Pameran Bangkit dan Berdaya di Muskitnas, Memaknai Ulang Perjuangan Melalui Karya Seni
20 May 2025 |
14:44 WIB
Gema perayaan Hari Kebangkitan Nasional masih terus bergaung hingga hari ini. Salah satunya lewat pameran seni rupa bertajuk Bangkit dan Berdaya yang digelar di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, dari 20 Mei hingga 31 Mei 2025.
Hari Kebangkitan Nasional, yang diperingati setiap 20 Mei, awalnya merujuk pada berdirinya Boedi Oetomo pada 1908, sebuah organisasi modern pertama di Hindia Belanda yang memelopori kesadaran kolektif untuk memperjuangkan kemerdekaan melalui pendidikan dan persatuan.
Dalam konteks masa lalu, kebangkitan nasional ditandai dengan munculnya kesadaran para intelektual untuk menggunakan ilmu dan organisasi sebagai alat perjuangan. Akan tetapi, hari ini, makna kebangkitan mengalami perluasan.
Kebangkitan saat ini tidak lagi hanya dimaknai sebagai perjuangan melawan penjajah. Kini, kebangkitan juga milik siapa saja yang berani bangun dari keterpurukan personal dan terus menghasilkan karya.
Baca juga: Menyibak Imajinasi & Impian dalam Pameran Utopian Dreams; Dystopian World
Pameran Bangkit dan Berdaya merefleksikan semangat itu dengan cara yang sangat konkret. Di balik setiap karya yang dipajang di pameran ini, tersimpan kisah tentang bangkit dari keterpurukan, tentang daya juang, juga tentang harapan yang tak pernah padam.
Total, terdapat 85 karya seni yang dibuat oleh para perupa dari komunitas yang selama ini berada di luar arus utama, Outsider Art Jakarta. Selain itu, ada juga karya dari Sekolah Darurat Kartini dan Rajut Ceria.
Karya-karya dalam pameran ini lahir dari tangan-tangan anak-anak berkebutuhan khusus, pelajar dari sekolah nonformal, dan para perajin rumahan yang mengolah seni sebagai medium untuk bertahan, berdaya, dan bicara.
Tak pelak, pameran ini menjadi semacam ruang alternatif yang memberi tempat pada mereka yang jarang mendapat panggung. Misalnya, Outsider Art Jakarta menampilkan karya dari para penyandang disabilitas yang selama ini lebih sering dianggap objek terapi daripada subjek kreatif.
Namun di sini, mereka berdiri sebagai seniman. Karya-karya mereka tidak tunduk pada kaidah formal seni rupa, tetapi justru karena itu tampil jujur, mentah, dan menyentuh.
Salah satu karya yang cukup mencuri perhatian dalam pameran ini berjudul Riang di Balik Ranting. Lukisan karya Muhammad Salman Farisyi tersebut menggambarkan pohon Sakura sebagai metafora yang kaya makna, melambangkan kebahagiaan, cinta, dan kehidupan.
Kurator pameran, Timotius Suwarsito, menjelaskan bahwa bunga Sakura dalam karya tersebut merepresentasikan perjalanan hidup Salman yang penuh liku, tetapi pada akhirnya berbunga indah.
Di balik karya itu juga tersimpan kisah pribadi yang mendalam. Salman adalah anak yang sangat dinanti oleh kedua orang tuanya selama 13 tahun. Setelah lima kali gagal dalam proses bayi tabung, Salman akhirnya lahir melalui percobaan keenam.
Namun, kehadirannya membawa tantangan tersendiri karena dia terlahir dengan kebutuhan khusus. Perjalanan menerima kondisi tersebut tidaklah mudah bagi orang tuanya. Mereka memerlukan waktu untuk memahami dan menerima kenyataan itu sepenuh hati.
Seiring waktu, penerimaan pun tumbuh, diikuti oleh dukungan penuh kasih yang memungkinkan Salman berkembang dan berkarya. Periode ini kemudian Salman gambarkan seperti bunga Sakura.
Pohon Sakura dalam lukisan Salman juga menjadi simbol kenangan akan mendiang neneknya, yang dahulu pernah memintanya untuk menggambar bunga itu. “Bisa jadi Salman akan terus melukis Sakura untuk waktu yang sangat lama, karena maknanya begitu personal bagi dirinya,” ungkap Timotius, yang akrab disapa Kak Toto.
