Hypeprofil Ika Natassa: Dinamika di Balik Penulisan Skenario Film Adaptasi Novel
22 May 2025 |
20:30 WIB
Ika Natassa adalah penulis asal Indonesia yang dikenal luas berkat karya-karyanya yang kerap diadaptasi ke layar lebar. Beberapa novel best seller-nya yang telah dibuat film antara lain Twivortiare, Antologi Rasa, Critical Eleven, The Architecture of Love, Heartbreak Motel.
Lahir di Medan pada 25 Desember 1977, Ika memulai karier menulisnya pada 2006. Novel debutnya, A Very Yuppy Wedding, diterbitkan pada 2007 dan menjadi "Editor's Choice" majalah Cosmopolitan Indonesia pada 2008. Selain itu, dia juga dinominasikan sebagai Penulis Muda Berbakat dalam Penghargaan Sastra Khatulistiwa di tahun yang sama.
Novel Ika Natassa yang diadaptasi ke layar lebar adalah Critical Eleven. Diterbitkan pada 2015, novel ini mengisahkan perjalanan cinta antara Ale dan Anya yang dimulai dari pertemuan mereka di pesawat.
Baca Juga: Hypeprofil Aktivis Wenny Aurelia: Menciptakan Ruang Aman Bagi Pejuang Endometriosis
Adaptasi filmnya dirilis pada 2017 dengan judul yang sama, dibintangi oleh Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Disutradarai oleh Monty Tiwa dan Robert Ronny, serta Ika Natassa sendiri sebagai penulis skenario.
Film ini menjadi tonggak awal dalam karier Ika Natassa sebagai penulis yang karya-karyanya sukses diadaptasi ke medium film. Ini kemudian membuka jalan baginya sebagai penulis skenario film adaptasi novelnya sendiri, seperti Antologi Rasa, Twivortiare, dan The Architecture of Love.
Tak hanya sukses di pasaran, film-film tersebut juga mendapatkan apresiasi di festival film bergengsi. Misalnya pada Festival Film Bandung 2017, dia masuk nominasi Penulis Skenario Terpuji Film Bioskop dan pada piala Maya 2017 nominasi Skenario Adaptasi Terpilih untuk Critical Eleven. Lalu, pada Festival Film Indonesia 2024 nominasi Skenario Adaptasi Terbaik untuk The Architecture of Love, bersama Alim Sudio.
Ika Natassa membagikan pandangannya seputar dunia penulisan skenario, serta proses kreatif dan tantangan dalam penggarapan film adaptasi novel yang terkadang tak sesuai ekspektasi penonton.
Ketika ditanya soal apa saja eksperimen sudah dia lakukan dalam meracik skenario film agar cocok dengan penonton Indonesia, Ika menjawab jujur, “Tidak ada yang tahu pasti apa yang berhasil untuk penonton Indonesia.”
Dia menggambarkan selera genre film penonton yang kerap tak terduga. Ketika disuguhkan film komedi, bisa saja meledak atau gagal total. Begitupun film horor bisa sangat sukses sampai mencapai 10 juta penonton atau malah tenggelam meski berkualitas tinggi.
Dalam menghadapi ketidakpastian ini, Ika memiliki satu pegangan. Kuncinya adalah menceritakan kisah yang benar-benar ingin dia ceritakan. Sebagai penulis yang memiliki basis penggemar besar, Ika menyadari adanya ekspektasi tinggi terhadap karyanya. Namun dia menegaskan bahwa prioritasnya tetap pada kualitas cerita.
“Saya tidak bisa menyenangkan semua orang,” katanya.
Ekspektasi besar dari para pembaca, misalnya terlihat dari pemilihan karakter. Tak sedikit yang kecewa ketika tokoh dalam novel favorit mereka tidak sesuai dengan jajaran cast di film adaptasinya.
Salah satu contohnya, Ika kerap diprotes karena terus menggunakan Reza Rahadian sebagai aktor utamanya. Misalnya dalam film Twivortiare, Critical Eleven, dan Heartbreak Motel.
Seringnya Reza Rahadian membintangi film-film adaptasi Ika langsung menimbulkan pertanyaan dari para penikmat karyanya, apakah itu bagian dari strategi pemasaran? Namun, dengan tegas, Ika membantah hal tersebut.
Ika menekankan bahwa sebagai penulis dan kreator, dia diberi kendali penuh dalam pemilihan pemain. Karenanya, dialah yang paling tahu siapa yang tepat untuk peran itu. Contohnya dalam Critical Eleven, tokoh utamanya Aldebaran Risjad atau Ale sangat kompleks dan butuh aktor sekelas Reza Rahadian untuk melakoninya.
Menariknya, Ika juga mengungkap sempat berdebat dengan sutradara Angga Dwimas Sasongko dalam proyek Heartbreak Motel, karena awalnya enggan memilih Reza kembali.
“Tapi ternyata, tetap saja yang paling cocok adalah Reza. Dia pekerja keras, tidak bikin drama di lokasi, dan aktif dalam promosi. Itu penting.”
