tren ini bukan hanya respons terhadap kejenuhan digital, tetapi juga bagian dari kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. (sumber gambar: Unsplash/Max Vertsanov)

Digital Detox Retreat, Tren Liburan Baru Favorit Milenial & Gen Z 2025

05 June 2025   |   06:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah riuhnya dunia digital yang tak kenal jeda, tren wisata wellness dan eco-tourism sepertinya telah menjadi pelarian favorit generasi milenial dan Gen Z untuk sejenak memberi jeda pada kebiasan mereka untuk memegang gawai. 

Tahun 2025, diprediksi juga akan menjadi puncak dari kebangkitan tren digital detox retreat, alias liburan tanpa sinyal, tanpa notifikasi, dan tanpa layar, yang kian diminati oleh para pekerja urban yang sedang mengalami burnout.

Pengamat pariwisata dari Politeknik Sahid, FX Setiyo Wibowo, menyebutkan bahwa kesadaran akan dampak negatif dari keterhubungan digital berlebih telah mendorong generasi muda untuk mencari pengalaman liburan yang memungkinkan mereka benar-benar "lepas dari gawai".

Baca Juga: Pentingnya Detoks Digital saat Menghadapi Tekanan Psikis di Media Sosial

“Fenomena digital detox retreat paling efektif menyasar milenial yang mengalami burnout dan pekerja kantoran, karena mereka paling merasakan dampak dari kelebihan teknologi dan stres kerja,” kata Setiyo.

Survei Nielsen 2024 mencatat, 65 persen milenial mengaku merasa terlalu bergantung pada ponsel dan internet. Bahkan 70 persen dari mereka merasa perlu menjauh sejenak dari dunia digital demi menjaga kesehatan mental.

Selain detoks, konsep wisata Joy of Missing Out (JOMO) juga sedang naik daun. Kebalikan dari Fear of Missing Out (FOMO), tren ini mendorong wisatawan untuk menikmati kesendirian, menjauh dari hiruk pikuk, dan hadir penuh dalam momen tanpa tekanan sosial dari dunia maya.

Menurut Setiyo, tren ini bukan hanya respons terhadap kejenuhan digital, tetapi juga bagian dari kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Industri pariwisata pun mulai beradaptasi. Banyak resor kini menyediakan paket healing lengkap dengan yoga, meditasi, hingga lokakarya seputar kesehatan jiwa.

“Indonesia punya destinasi yang sangat ideal untuk digital detox, seperti Raja Ampat yang cantik tapi minim sinyal,” tambah Setiyo.

 

Gaya Hidup atau Sekadar Tren?


Namun, psikolog Adi Dinardinata mengingatkan bahwa digital detox retreat belum tentu mencerminkan perubahan perilaku jangka panjang. Sebab, bukan tidak mungkin setelah retreat mereka justru kembali ke kebiasaan lama: bangun tidur langsung cek HP, multitasking sepanjang hari, dan scrolling sebelum tidur.

“Kalau setelah retreat tetap kembali ke pola lama, maka ini hanya jadi simbol status atau tren sesaat,” ungkap Adi.

Menurutnya, paparan digital hari ini jauh lebih melelahkan karena dirancang untuk menahan perhatian. Konten media sosial dibuat agar memicu reaksi emosional, seperti tertawa, marah, iri, dan takut—yang justru menguras energi mental dan menyebabkan kelelahan sistem saraf.

Dampaknya, papar Adi adalah seseorang bakal sulit tidur, mudah cemas, dan sulit fokus. Bahkan kehadiran orang lain dalam kehidupan nyata bisa terganggu karena pikirannya masih tertinggal di layar terakhir yang ditatap.

Meski demikian, Adi menilai bahwa jeda singkat dari media sosial, selama 1–3 hari, dapat membantu menurunkan kecemasan dan memperbaiki suasana hati. Hanya saja, retreat seperti ini bukanlah bentuk terapi, melainkan istirahat mental yang perlu disertai kesadaran.

“Retreat bisa menjadi pendukung proses pemulihan, asalkan dilakukan dengan sadar, bukan sebagai bentuk pelarian,” tegasnya.

Adi menambahkan bahwa manfaat dari digital detox yang disertai praktik mindfulness memang positif, namun tidak bisa disamakan dengan efektivitas terapi klinis seperti CBT (Cognitive Behavioral Therapy) atau psikoterapi.

"Retreat yang menyertakan praktik mindfulness memang bisa membantu meningkatkan well-being, tapi manfaatnya masih bersifat umum," imbuhnya.

Baca Juga: Kenali Gejala, Penyebab & Cara Mencegah Brain Rot Akibat Banyak Konsumsi Konten Receh

SEBELUMNYA

Gaya Hidup Sehat Naik Daun, Ini 6 Barang Wajib Biar Olahraga Makin Seru

BERIKUTNYA

Alasan Kristo Immanuel Pakai Teknik Breaking The 4th Wall di Film Tinggal Meninggal

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga