Can’s Gallery & Sangkring Art Space Berkolaborasi Rayakan Spiritualitas dan Spontanitas Seni
18 June 2025 |
12:30 WIB
Can’s Gallery bekerja sama dengan Sangkring Art Space bakal menghadirkan dua pameran seni yang menarik untuk dikunjungi. Kedua pameran itu adalah, Guru Giri, seteleng tunggal Putu Sutawijaya, dan SELA, pameran kelompok dari 22 seniman lintas generasi, yang dibuka pada Rabu, 18 Juni 2025.
Meskipun berbeda dalam pendekatan dan spirit, keduanya digadang bakal menawarkan perspektif yang saling memperkaya: satu mengajak merenung dari ketinggian gunung, satu lagi mengamati kehidupan dari jeda waktu yang kerap luput dari realitas yang dihadapi dalam keseharian.
Baca juga: Pameran Once Was: Memori yang Bergerak Lewat Boneka dan Arang
Dalam Guru Giri, Putu Sutawijaya menjadikan gunung sebagai sumber pengetahuan, ruang spiritual, sekaligus medan tafsir atas relasi manusia dan alam. Gunung, baginya, bukan sekadar objek lanskap, tetapi entitas hidup yang menyimpan sejarah, nilai, dan energi.
"Karya-karya yang Putu hadirkan tak hanya menggambarkan Gunung Merapi sebagai bentuk, tetapi sebagai ruang batin tempat manusia bisa belajar—berguru pada alam yang agung," tulis Can’s Gallery dalam taklimat resmi.
Menurut Can’s Gallery, Gunung dalam karya Putu adalah ruang kontemplatif. Pameran ini juga menjadi undangan untuk berhenti sejenak, menepi dari rutinitas, dan merenungi bagaimana manusia telah dan terus membentuk ikatan dengan alam yang dalam dan penuh hormat.
Lukisan-lukisan dan instalasi dalam pameran ini juga menyimpan kepadatan spiritual. Atmosfer yang dibangun tidak menggurui, melainkan mengajak penonton menyelami lanskap pegunungan sebagai ruang hidup yang sakral.
"Dalam tafsir Putu, gunung bukan sekadar titik geografis, tetapi simpul energi kultural dan eksistensial,"imbuhnya.
Sementara itu, pameran SELA menawarkan pendekatan yang lebih kasual namun tak kalah bermakna. Diisi oleh 22 seniman dengan latar beragam, di antaranya Muklay, Lala Bohang, Iwan Suastika, Naufal Abshar, hingga Liunic.
Pameran ini, nantinya akan menyoroti aktivitas-aktivitas kecil yang mereka lakukan di sela waktu berkarya. Aktivitas yang mungkin tampak sepele, tapi justru menjadi pemantik ide dan kesenangan yang jujur, terutama dalam mengartikulasikan ide.
Alih-alih melihat hobi sebagai pelarian, para seniman dalam SELA justru menjadikannya sebagai perpanjangan dari hidup kreatif. Bermain gim, memelihara tanaman, bersepeda, mendengarkan musik, hingga menggambar tanpa tujuan—semua hadir sebagai sumber daya kreatif yang ringan tapi otentik.
Melalui pameran ini, batas antara waktu produktif dan waktu luang menjadi kabur. Karya-karya yang dihasilkan bukan sekadar representasi dari hobi, tapi juga refleksi atas keseharian yang membentuk kepribadian dan ritme hidup seniman.
Menariknya, kedua pameran ini secara paralel akan memberi dinamika yang kaya bagi pengunjung. Di satu sisi, ada pameran yang mengajak untuk merenung dalam-dalam pada lanskap yang agung. Di sisi lain, ada ruang yang merayakan spontanitas dan keintiman dalam keseharian.
Baca juga: Pameran Gion dalam Simulasi, Saat Seni Gambar Jadi Medan Tafsir Sosial
Pembukaan kedua pameran ini akan berlangsung pada 18 Juni 2025, pukul 17.30 WIB di Sangkring Art Space, Yogyakarta. Guru Giri akan berlangsung hingga 18 Agustus 2025, sedangkan SELA dapat disaksikan hingga 18 Juli 2025.
