Pameran Vox Populi, Fox They: Seruan Visual untuk Reformasi yang Gagal
22 May 2025 |
17:17 WIB
Di ruang pamer Tabir MataWaktu, Jakarta, puluhan karya grafis dan fotografi bersuara lantang—bukan memuja perubahan, melainkan menggugat stagnasi. Pameran Vox Populi, Fox They yang resmi dibuka pada 21 Mei 2025 menjadi ruang kritik visual terhadap kegagalan negara memenuhi janji reformasi.
Pameran Vox Populi, Fox They resmi dibuka di Yayasan Riset Visual MataWaktu, Jakarta. Ajang seni ini dihelat untuk merespon kondisi sosial dan realitas politik Indonesia kiwari, yang berlangsung hingga 11 Juni 2025. Puluhan karya grafis dan fotografi di ruang pamer itu menggambarkan kegagalan reformasi Indonesia. Sebab, setelah 27 tahun berjalan, 6 tuntutan dari gerakan tersebut seolah berjalan di tempat, atau justru kembali ke masa sebelumnya.
Selama pembukaan, suasana di MataWaktu juga semarak. Terlebih dengan adanya penampilan musik oleh Eka Annash, vokalis kelompok rock indie, the Brandals. Lewat lagu-lagunya yang kritis, Eka juga turut menyuarkan isu sosial politik Indonesia hingga Palestina.
Baca Juga: Balai Budaya Jakarta Gelar Pameran Sang Pangeran 2 Abad Perang Jawa
Kurator pameran, Oscar Motuloh mengatakan, meski sudah lebih satu abad kebangkitan nasional dicanangkan, dan Gerakan Reformasi berhasil menumbangkan pemerintahan otoriter Soeharto, akan tetapi kondisi Indonesia masih saja kelabu, jika tak ingin disebut gelap.
"Sekarang, lebih dari satu generasi setelah rezim Orde Baru tumbang, bayang-bayang reinkarnasi rezim militeristik itu perlahan tapi pasti telah kembali. PR pemberantasan KKN sepertinya hanya bakal jadi hiasan belaka,” ujarnya, di Tabir MataWaktu, Jakarta, Rabu (21/5/25), malam.
Respon masyarakat terkait kondisi tersebut, menurutnya juga muncul lewat demo besar-besaran dan suara #IndonesiaGelap yang terus bergema sebagai penanda kegagalan pemerintah mewujudkan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Mengingat dan menimbang semua perihal itulah, pameran visual ini, papar Oscar digelar dengan menghadirkan karya-karya grafis seperti poster, grafiti, dan karya fotografi dokumenter dengan konten yang merespons kondisi politik domestik dan realita sosial di tanah air dewasa ini.
Dari 114 karya yang terkumpul, akhirnya dipilihlah sebanyak 26 poster grafis, 1 foto, 1 puisi, dan 1 mural untuk dipamerkan pada tembok mini Tabir MataWaktu. Karya-karya terpilih itu, menurut Oscar juga berasal dari 16 individu, 9 kolektif, dan 3 dosen di 11 kampus di Tanah Air.
“Karya sebagian besar dari para pameris kebanyakan terdiri dari mahasiswa pasca-Reformasi yang masih duduk di bangku kuliah itu, dapat dibaca sebagai paduan Suara Rakyat (Vox Populi) yang menggugat kelalaian pengelola negara dalam mewujudkan program aksi dalam pemberantasan KKN,” imbuhnya.
Setali tiga uang, Dekan FSRD Untar, Kurnia Setiawan mengatakan karya desain merupakan sarana sekaligus katalis untuk mewujudkan perubahan yang sedang, pernah atau akan terjadi. Desain, juga dapat digunakan sebagai alat propaganda, dan sarana penyadaran untuk masyarakat.
Berangkat dari refleksi inilah, pihaknya secara berkesinambungan membuat event “Menjadi Indonesia” untuk mengajak anak-anak muda mencintai Indonesia. Tahun ini, kegiatan tersebut juga berkolaborasi dengan Grafisosial dan Yayasan Riset Visual MataWaktu untuk merespon kondisi Indonesia termutakhir.
“Semoga pameran ini dapat memunculkan refleksi dan menumbuhkan kesadaran untuk memperjuangkan kebaikan bersama demi Indonesia yang lebih baik. Indonesia adalah rumah kita, mari kita rawat dan jaga bersama,” katanya.
Sementara itu, perwakilan dari Grafisosial, Genep Sukendro menuturkan bahwa pameran ini juga merayakan kesadaran untuk berbangsa dan berkemanusian. Sebab, kesadaran menurutnya adalah senjata manusia, khususnya rakyat agar dapat berpikir dan bertindak secara lebih kritis.
“Ketika manusia membangun bangsa untuk kemaslahatan bersama, dan kesadaran manusia berbangsa hilang, maka senjata-senjata itu menjadi milik penguasa. Senjata-senjata kesadaran itu diganti oleh mesin-mesin politik, manipulasi untuk berkuasa, dan pabrik-pabrik kekayaan pribadi,” jelasnya.