Karya lain yang tak kalah menggugah datang dari seniman Oliver Wihardja. Dia menghadirkan dua seri karya bertajuk Chinese New Year Preparations dan Wishing You Good Health, yang masing-masing menyuguhkan nuansa perayaan Tahun Baru Imlek dengan sentuhan menarik.
Baca juga: Pameran Prophecy: Visualisasi Emosi Mikael Aldo Lewat Fotografi
Kedua karya ini tak hanya menampilkan visual ceria, tetapi juga merefleksikan tradisi serta nilai-nilai yang lekat dalam budaya China. Mengusung gaya yang lebih dekoratif, Oliver menggunakan warna-warna cerah dan komposisi yang ramai untuk menggambarkan suasana khas Pecinan menjelang Tahun Baru Imlek.
Mulai dari lentera merah yang menggantung hingga orang-orang yang sibuk mempersiapkan berbagai ritual, semua elemen digambarkan dengan detail yang penuh kehangatan dan kehidupan.
Karya ini menjadi semacam jendela visual yang mengajak penonton merasakan atmosfer khas komunitas China saat momen perayaan. Selain aspek estetika, karya Oliver juga memuat pesan yang lebih dalam mengenai harapan dan kesehatan, terutama melalui seri Wishing You Good Health.
“Dia tuh kemarin sempat lukisannya dilelang pemerintah untuk penggalangan dana teman-teman disabilitas dan itu tembus Rp1 miliar,” imbuhnya.
Toto mengatakan pameran ini merupakan hasil dari komunitas Outsider Art Jakarta. Mereka mayoritas merupakan penyandang Neurodiverse, seniman-seniman berkebutuhan khusus. Total ada 60 seniman yang terlibat.
Mereka semua berasal dari Outsider Art Jakarta. Akan tetapi, komunitas ini juga terafiliasi dengan beberapa sekolah dan sanggar seni, seperti Credo Art Space, Hadi Prana Art Center, Pupa Center, Daya Pelita Kasih, Cita Buana, Cikal, dan masih banyak lagi.
Toto bercerita ide awal pameran ini ialah untuk menginterpretasi ulang makna kebangkitan pada momen Hari Kebangkitan Nasional. Pihak museum kemudian menggandengnya untuk mengadakan pameran yang lebih inklusif, terutama agar perayaan Hari Kebangkitan Nasional benar-benar menjadi milik semua.
Dirinya berharap pameran ini menjadi lorong baru untuk kita semua memaknai hari kebangkitan. Selain itu, diharapkan adanya pameran ini bisa menjadi suntikan semangat bagi para Outsider Art Jakarta dan komunitas berkebutuhan khusus lain untuk terus berkarya.
“Kita persiapan sekitar 3 bulan. Hasilnya sangat menarik ya, anak-anak merespons tema Bangkit dan Berdaya dengan sangat variatif,” imbuhnya.
Secara gaya, lukisan sangat beragam, ada yang realis dan dekoratif. Tapi kebanyakan dekoratif. Mungkin, karena ini terkait dengan sisi pengajaran terapetik. Jadi, selain berkarya, mereka kan juga untuk terapi baik fokus konsentrasi dan sebagainya. Makanya, di sini kelihatan banyak pola berulang, dari garis, titik, bentuk lain.
Bangkit dan Berdaya tidak bicara soal kesempurnaan teknis atau pencapaian estetika. Yang ditawarkan adalah ruang baru dalam memaknai kebangkitan: sebagai proses yang sunyi, namun bermakna. Sebagai keberanian untuk tampil dan bercerita, di dunia yang sering tak menyediakan ruang bagi mereka yang berbeda.
Dari segi gaya, karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini sangat beragam, mulai dari yang bersifat realis hingga dekoratif. Meski begitu, jika diperhatikan, mayoritas karya cenderung dekoratif.
Toto menyebut ini kemungkinan besar berkaitan dengan aspek terapetik dalam proses penciptaannya. Lukisan-lukisan tersebut bukan hanya hasil ekspresi artistik, tetapi juga menjadi sarana terapi, membantu para perupa dalam melatih fokus, konsentrasi, dan menenangkan diri.
Ciri khas yang muncul dari pendekatan ini adalah banyaknya pola yang berulang, baik berupa garis, titik, maupun bentuk-bentuk lainnya. Elemen-elemen ini menjadi semacam ritme visual yang merefleksikan proses internal para seniman.
