Anak-anak (Sumber gambar: Unsplash/ Ben Wicks)

Ketika Anak Menjadi Saksi Tindakan Kekerasan, Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

28 September 2025   |   08:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Kala, putri pasangan artis Zaskia Adya Mecca dan Hanung Bramantyo belum lama ini mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan. Kala harus dibawa ke psikolog anak setelah diduga mengalami trauma akibat penganiayaan terhadap karyawan Zaskia, Faisal, saat mengantarnya ke sekolah.

Kala menyaksikan sendiri momen ketika pengantarnya dipukul oleh seorang pengendara motor yang bersikap arogan di jalan. Peristiwa tersebut rupanya masih meninggalkan jejak dalam ingatannya. Hal itu diungkapkan Zaskia Adya Mecca melalui akun Instagram pribadinya beberapa waktu lalu.

“Ps, makasi paman Haykal Kamil dan Tantri Namirah, juga Marsha Natika udah dampingi Kala hari ini untuk ke psikolog,” tulis Zaskia Adya Mecca dalam unggahannya.

Baca Juga: Cara Mengenali dan Mengatasi Gangguan Mental pada Anak Akibat Kecanduan Teknologi

Peristiwa yang dialami Kala menunjukkan betapa rentannya anak-anak terhadap dampak dari situasi kekerasan. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa kekerasan yang terlihat langsung oleh anak dapat membawa konsekuensi yang lebih besar, bahkan meski bukan korban langsung misalnya.

Psikolog Keluarga dan Anak, Astrid WEN, menjelaskan bahwa anak yang menyaksikan kekerasan secara langsung tetap tergolong sebagai korban. Meski tampaknya tidak terlibat langsung, pengalaman tersebut termasuk kategori trauma primer. 

“Istilah umumnya dikenal sebagai Trauma Saksi atau Trauma Exposure,” ujar Astrid kepada Hypeabis.id

Trauma semacam ini, kata Astrid, dapat meningkatkan risiko gangguan psikologis seperti PTSD, kecemasan, depresi, hingga penurunan performa akademik. Semakin sering seorang anak terpapar kekerasan, semakin tinggi pula tingkat risiko gangguannya.

Orang tua perlu mengenali gejala trauma yang muncul pada anak. Perubahan perilaku, emosi, pola tidur, atau pola makan biasanya terjadi dalam satu bulan setelah peristiwa. Jika kondisi tersebut tidak membaik setelah satu bulan dan mengganggu keseharian, orang tua perlu mulai waspada.

Gejala yang perlu diperhatikan antara lain emosi yang sangat intens seperti rasa takut atau sedih berkepanjangan, rasa bersalah berlebih, mimpi buruk atau flashback, hingga penolakan ekstrem pada hal-hal yang terkait dengan kejadian traumatis. Bahkan, pada beberapa anak dapat muncul keinginan menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Apabila tanda-tanda tersebut muncul, langkah paling tepat adalah membawa anak ke psikolog atau ahli yang berpengalaman menangani kasus trauma pada anak. Pendampingan profesional dapat membantu proses pemulihan anak secara lebih terarah.

Menurut Astrid, salah satu kunci penting ketika anak mulai trauma akibat kekerasan yang dilihatnya ialah dengan menghadirkan rasa aman di sekitar anak. Orang tua harus menjaga sikap tenang agar anak merasa dilindungi.

“Validasi emosi anak dan beri ruang baginya untuk beristirahat atau bercerita ketika ia siap. Ini membantu membentuk ketahanan emosinya,” jelasnya.

Selain itu, orang tua disarankan untuk mengamati ritme keseharian anak dalam satu bulan pertama setelah kejadian. Usahakan anak tetap menjalani aktivitas wajar, beri waktu adaptasi, dan dengarkan ceritanya secara penuh. Dengan langkah ini, anak dapat lebih cepat pulih dan kembali merasa kuat setelah pengalaman traumatis.

Kemudian, lingkungan juga memiliki peran penting dalam proses ini. Sekolah, misalnya, dapat memberikan dukungan dengan bekerja sama bersama orang tua serta tenaga ahli apabila diperlukan penyesuaian perlakuan terhadap anak selama menjalani masa pemulihan trauma. Jika muncul rumor negatif yang berpotensi meningkatkan risiko anak terpapar kekerasan, pihak sekolah bisa segera melakukan psikoedukasi kepada kelas maupun lingkungan sekolah dengan tujuan melindungi anak.

Baca Juga: Risiko Konten Negatif Hingga Kejahatan Siber Mengintai Anak-anak di Roblox

SEBELUMNYA

Titi Kamal Punya Ritual Khusus saat Jalani Adegan Berat di Film Air Mata di Ujung Sajadah 2

BERIKUTNYA

Kenal Lebih Dekat dengan 3 Maskot Baru Piala Dunia 2026 dari AS, Meksiko, dan Kanada

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga