Riil, Ini Manfaat Detoks Media Sosial untuk Kesehatan Mental
19 June 2025 |
21:20 WIB
Sudah hampir satu tahun terakhir, Tasya Komara Sari mengambil keputusan yang jarang dilakukan generasi digital saat ini yaitu keluar dari media sosial Instagram, atau yang kini dikenal dengan istilah detoks media sosial.
Langkah ini dimulai dari upayanya melepaskan ketergantungan terhadap Instagram. Sebab, dalam beberapa waktu terakhir ini, Tasya kerap membandingkan dirinya dengan pencapaian teman-temannya yang dianggap lebih "sukses" dan "hebat". Hal ini membuatnya merasa tidak pernah cukup, sulit tidur, dan sering diliputi kecemasan.
Bagi Tasya, media sosial instagram begitu lekat dalam hidupnya. Dia terbiasa membagikan hampir seluruh aktivitas hariannya demi menunjukkan pencapaian dan eksistensinya. Namun lama-kelamaan, dia merasa kebiasaan tersebut tidak baik untuk kesehatan mentalnya.
Baca Juga: Pentingnya Detoks Digital saat Menghadapi Tekanan Psikis di Media Sosial
Meski awalnya berat, keputusan untuk rehat dari Instagram justru membawanya pada proses refleksi mendalam dan mengubah pola pikir. "Ternyata setelah aku nggak pakai Instagram selama hampir setahun, hidupku berubah. Aku jadi lebih produktif karena fokus ke diri sendiri, tanpa membandingkan dengan pencapaian orang lain," ujar Tasya dalam kanal YouTube pribadinya.
Namun Tasya tidak sepenuhnya meninggalkan media sosial. Mahasiswi di salah satu universitas di Serbia ini masih aktif di TikTok, tetapi digunakan sebagai wadah berbagi ilmu, bukan untuk mengejar validasi yang justru melelahkan.
Kisah serupa datang dari Lilyanti, yang sejak 2021 mulai mengurangi ketergantungan pada media sosial. Saat pandemi Covid-19, hampir seluruh aktivitas beralih ke ranah digital. "Waktu itu setiap hari menatap layar, lama-lama rasanya makin mual," kenangnya.
Sebagai seseorang yang lebih menyukai interaksi langsung, Lilyanti memilih detoksifikasi digital secara bertahap. Meski tidak bisa sepenuhnya lepas karena pekerjaannya sebagai jurnalis, dia menerapkan disiplin tinggi, maksimal lima kali cek media sosial dalam jam kerja. "Aku merasa otak lebih rileks, lebih percaya diri, dan hidup terasa lebih hidup," ujarnya.
Hersa Aranti, M.Psi., Psikolog Klinis mengatakan, pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental masyarakat urban sangat signifikan terutama karena media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
“Media sosial menciptakan perbandingan sosial yang konstan. Kita melihat si A sudah jadi apa, si B sudah punya apa, padahal apa yang ditampilkan di sana seringkali tidak menggambarkan kenyataan sepenuhnya,” ujar Hersa.
Paparan terhadap konten-konten yang menampilkan hanya sisi positif kehidupan orang lain dapat membentuk ekspektasi yang tidak realistis.
Hersa menjelaskan bahwa konten seperti pencapaian, gaya hidup ideal, atau bahkan kebahagiaan yang dikurasi, bisa menciptakan ilusi bahwa semua orang sukses, bahagia, dan menarik. “Akhirnya, terbentuk ekspektasi yang tidak sehat terhadap diri sendiri. Individu bisa merasa tertinggal, tidak cukup baik, bahkan mengalami tekanan psikis,” jelasnya.
Salah satu dampak psikologis yang cukup umum adalah munculnya FOMO (fear of missing out) yaitu perasaan cemas karena tidak ikut serta dalam sesuatu yang sedang ramai dilakukan orang lain. Ini bisa memicu kecemasan, rendah diri, hingga gangguan tidur.
Lantas kapan seseorang perlu melakukan detoks digital? Hersa mengatakan hal tersebut bisa dilakukan saat keberfungsian seseorang terganggu. Misalnya ketika sudah tidak bisa fokus bekerja, belajar, bersosialisasi, atau merasa tertekan akibat media sosial, itulah momen tepat untuk mempertimbangkan detoks digital.
“Detoks bisa dilakukan total maupun bertahap. Detoks total selama 3–7 hari bisa membantu reset mental, terutama jika penggunaannya sudah sangat mengganggu. Tapi bagi banyak orang, pembatasan bertahap lebih realistis dan berkelanjutan,” katanya.
Cara ini bisa berupa pengaturan screen time, menghapus aplikasi tertentu, atau menyediakan waktu khusus tanpa gadget. Hersa menekankan pentingnya kesadaran dan konsistensi dalam menjalani detoks digital. “Tujuannya bukan sekadar menjauh dari gawai, tapi untuk menciptakan kembali keseimbangan antara dunia maya dan kehidupan nyata.”
Dalam praktik klinisnya, Hersa sering menangani klien usia 17–30 tahun, terutama mahasiswa dan pekerja muda yang memilih menjalani detoks digital. Alasannya bervariasi, dari kecemasan yang meningkat setelah scrolling, gangguan tidur, perasaan tidak berharga akibat perbandingan sosial, hingga dorongan untuk kembali fokus belajar atau bekerja.
Namun, tantangan terbesar justru datang dari membentuk ulang kebiasaan. “Kita terbiasa dengan notifikasi, update, validasi dari likes. Ketika itu hilang, ada rasa kehilangan dan bahkan FOMO. Butuh waktu dan niat untuk menciptakan ulang pola hidup yang lebih sehat,” tuturnya.