Baca Juga: Pameran Bangkit dan Berdaya di Muskitnas, Memaknai Ulang Perjuangan Melalui Karya Seni
Pameran Vox Populi, Fox They resmi dibuka di Yayasan Riset Visual MataWaktu, Jakarta. Ajang seni ini dihelat untuk merespon kondisi sosial dan realitas politik Indonesia kiwari, yang berlangsung hingga 11 Juni 2025. Puluhan karya grafis dan fotografi di ruang pamer itu menggambarkan kegagalan reformasi Indonesia. Sebab, setelah 27 tahun berjalan, 6 tuntutan dari gerakan tersebut seolah berjalan di tempat, atau justru kembali ke masa sebelumnya.
Selama pembukaan, suasana di MataWaktu juga semarak. Terlebih dengan adanya penampilan musik oleh Eka Annash, vokalis kelompok rock indie, the Brandals. Lewat lagu-lagunya yang kritis, Eka juga turut menyuarkan isu sosial politik Indonesia hingga Palestina.
Baca Juga: Balai Budaya Jakarta Gelar Pameran Sang Pangeran 2 Abad Perang Jawa
Kurator pameran, Oscar Motuloh mengatakan, meski sudah lebih satu abad kebangkitan nasional dicanangkan, dan Gerakan Reformasi berhasil menumbangkan pemerintahan otoriter Soeharto, akan tetapi kondisi Indonesia masih saja kelabu, jika tak ingin disebut gelap.
"Sekarang, lebih dari satu generasi setelah rezim Orde Baru tumbang, bayang-bayang reinkarnasi rezim militeristik itu perlahan tapi pasti telah kembali. PR pemberantasan KKN sepertinya hanya bakal jadi hiasan belaka,” ujarnya, di Tabir MataWaktu, Jakarta, Rabu (21/5/25), malam.

Pendiri Yayasan Matawaktu, Oscar Motuloh saat membuka pameran Vox Populi, Fox They di Yayasan Riset Visual MataWaktu, Jakarta Rabu, (21/5/25) . (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Respon masyarakat terkait kondisi tersebut, menurutnya juga muncul lewat demo besar-besaran dan suara #IndonesiaGelap yang terus bergema sebagai penanda kegagalan pemerintah mewujudkan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Mengingat dan menimbang semua perihal itulah, pameran visual ini, papar Oscar digelar dengan menghadirkan karya-karya grafis seperti poster, grafiti, dan karya fotografi dokumenter dengan konten yang merespons kondisi politik domestik dan realita sosial di tanah air dewasa ini.
Dari 114 karya yang terkumpul, akhirnya dipilihlah sebanyak 26 poster grafis, 1 foto, 1 puisi, dan 1 mural untuk dipamerkan pada tembok mini Tabir MataWaktu. Karya-karya terpilih itu, menurut Oscar juga berasal dari 16 individu, 9 kolektif, dan 3 dosen di 11 kampus di Tanah Air.
“Karya sebagian besar dari para pameris kebanyakan terdiri dari mahasiswa pasca-Reformasi yang masih duduk di bangku kuliah itu, dapat dibaca sebagai paduan Suara Rakyat (Vox Populi) yang menggugat kelalaian pengelola negara dalam mewujudkan program aksi dalam pemberantasan KKN,” imbuhnya.

Pengunjung menyaksikan sejumlah karya dalam pameran Vox Populi, Fox They di Yayasan Riset Visual MataWaktu, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Berangkat dari refleksi inilah, pihaknya secara berkesinambungan membuat event “Menjadi Indonesia” untuk mengajak anak-anak muda mencintai Indonesia. Tahun ini, kegiatan tersebut juga berkolaborasi dengan Grafisosial dan Yayasan Riset Visual MataWaktu untuk merespon kondisi Indonesia termutakhir.
“Semoga pameran ini dapat memunculkan refleksi dan menumbuhkan kesadaran untuk memperjuangkan kebaikan bersama demi Indonesia yang lebih baik. Indonesia adalah rumah kita, mari kita rawat dan jaga bersama,” katanya.
Sementara itu, perwakilan dari Grafisosial, Genep Sukendro menuturkan bahwa pameran ini juga merayakan kesadaran untuk berbangsa dan berkemanusian. Sebab, kesadaran menurutnya adalah senjata manusia, khususnya rakyat agar dapat berpikir dan bertindak secara lebih kritis.
“Ketika manusia membangun bangsa untuk kemaslahatan bersama, dan kesadaran manusia berbangsa hilang, maka senjata-senjata itu menjadi milik penguasa. Senjata-senjata kesadaran itu diganti oleh mesin-mesin politik, manipulasi untuk berkuasa, dan pabrik-pabrik kekayaan pribadi,” jelasnya.
Baca Juga: Pameran Bangkit dan Berdaya di Muskitnas, Memaknai Ulang Perjuangan Melalui Karya Seni
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.