Istilah Baru Gen Z Tentang Mental Health: Bed Rotting, Lazy Girl Jobs, dan Toxic productivity
30 May 2025 |
11:00 WIB
Gen Z telah memperkenalkan sejumlah istilah baru yang merefleksikan cara pandang mereka terhadap kesehatan mental, pekerjaan, dan keseimbangan hidup. Belakangan ini viral di media sosial TikTok, istilah-istilah seperti Bed Rotting, Lazy Girl Jobs, dan Toxic Productivity.
Istilah populer tersebut memicu diskusi yang lebih luas tentang topik-topik seperti burnout, tekanan kerja, dan upaya untuk memulihkan diri di tengah dunia yang serba cepat. Pada akhirnya ini menuntun mereka untuk mendefinisikan ulang arti sukses yang dijadikan standar oleh generasi sebelumnya.
Baca juga: Mengenal Istilah Mental Strawberry yang Identik dengan Generasi Muda
Lewat bahasa ringan namun tajam, generasi ini menantang norma lama yang mengaitkan nilai diri mereka dengan produktivitas tanpa henti yang menjadi parameter sebuah kesuksesan. Nah Genhype, yuk mengupas lebih dalam makna di balik ketiga istilah berikut ini.
Tren ini dianggap sebagai bentuk self-care untuk mengatasi stres dan burnout, terutama di kalangan Gen Z yang sering menghadapi tekanan dari pekerjaan, sekolah, dan tuntutan sosial.
Ryan Sultan , asisten profesor psikiatri klinis di Columbia University Irving Medical Center/New York State Psychiatric Institute, memaparkan kepada Health, meskipun bisa memberikan manfaat jangka pendek, terlalu sering melakukan bed rotting dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik
"Jika bed rotting menjadi kebiasaan, hal itu berpotensi menjadi gangguan tidur, isolasi sosial, dan peningkatan gejala depresi atau kecemasan," kata Sultan.
Istilah ini dipopulerkan oleh influencer TikTok Gabrielle Judge, yang mendefinisikannya sebagai pekerjaan dengan tingkat stres rendah yang bisa dilakukan secara remote dan memberikan kebebasan finansial.
Tren ini muncul sebagai respons terhadap budaya kerja yang menekankan produktivitas berlebihan. Lazy Girl Job pun dipopulerkan supaya orang-orang bisa tetap bekerja dengan produktif sambill menjaga kesehatan mental dan mencegah burnout.
"Produktivitas toksik berasal dari tekanan sosial yang mengagungkan kerja berlebihan sebagai ukuran nilai diri, pola pikir ini menciptakan siklus berbahaya di mana bahkan waktu istirahat pun terasa seperti sebuah kegagalan," kata psikolog Devon Price, penulis buku Laziness Does Not Exist.
Produktivitas toksik dapat menyebabkan stres kronis, kelelahan, gangguan tidur, dan masalah kesehatan mental lainnya. Selain itu, juga bisa menurunkan kualitas hubungan dengan orang di sekitarmu.
Sebaliknya, produktivitas yang sehat adalah tentang keseimbangan. Setiap orang bekerja dengan efisien namun tetap memiliki waktu untuk memulihkan energi. Lingkungan kerja mendukung bahwa kesejahteraan pekerja sama pentingnya dengan hasil kerja. Melalui cara ini, kreativitas akan terus bertumbuh, semangat kolaborasi meningkat, dan anggota tim akan selalu bersemangat dalam bekerja.
Istilah populer tersebut memicu diskusi yang lebih luas tentang topik-topik seperti burnout, tekanan kerja, dan upaya untuk memulihkan diri di tengah dunia yang serba cepat. Pada akhirnya ini menuntun mereka untuk mendefinisikan ulang arti sukses yang dijadikan standar oleh generasi sebelumnya.
Baca juga: Mengenal Istilah Mental Strawberry yang Identik dengan Generasi Muda
Lewat bahasa ringan namun tajam, generasi ini menantang norma lama yang mengaitkan nilai diri mereka dengan produktivitas tanpa henti yang menjadi parameter sebuah kesuksesan. Nah Genhype, yuk mengupas lebih dalam makna di balik ketiga istilah berikut ini.
1. Bed Rotting
Bed rotting adalah tren yang populer di TikTok, di mana seseorang menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur bukan untuk tidur, tetapi untuk melakukan aktivitas pasif seperti menonton TV, scrolling media sosial, atau makan camilan.Tren ini dianggap sebagai bentuk self-care untuk mengatasi stres dan burnout, terutama di kalangan Gen Z yang sering menghadapi tekanan dari pekerjaan, sekolah, dan tuntutan sosial.
Ryan Sultan , asisten profesor psikiatri klinis di Columbia University Irving Medical Center/New York State Psychiatric Institute, memaparkan kepada Health, meskipun bisa memberikan manfaat jangka pendek, terlalu sering melakukan bed rotting dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik
"Jika bed rotting menjadi kebiasaan, hal itu berpotensi menjadi gangguan tidur, isolasi sosial, dan peningkatan gejala depresi atau kecemasan," kata Sultan.
2. Lazy Girl Jobs
Istilah Lazy Girl Jobs merujuk pada pekerjaan yang menawarkan gaji layak namun memungkinkan keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi. Pekerjaan ini biasanya tidak memerlukan komitmen waktu yang berlebihan dan memberikan fleksibilitas kepada karyawan.Istilah ini dipopulerkan oleh influencer TikTok Gabrielle Judge, yang mendefinisikannya sebagai pekerjaan dengan tingkat stres rendah yang bisa dilakukan secara remote dan memberikan kebebasan finansial.
Tren ini muncul sebagai respons terhadap budaya kerja yang menekankan produktivitas berlebihan. Lazy Girl Job pun dipopulerkan supaya orang-orang bisa tetap bekerja dengan produktif sambill menjaga kesehatan mental dan mencegah burnout.
3. Toxic Productivity
Toxic productivity adalah obsesi untuk selalu produktif, bahkan di luar jam kerja, yang sering kali mengorbankan kesehatan mental dan fisik. Ciri-cirinya adalah merasa bersalah saat tidak melakukan sesuatu yang dianggap produktif, sulit untuk beristirahat atau bersantai tanpa merasa cemas, dan mengukur nilai diri berdasarkan seberapa banyak yang dicapai."Produktivitas toksik berasal dari tekanan sosial yang mengagungkan kerja berlebihan sebagai ukuran nilai diri, pola pikir ini menciptakan siklus berbahaya di mana bahkan waktu istirahat pun terasa seperti sebuah kegagalan," kata psikolog Devon Price, penulis buku Laziness Does Not Exist.
Produktivitas toksik dapat menyebabkan stres kronis, kelelahan, gangguan tidur, dan masalah kesehatan mental lainnya. Selain itu, juga bisa menurunkan kualitas hubungan dengan orang di sekitarmu.
Sebaliknya, produktivitas yang sehat adalah tentang keseimbangan. Setiap orang bekerja dengan efisien namun tetap memiliki waktu untuk memulihkan energi. Lingkungan kerja mendukung bahwa kesejahteraan pekerja sama pentingnya dengan hasil kerja. Melalui cara ini, kreativitas akan terus bertumbuh, semangat kolaborasi meningkat, dan anggota tim akan selalu bersemangat dalam bekerja.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.