Baca Juga: Tanda-Tanda Kalian Butuh Detoks Media Sosial & Kiat Menjalaninya
Langkah ini dimulai dari upayanya melepaskan ketergantungan terhadap Instagram. Sebab, dalam beberapa waktu terakhir ini, Tasya kerap membandingkan dirinya dengan pencapaian teman-temannya yang dianggap lebih "sukses" dan "hebat". Hal ini membuatnya merasa tidak pernah cukup, sulit tidur, dan sering diliputi kecemasan.
Bagi Tasya, media sosial instagram begitu lekat dalam hidupnya. Dia terbiasa membagikan hampir seluruh aktivitas hariannya demi menunjukkan pencapaian dan eksistensinya. Namun lama-kelamaan, dia merasa kebiasaan tersebut tidak baik untuk kesehatan mentalnya.
Baca Juga: Pentingnya Detoks Digital saat Menghadapi Tekanan Psikis di Media Sosial
Meski awalnya berat, keputusan untuk rehat dari Instagram justru membawanya pada proses refleksi mendalam dan mengubah pola pikir. "Ternyata setelah aku nggak pakai Instagram selama hampir setahun, hidupku berubah. Aku jadi lebih produktif karena fokus ke diri sendiri, tanpa membandingkan dengan pencapaian orang lain," ujar Tasya dalam kanal YouTube pribadinya.
Namun Tasya tidak sepenuhnya meninggalkan media sosial. Mahasiswi di salah satu universitas di Serbia ini masih aktif di TikTok, tetapi digunakan sebagai wadah berbagi ilmu, bukan untuk mengejar validasi yang justru melelahkan.
Kisah serupa datang dari Lilyanti, yang sejak 2021 mulai mengurangi ketergantungan pada media sosial. Saat pandemi Covid-19, hampir seluruh aktivitas beralih ke ranah digital. "Waktu itu setiap hari menatap layar, lama-lama rasanya makin mual," kenangnya.
Sebagai seseorang yang lebih menyukai interaksi langsung, Lilyanti memilih detoksifikasi digital secara bertahap. Meski tidak bisa sepenuhnya lepas karena pekerjaannya sebagai jurnalis, dia menerapkan disiplin tinggi, maksimal lima kali cek media sosial dalam jam kerja. "Aku merasa otak lebih rileks, lebih percaya diri, dan hidup terasa lebih hidup," ujarnya.
Hersa Aranti, M.Psi., Psikolog Klinis mengatakan, pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental masyarakat urban sangat signifikan terutama karena media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
“Media sosial menciptakan perbandingan sosial yang konstan. Kita melihat si A sudah jadi apa, si B sudah punya apa, padahal apa yang ditampilkan di sana seringkali tidak menggambarkan kenyataan sepenuhnya,” ujar Hersa.
Paparan terhadap konten-konten yang menampilkan hanya sisi positif kehidupan orang lain dapat membentuk ekspektasi yang tidak realistis.
Hersa menjelaskan bahwa konten seperti pencapaian, gaya hidup ideal, atau bahkan kebahagiaan yang dikurasi, bisa menciptakan ilusi bahwa semua orang sukses, bahagia, dan menarik. “Akhirnya, terbentuk ekspektasi yang tidak sehat terhadap diri sendiri. Individu bisa merasa tertinggal, tidak cukup baik, bahkan mengalami tekanan psikis,” jelasnya.
Salah satu dampak psikologis yang cukup umum adalah munculnya FOMO (fear of missing out) yaitu perasaan cemas karena tidak ikut serta dalam sesuatu yang sedang ramai dilakukan orang lain. Ini bisa memicu kecemasan, rendah diri, hingga gangguan tidur.
Lantas kapan seseorang perlu melakukan detoks digital? Hersa mengatakan hal tersebut bisa dilakukan saat keberfungsian seseorang terganggu. Misalnya ketika sudah tidak bisa fokus bekerja, belajar, bersosialisasi, atau merasa tertekan akibat media sosial, itulah momen tepat untuk mempertimbangkan detoks digital.
“Detoks bisa dilakukan total maupun bertahap. Detoks total selama 3–7 hari bisa membantu reset mental, terutama jika penggunaannya sudah sangat mengganggu. Tapi bagi banyak orang, pembatasan bertahap lebih realistis dan berkelanjutan,” katanya.
Cara ini bisa berupa pengaturan screen time, menghapus aplikasi tertentu, atau menyediakan waktu khusus tanpa gadget. Hersa menekankan pentingnya kesadaran dan konsistensi dalam menjalani detoks digital. “Tujuannya bukan sekadar menjauh dari gawai, tapi untuk menciptakan kembali keseimbangan antara dunia maya dan kehidupan nyata.”
Dalam praktik klinisnya, Hersa sering menangani klien usia 17–30 tahun, terutama mahasiswa dan pekerja muda yang memilih menjalani detoks digital. Alasannya bervariasi, dari kecemasan yang meningkat setelah scrolling, gangguan tidur, perasaan tidak berharga akibat perbandingan sosial, hingga dorongan untuk kembali fokus belajar atau bekerja.
Namun, tantangan terbesar justru datang dari membentuk ulang kebiasaan. “Kita terbiasa dengan notifikasi, update, validasi dari likes. Ketika itu hilang, ada rasa kehilangan dan bahkan FOMO. Butuh waktu dan niat untuk menciptakan ulang pola hidup yang lebih sehat,” tuturnya.
Baca Juga: Tanda-Tanda Kalian Butuh Detoks Media Sosial & Kiat Menjalaninya
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.