Kepiawaian aktor dan aktris dalam menghidupkan karakternya, menjadi penentu utama dalam kesuksesan film adaptasi. Mengingat, sebuah film tayang dengan durasi yang tak sebentar, tentunya harus ada magnet yang membuat penonton betah duduk sampai filmnya selesai.
Tokoh utama biasanya memiliki keinginan (wants) yang akan diungkap di awal film, dan kebutuhan (needs) yang baru diketahui seiring cerita berjalan atau di akhir film. Menurutnya, kalau perkembangan karakternya tidak terlihat maka sebuah film bisa jadi sangat monoton.
Selain itu, pengalaman pahit manis bekerja sama dengan produser dan sutradara pun tak luput dia ceritakan. Tak menutup kemungkinan, pasti akan ada perbedaan pendapat soal eksekusi adegan di lokasi syuting.
Misalnya saat syuting Critical Eleven di New York. Ketika ada perubahan naskah di lokasi, dia sempat marah ketika adegannya diubah tanpa sepengetahuannya. Ini merujuk pada adegan emosional di Central Park yang awalnya hanya video call, namun diubah menjadi interaksi langsung antara karakter Ale dan Anya.
"Jadi ada adegan di mana Ale mendengar dan merasakan tendangan bayi dari perut Anya, setelah saya lihat hasilnya, adegannya berhasil bahkan lebih menyentuh karena ada interaksi langsung,” katanya.
Melalui pengalamannya, Ika Natassa memperlihatkan betapa kompleksnya dunia penulisan skenario dan pembuatan film. Bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga tentang komunikasi, kompromi, dan keberanian untuk tetap konsisten pada cerita yang ingin disampaikan.
Terakhir, dia berpesan pada para penulis skenario pemula. Menurutnya, masalah saat ini, banyak dari mereka yang terjebak dalam pemikiran bahwa pendidikan formal adalah syarat mutlak untuk memulai karier, padahal sebenarnya tidak.
“Kita bisa belajar hanya dengan menonton film, setidaknya analisis 100 film secara mendalam agar insting penulisan dapat terasah, lalu pahami struktur cerita, keinginan karakter, dan dinamika naratifnya," paparnya.
Meski demikian, Ika tidak menampik bahwa pendidikan formal tetap berperan penting. “Kalau punya akses dan kesempatan, ambillah. Pendidikan formal bisa membantumu lebih peka dalam menyerap ide-ide, sekaligus membangun struktur cerita yang kuat,” tutupnya.
Baca Juga: Hypeprofil Penulis Skenario Lele Laila: Mengetengahkan Narasi Perempuan di Perfilman Indonesia
Lahir di Medan pada 25 Desember 1977, Ika memulai karier menulisnya pada 2006. Novel debutnya, A Very Yuppy Wedding, diterbitkan pada 2007 dan menjadi "Editor's Choice" majalah Cosmopolitan Indonesia pada 2008. Selain itu, dia juga dinominasikan sebagai Penulis Muda Berbakat dalam Penghargaan Sastra Khatulistiwa di tahun yang sama.
Novel Ika Natassa yang diadaptasi ke layar lebar adalah Critical Eleven. Diterbitkan pada 2015, novel ini mengisahkan perjalanan cinta antara Ale dan Anya yang dimulai dari pertemuan mereka di pesawat.
Baca Juga: Hypeprofil Aktivis Wenny Aurelia: Menciptakan Ruang Aman Bagi Pejuang Endometriosis
Adaptasi filmnya dirilis pada 2017 dengan judul yang sama, dibintangi oleh Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Disutradarai oleh Monty Tiwa dan Robert Ronny, serta Ika Natassa sendiri sebagai penulis skenario.
Film ini menjadi tonggak awal dalam karier Ika Natassa sebagai penulis yang karya-karyanya sukses diadaptasi ke medium film. Ini kemudian membuka jalan baginya sebagai penulis skenario film adaptasi novelnya sendiri, seperti Antologi Rasa, Twivortiare, dan The Architecture of Love.
Tak hanya sukses di pasaran, film-film tersebut juga mendapatkan apresiasi di festival film bergengsi. Misalnya pada Festival Film Bandung 2017, dia masuk nominasi Penulis Skenario Terpuji Film Bioskop dan pada piala Maya 2017 nominasi Skenario Adaptasi Terpilih untuk Critical Eleven. Lalu, pada Festival Film Indonesia 2024 nominasi Skenario Adaptasi Terbaik untuk The Architecture of Love, bersama Alim Sudio.
Ika Natassa membagikan pandangannya seputar dunia penulisan skenario, serta proses kreatif dan tantangan dalam penggarapan film adaptasi novel yang terkadang tak sesuai ekspektasi penonton.
Ketika ditanya soal apa saja eksperimen sudah dia lakukan dalam meracik skenario film agar cocok dengan penonton Indonesia, Ika menjawab jujur, “Tidak ada yang tahu pasti apa yang berhasil untuk penonton Indonesia.”