Kolaborasi ini disebut akan menjadi penanda penting bahwa spiritualitas dan spontanitas dapat berjalan seiring dalam praktik seni yang reflektif dan segar. Terlebih pengunjung juga akan melihat lanskap berkesenian yang beragam.
Meskipun berbeda dalam pendekatan dan spirit, keduanya digadang bakal menawarkan perspektif yang saling memperkaya: satu mengajak merenung dari ketinggian gunung, satu lagi mengamati kehidupan dari jeda waktu yang kerap luput dari realitas yang dihadapi dalam keseharian.
Baca juga: Pameran Once Was: Memori yang Bergerak Lewat Boneka dan Arang
Dalam Guru Giri, Putu Sutawijaya menjadikan gunung sebagai sumber pengetahuan, ruang spiritual, sekaligus medan tafsir atas relasi manusia dan alam. Gunung, baginya, bukan sekadar objek lanskap, tetapi entitas hidup yang menyimpan sejarah, nilai, dan energi.
"Karya-karya yang Putu hadirkan tak hanya menggambarkan Gunung Merapi sebagai bentuk, tetapi sebagai ruang batin tempat manusia bisa belajar—berguru pada alam yang agung," tulis Can’s Gallery dalam taklimat resmi.
Menurut Can’s Gallery, Gunung dalam karya Putu adalah ruang kontemplatif. Pameran ini juga menjadi undangan untuk berhenti sejenak, menepi dari rutinitas, dan merenungi bagaimana manusia telah dan terus membentuk ikatan dengan alam yang dalam dan penuh hormat.
Lukisan-lukisan dan instalasi dalam pameran ini juga menyimpan kepadatan spiritual. Atmosfer yang dibangun tidak menggurui, melainkan mengajak penonton menyelami lanskap pegunungan sebagai ruang hidup yang sakral.
"Dalam tafsir Putu, gunung bukan sekadar titik geografis, tetapi simpul energi kultural dan eksistensial,"imbuhnya.
Sementara itu, pameran SELA menawarkan pendekatan yang lebih kasual namun tak kalah bermakna. Diisi oleh 22 seniman dengan latar beragam, di antaranya Muklay, Lala Bohang, Iwan Suastika, Naufal Abshar, hingga Liunic.
Pameran ini, nantinya akan menyoroti aktivitas-aktivitas kecil yang mereka lakukan di sela waktu berkarya. Aktivitas yang mungkin tampak sepele, tapi justru menjadi pemantik ide dan kesenangan yang jujur, terutama dalam mengartikulasikan ide.
Alih-alih melihat hobi sebagai pelarian, para seniman dalam SELA justru menjadikannya sebagai perpanjangan dari hidup kreatif. Bermain gim, memelihara tanaman, bersepeda, mendengarkan musik, hingga menggambar tanpa tujuan—semua hadir sebagai sumber daya kreatif yang ringan tapi otentik.
Melalui pameran ini, batas antara waktu produktif dan waktu luang menjadi kabur. Karya-karya yang dihasilkan bukan sekadar representasi dari hobi, tapi juga refleksi atas keseharian yang membentuk kepribadian dan ritme hidup seniman.
Menariknya, kedua pameran ini secara paralel akan memberi dinamika yang kaya bagi pengunjung. Di satu sisi, ada pameran yang mengajak untuk merenung dalam-dalam pada lanskap yang agung. Di sisi lain, ada ruang yang merayakan spontanitas dan keintiman dalam keseharian.
Baca juga: Pameran Gion dalam Simulasi, Saat Seni Gambar Jadi Medan Tafsir Sosial
Pembukaan kedua pameran ini akan berlangsung pada 18 Juni 2025, pukul 17.30 WIB di Sangkring Art Space, Yogyakarta. Guru Giri akan berlangsung hingga 18 Agustus 2025, sedangkan SELA dapat disaksikan hingga 18 Juli 2025.
Kolaborasi ini disebut akan menjadi penanda penting bahwa spiritualitas dan spontanitas dapat berjalan seiring dalam praktik seni yang reflektif dan segar. Terlebih pengunjung juga akan melihat lanskap berkesenian yang beragam.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.