Toto mengatakan pameran Bangkit dan Berdaya tidak menitikberatkan pada kesempurnaan teknis atau capaian estetika tinggi. Justru, yang ditawarkan adalah ruang baru untuk memahami makna kebangkitan itu sendiri.
Kebangkitan dalam konteks ini dimaknai sebagai proses yang senyap, tetapi penuh makna. Baginya, ini adalah sebuah keberanian untuk hadir dan bercerita, meskipun dunia sering kali tak memberi ruang bagi mereka yang dianggap berbeda.
Baca juga: Pameran Pronoid: Jalinan Optimisme dari Kanvas Bolong Taufik Ermas
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Hari Kebangkitan Nasional, yang diperingati setiap 20 Mei, awalnya merujuk pada berdirinya Boedi Oetomo pada 1908, sebuah organisasi modern pertama di Hindia Belanda yang memelopori kesadaran kolektif untuk memperjuangkan kemerdekaan melalui pendidikan dan persatuan.
Dalam konteks masa lalu, kebangkitan nasional ditandai dengan munculnya kesadaran para intelektual untuk menggunakan ilmu dan organisasi sebagai alat perjuangan. Akan tetapi, hari ini, makna kebangkitan mengalami perluasan.
Kebangkitan saat ini tidak lagi hanya dimaknai sebagai perjuangan melawan penjajah. Kini, kebangkitan juga milik siapa saja yang berani bangun dari keterpurukan personal dan terus menghasilkan karya.
Baca juga: Menyibak Imajinasi & Impian dalam Pameran Utopian Dreams; Dystopian World

Pameran seni rupa bertajuk Bangkit dan Berdaya yang digelar di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, dari 20 Mei hingga 31 Mei 2025. (Sumber foto Hypeabis.id/Robby Fathan)
Total, terdapat 85 karya seni yang dibuat oleh para perupa dari komunitas yang selama ini berada di luar arus utama, Outsider Art Jakarta. Selain itu, ada juga karya dari Sekolah Darurat Kartini dan Rajut Ceria.
Karya-karya dalam pameran ini lahir dari tangan-tangan anak-anak berkebutuhan khusus, pelajar dari sekolah nonformal, dan para perajin rumahan yang mengolah seni sebagai medium untuk bertahan, berdaya, dan bicara.
Tak pelak, pameran ini menjadi semacam ruang alternatif yang memberi tempat pada mereka yang jarang mendapat panggung. Misalnya, Outsider Art Jakarta menampilkan karya dari para penyandang disabilitas yang selama ini lebih sering dianggap objek terapi daripada subjek kreatif.
Namun di sini, mereka berdiri sebagai seniman. Karya-karya mereka tidak tunduk pada kaidah formal seni rupa, tetapi justru karena itu tampil jujur, mentah, dan menyentuh.
Salah satu karya yang cukup mencuri perhatian dalam pameran ini berjudul Riang di Balik Ranting. Lukisan karya Muhammad Salman Farisyi tersebut menggambarkan pohon Sakura sebagai metafora yang kaya makna, melambangkan kebahagiaan, cinta, dan kehidupan.

Riang di Balik Ranting (Sumber foto Hypeabis.id/Robby Fathan)
Di balik karya itu juga tersimpan kisah pribadi yang mendalam. Salman adalah anak yang sangat dinanti oleh kedua orang tuanya selama 13 tahun. Setelah lima kali gagal dalam proses bayi tabung, Salman akhirnya lahir melalui percobaan keenam.
Namun, kehadirannya membawa tantangan tersendiri karena dia terlahir dengan kebutuhan khusus. Perjalanan menerima kondisi tersebut tidaklah mudah bagi orang tuanya. Mereka memerlukan waktu untuk memahami dan menerima kenyataan itu sepenuh hati.
Seiring waktu, penerimaan pun tumbuh, diikuti oleh dukungan penuh kasih yang memungkinkan Salman berkembang dan berkarya. Periode ini kemudian Salman gambarkan seperti bunga Sakura.
Pohon Sakura dalam lukisan Salman juga menjadi simbol kenangan akan mendiang neneknya, yang dahulu pernah memintanya untuk menggambar bunga itu. “Bisa jadi Salman akan terus melukis Sakura untuk waktu yang sangat lama, karena maknanya begitu personal bagi dirinya,” ungkap Timotius, yang akrab disapa Kak Toto.
