkembang dalam penelitian arkeologi modern.
Keempat, kejanggalan yang paling memantik perdebatan adalah keputusan mengganti istilah prasejarah menjadi sejarah awal. Truman dengan tegas menolak istilah tersebut karena bertentangan dengan kerangka ilmiah yang telah mapan.
Menurutnya, perubahan istilah itu bukan sekadar semantik, melainkan membawa konsekuensi epistemologis yang serius. Sebab, ini menyangkut bidang keilmuwan dan cara berpikir yang jelas-jelas berbeda antara sejarawan dan prasejarawan. Hal ini karena Studi prasejarah pun memiliki metode dan pendekatan sendiri.
Kelima, kritik Truman berkaitan dengan narasi “Indonesia-sentris” yang cenderung glorifikatif dan tidak obyektif. Dia mengingatkan bahwa dalam ilmu pengetahuan, kebenaran tidak boleh disaring melalui lensa politik atau kebanggaan nasional berlebihan.
“Kalau salah ya katakan salah. Kalau hebat ya puji. Tapi kalau tidak, jangan direkayasa,” tegasnya.
Baca juga: Penulisan Ulang Sejarah Nasional Tekankan Perspektif Indonesia-Sentris dengan Tone Positif
Truman mengingatkan agar narasi akademik tidak dicemari bahasa politik yang bombastis dan penuh sensasi. Sebab, ada konsekuensi besar yang menanti. “Jangan ngarang. Sekali Anda mengarang, Anda tak akan dipercaya lagi seumur hidup,” pungkasnya.
Keterlibatan Prof. Truman dalam penyusunan buku ini berawal dari ajakan langsung sejak tahap persiapan. Dia mengaku ‘dieret-eret’ untuk bergabung ke dalam tim. Akhirnya dia menyetujuinya.
Baca juga: JJ Rizal: Menyongsong 500 Tahun Jakarta dengan Memahami Sejarah untuk Modal Masa Depan
Pada awalnya, dirinya cukup menyambut baik proyek tersebut. Truman bercerita bahwa saat rapat-rapat awal penyusunan telah dimulai sejak akhir November dan berlanjut ke Desember 2024. Lalu pada Januari 2025, tim mulai memasuki tahap konsepsi.
Optimisme Truman muncul karena ada janji bahwa proyek itu bertujuan memutakhirkan data, terutama dalam bidang prasejarah yang selama dua dekade terakhir mengalami banyak perkembangan.
“Saya senang, bahkan ingin bantu sepenuhnya. Karena saya lihat editor menyampaikan buku ini untuk update data, dan itu saya sangat setuju,” ungkapnya dalam diskusi luring bertajuk Prasejarah Bukan Sejarah yang digelar Center For Prehistory and Austronesian Studies (CPAS).
Menurut Truman, dalam bidang prasejarah, memang ada banyak sekali temuan baru. Dia pun menyambut baik jika temuan-temuan itu bisa masuk ke dalam buku tersebut.
Sebab, penemuan baru di bidang prasejarah selalu punya dampak besar. Sebab, penemuan ini tidak hanya menambah pengetahuan faktual, tetapi juga menggugah lahirnya pandangan-pandangan baru atau bahkan membongkar pemahaman lama.
Namun, seiring jalannya proses, Truman mencatat ada banyak kejanggalan yang muncul. Setidaknya, lanjutnya, ada lima hal yang tidak lazim muncul dalam penyusunan buku ini.
Pertama, soal target penyusunan yang terlalu cepat dan tidak realistis. Truman menyayangkan bahwa proses penyusunan ulang Buku Sejarah Nasional Indonesia dikejar tenggat hanya dalam waktu sekitar lima bulan, yakni dari Januari hingga Juni.
Menurutnya, target itu tidak sepadan dengan kompleksitas dan tanggung jawab akademik dalam menyusun buku sejarah berskala nasional. Dia pun membandingkannya dengan proyek buku Indonesia dalam Arus Sejarah (IDAS) yang disusun selama sepuluh tahun penuh (2002–2012).
“Bukan main. Kita yang sudah biasa menulis buku sejarah bisa butuh waktu bertahun-tahun,” ujar Truman.
Kedua, adanya dugaan intervensi penguasa dalam konsepsi ilmiah. Truman menjelaskan bahwa kejanggalan ini telah menyentuh integritas independensi akademik.
Dengan demikian, penulisan buku tidak tumbuh dari semangat akademik yang bebas, melainkan dirancang oleh editor umum berdasarkan arahan langsung dari pejabat negara.
“Konsepsi penulisan buku itu disusun editor umum arahan penguasa. Saya masih ingat ketika rapat persiapan pertama di akhir November. Menteri ada di rapat itu. Lalu, bahkan di bulan Januari masih perlu lagi mengarahkan tim editor dalam suatu rapat di sore hari. Janganlah menyusun konsepsi itu di bawah arahan penguasa,” tuturnya.
Menurutnya, wilayah keilmuan yang seharusnya steril dari pengaruh luar. Truman juga mengkritik penyusunan buku ini tidak didahului oleh diskusi akademik yang terbuka seperti seminar atau lokakarya.
Alih-alih menjaring pemikiran dari para ahli lintas bidang, penyusunan hanya didasarkan pada rapat-rapat terbatas. Truman menilai hal ini sebagai bentuk pelemahan proses verifikasi ilmiah.
Ketiga, arkeolog ternama ini juga mengkritik perihal aspek metodologis, terutama di bab prasejarah. Dia menyebut outline atau kerangka jilid tentang prasejarah justru ditulis oleh sejarawan, bukan prasejarawan.
“Mestinya yang menyusun outline itu orang-orang yang ahli di bidang itu, bukan ahli lain. Itu sangat logis. Dalam bahasa Batak ini disebut marambalangan, atau kacau balau semua nanti,” imbuhnya.
Penerima Sarwono Awards 2015 ini juga menilai hal tersebut menyebabkan konten yang direduksi secara signifikan serta banyaknya kekeliruan dalam struktur dan alur pikir. Selain itu, penyusunan seperti ini dapat mengakibatkan kemunduran narasi yang sudah berkembang dalam penelitian arkeologi modern.
Keempat, kejanggalan yang paling memantik perdebatan adalah keputusan mengganti istilah prasejarah menjadi sejarah awal. Truman dengan tegas menolak istilah tersebut karena bertentangan dengan kerangka ilmiah yang telah mapan.
Menurutnya, perubahan istilah itu bukan sekadar semantik, melainkan membawa konsekuensi epistemologis yang serius. Sebab, ini menyangkut bidang keilmuwan dan cara berpikir yang jelas-jelas berbeda antara sejarawan dan prasejarawan. Hal ini karena Studi prasejarah pun memiliki metode dan pendekatan sendiri.
Kelima, kritik Truman berkaitan dengan narasi “Indonesia-sentris” yang cenderung glorifikatif dan tidak obyektif. Dia mengingatkan bahwa dalam ilmu pengetahuan, kebenaran tidak boleh disaring melalui lensa politik atau kebanggaan nasional berlebihan.
“Kalau salah ya katakan salah. Kalau hebat ya puji. Tapi kalau tidak, jangan direkayasa,” tegasnya.
Baca juga: Penulisan Ulang Sejarah Nasional Tekankan Perspektif Indonesia-Sentris dengan Tone Positif
Truman mengingatkan agar narasi akademik tidak dicemari bahasa politik yang bombastis dan penuh sensasi. Sebab, ada konsekuensi besar yang menanti. “Jangan ngarang. Sekali Anda mengarang, Anda tak akan dipercaya lagi seumur hidup,” pungkasnya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.