Dia menggambarkan selera genre film penonton yang kerap tak terduga. Ketika disuguhkan film komedi, bisa saja meledak atau gagal total. Begitupun film horor bisa sangat sukses sampai mencapai 10 juta penonton atau malah tenggelam meski berkualitas tinggi.
Dalam menghadapi ketidakpastian ini, Ika memiliki satu pegangan. Kuncinya adalah menceritakan kisah yang benar-benar ingin dia ceritakan. Sebagai penulis yang memiliki basis penggemar besar, Ika menyadari adanya ekspektasi tinggi terhadap karyanya. Namun dia menegaskan bahwa prioritasnya tetap pada kualitas cerita.
“Saya tidak bisa menyenangkan semua orang,” katanya.
Ekspektasi besar dari para pembaca, misalnya terlihat dari pemilihan karakter. Tak sedikit yang kecewa ketika tokoh dalam novel favorit mereka tidak sesuai dengan jajaran cast di film adaptasinya.
Salah satu contohnya, Ika kerap diprotes karena terus menggunakan Reza Rahadian sebagai aktor utamanya. Misalnya dalam film Twivortiare, Critical Eleven, dan Heartbreak Motel.
Seringnya Reza Rahadian membintangi film-film adaptasi Ika langsung menimbulkan pertanyaan dari para penikmat karyanya, apakah itu bagian dari strategi pemasaran? Namun, dengan tegas, Ika membantah hal tersebut.
Ika menekankan bahwa sebagai penulis dan kreator, dia diberi kendali penuh dalam pemilihan pemain. Karenanya, dialah yang paling tahu siapa yang tepat untuk peran itu. Contohnya dalam Critical Eleven, tokoh utamanya Aldebaran Risjad atau Ale sangat kompleks dan butuh aktor sekelas Reza Rahadian untuk melakoninya.
Menariknya, Ika juga mengungkap sempat berdebat dengan sutradara Angga Dwimas Sasongko dalam proyek Heartbreak Motel, karena awalnya enggan memilih Reza kembali.
“Tapi ternyata, tetap saja yang paling cocok adalah Reza. Dia pekerja keras, tidak bikin drama di lokasi, dan aktif dalam promosi. Itu penting.”
Kepiawaian aktor dan aktris dalam menghidupkan karakternya, menjadi penentu utama dalam kesuksesan film adaptasi. Mengingat, sebuah film tayang dengan durasi yang tak sebentar, tentunya harus ada magnet yang membuat penonton betah duduk sampai filmnya selesai.
Tokoh utama biasanya memiliki keinginan (wants) yang akan diungkap di awal film, dan kebutuhan (needs) yang baru diketahui seiring cerita berjalan atau di akhir film. Menurutnya, kalau perkembangan karakternya tidak terlihat maka sebuah film bisa jadi sangat monoton.
Selain itu, pengalaman pahit manis bekerja sama dengan produser dan sutradara pun tak luput dia ceritakan. Tak menutup kemungkinan, pasti akan ada perbedaan pendapat soal eksekusi adegan di lokasi syuting.
Misalnya saat syuting Critical Eleven di New York. Ketika ada perubahan naskah di lokasi, dia sempat marah ketika adegannya diubah tanpa sepengetahuannya. Ini merujuk pada adegan emosional di Central Park yang awalnya hanya video call, namun diubah menjadi interaksi langsung antara karakter Ale dan Anya.
"Jadi ada adegan di mana Ale mendengar dan merasakan tendangan bayi dari perut Anya, setelah saya lihat hasilnya, adegannya berhasil bahkan lebih menyentuh karena ada interaksi langsung,” katanya.
Melalui pengalamannya, Ika Natassa memperlihatkan betapa kompleksnya dunia penulisan skenario dan pembuatan film. Bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga tentang komunikasi, kompromi, dan keberanian untuk tetap konsisten pada cerita yang ingin disampaikan.
Terakhir, dia berpesan pada para penulis skenario pemula. Menurutnya, masalah saat ini, banyak dari mereka yang terjebak dalam pemikiran bahwa pendidikan formal adalah syarat mutlak untuk memulai karier, padahal sebenarnya tidak.
“Kita bisa belajar hanya dengan menonton film, setidaknya analisis 100 film secara mendalam agar insting penulisan dapat terasah, lalu pahami struktur cerita, keinginan karakter, dan dinamika naratifnya," paparnya.
Meski demikian, Ika tidak menampik bahwa pendidikan formal tetap berperan penting. “Kalau punya akses dan kesempatan, ambillah. Pendidikan formal bisa membantumu lebih peka dalam menyerap ide-ide, sekaligus membangun struktur cerita yang kuat,” tutupnya.
Baca Juga: Hypeprofil Penulis Skenario Lele Laila: Mengetengahkan Narasi Perempuan di Perfilman Indonesia
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.