Karya lain yang tak kalah menggugah datang dari seniman Oliver Wihardja. Dia menghadirkan dua seri karya bertajuk Chinese New Year Preparations dan Wishing You Good Health, yang masing-masing menyuguhkan nuansa perayaan Tahun Baru Imlek dengan sentuhan menarik.
Baca juga: Pameran Prophecy: Visualisasi Emosi Mikael Aldo Lewat Fotografi

Chinese New Year Preparations dan Wishing You Good Health (Sumber foto Hypeabis.id/Robby Fathan)
Mulai dari lentera merah yang menggantung hingga orang-orang yang sibuk mempersiapkan berbagai ritual, semua elemen digambarkan dengan detail yang penuh kehangatan dan kehidupan.
Karya ini menjadi semacam jendela visual yang mengajak penonton merasakan atmosfer khas komunitas China saat momen perayaan. Selain aspek estetika, karya Oliver juga memuat pesan yang lebih dalam mengenai harapan dan kesehatan, terutama melalui seri Wishing You Good Health.
“Dia tuh kemarin sempat lukisannya dilelang pemerintah untuk penggalangan dana teman-teman disabilitas dan itu tembus Rp1 miliar,” imbuhnya.
Makna Baru Kebangkitan
Toto mengatakan pameran ini merupakan hasil dari komunitas Outsider Art Jakarta. Mereka mayoritas merupakan penyandang Neurodiverse, seniman-seniman berkebutuhan khusus. Total ada 60 seniman yang terlibat.Mereka semua berasal dari Outsider Art Jakarta. Akan tetapi, komunitas ini juga terafiliasi dengan beberapa sekolah dan sanggar seni, seperti Credo Art Space, Hadi Prana Art Center, Pupa Center, Daya Pelita Kasih, Cita Buana, Cikal, dan masih banyak lagi.
Toto bercerita ide awal pameran ini ialah untuk menginterpretasi ulang makna kebangkitan pada momen Hari Kebangkitan Nasional. Pihak museum kemudian menggandengnya untuk mengadakan pameran yang lebih inklusif, terutama agar perayaan Hari Kebangkitan Nasional benar-benar menjadi milik semua.
Dirinya berharap pameran ini menjadi lorong baru untuk kita semua memaknai hari kebangkitan. Selain itu, diharapkan adanya pameran ini bisa menjadi suntikan semangat bagi para Outsider Art Jakarta dan komunitas berkebutuhan khusus lain untuk terus berkarya.
“Kita persiapan sekitar 3 bulan. Hasilnya sangat menarik ya, anak-anak merespons tema Bangkit dan Berdaya dengan sangat variatif,” imbuhnya.

(Sumber foto Hypeabis.id/Robby Fathan)
Bangkit dan Berdaya tidak bicara soal kesempurnaan teknis atau pencapaian estetika. Yang ditawarkan adalah ruang baru dalam memaknai kebangkitan: sebagai proses yang sunyi, namun bermakna. Sebagai keberanian untuk tampil dan bercerita, di dunia yang sering tak menyediakan ruang bagi mereka yang berbeda.
Dari segi gaya, karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini sangat beragam, mulai dari yang bersifat realis hingga dekoratif. Meski begitu, jika diperhatikan, mayoritas karya cenderung dekoratif.
Toto menyebut ini kemungkinan besar berkaitan dengan aspek terapetik dalam proses penciptaannya. Lukisan-lukisan tersebut bukan hanya hasil ekspresi artistik, tetapi juga menjadi sarana terapi, membantu para perupa dalam melatih fokus, konsentrasi, dan menenangkan diri.
Ciri khas yang muncul dari pendekatan ini adalah banyaknya pola yang berulang, baik berupa garis, titik, maupun bentuk-bentuk lainnya. Elemen-elemen ini menjadi semacam ritme visual yang merefleksikan proses internal para seniman.
Toto mengatakan pameran Bangkit dan Berdaya tidak menitikberatkan pada kesempurnaan teknis atau capaian estetika tinggi. Justru, yang ditawarkan adalah ruang baru untuk memahami makna kebangkitan itu sendiri.
Kebangkitan dalam konteks ini dimaknai sebagai proses yang senyap, tetapi penuh makna. Baginya, ini adalah sebuah keberanian untuk hadir dan bercerita, meskipun dunia sering kali tak memberi ruang bagi mereka yang dianggap berbeda.
Baca juga: Pameran Pronoid: Jalinan Optimisme dari Kanvas Bolong Taufik Ermas
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.