Ilustrasi buku era digital (Sumber gambar: Freepik)

3 Kisah Inspiratif Kreator yang Menyulut Semangat Membaca di Era Digital

20 May 2025   |   20:46 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Pada era digital yang serba cepat, dengan informasi datang dan pergi dalam hitungan detik, membaca buku tetap punya pesonanya sendiri. Akan tetapi, kini kegiatan membaca tak lagi terbatas pada ruang sunyi perpustakaan atau tumpukan buku di kamar, tapi di ranah dunia maya media sosial. 

Menyambut Hari Buku Nasional, platform TikTok menggaungkan semangat literasi lewat kampanye #SerunyaMembaca. Tagar ini telah mengumpulkan lebih dari 400 ribu unggahan, sementara #BookTok yang merupakan versi globalnya telah digunakan dalam lebih dari 55 juta konten.

Melalui video singkat, siaran langsung, dan interaksi kreatif lainnya, para pencinta buku kini punya panggung untuk berbagi ulasan, rekomendasi, hingga cerita personal yang menginspirasi. Berikut tiga kisah inspiratif dari para pegiat literasi yang menunjukkan bahwa membaca bisa menjadi aktivitas seru, kolaboratif, dan membawa dampak nyata. 

Baca juga: Anak Muda Buru Buku Bacaan Nonfiksi, Refleksi & Pencarian Jati Diri Jadi Pendorong 
 

1. Syarif & Klub Buku Torang Baca di Papua

Syarif, kreator di balik akun @menceriakan tak hanya aktif membagikan konten seputar buku di platform media sosial khususnya TikTok, tapi juga mengambil langkah konkret dengan mendirikan klub buku Torang Baca di Jayapura, Papua.

Melalui video-video ulasan buku, info tempat membaca, hingga toko buku unik, Syarif ingin membuktikan bahwa membaca itu menyenangkan dan bisa mengubah cara pandang seseorang. “Membaca tidak hanya soal informasi, tapi juga membangun imajinasi dan sudut pandang,” ujarnya.

Klub Torang Baca menjadi ruang aman bagi anak-anak muda Jayapura untuk berdiskusi dan menumbuhkan minat baca secara kolektif, sebuah bukti bahwa media sosial bisa menjadi jembatan menuju perubahan nyata. 
 

2. Penulis Indra Dwi Prasetyo dari Singkawang 

Penulis buku Dewasa Tak Seseram Isi Kepalamu, Indra Dwi Prasetyo memanfaatkan media sosial sebagai ruang berbagi perspektif hidup dan semangat membaca. Lewat akun @indradwiprasetyoofficial, dia kerap membagikan kutipan reflektif dan rekomendasi buku genre pengembangan diri serta filosofi hidup. 

Berangkat dari kota kecil Singkawang, Kalimantan Barat, Indra membuktikan bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja. Buku karangannya sendiri menjadi cermin perjuangan generasi muda dalam menghadapi tekanan sosial dan ekspektasi hidup. “Teruslah membaca, karena membaca bisa membawa kita ke tempat yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya,” katanya.


3. Patjarmerah, Festival Literasi Keliling yang merambah dunia digital

Festival literasi patjarmerah membuktikan bahwa membaca tak melulu harus serius dan formal. Mengusung konsep festival buku keliling, patjarmerah hadir di berbagai kota di Indonesia dengan membawa semangat kolaborasi antar pelaku industri buku mulai dari penulis, penerbit, pembaca, hingga pekerja kreatif. 

Kini, patjarmerah juga hadir di TikTok lewat akun @patjarmerah_id, membagikan ulasan buku, rekomendasi bacaan, hingga menjual buku kurasi. Salah satu buku yang mereka kurasi adalah karya Indra Dwi Prasetyo, Dewasa Tak Seseram Isi Kepalamu.

“Kami ingin menunjukkan bahwa membaca bisa menjadi pengalaman yang hangat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Windy Ariestanty, pendiri patjarmerah. 

Baca juga: 4 Buku yang Wajib Dibaca Gen Z Buat Kenal Diri Lebih Dalam

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Potret Ratu dan Putri Kerajaan Katolik yang Berbusana Putih di Pelantikan Paus Leo XIV

BERIKUTNYA

Psikolog: Pendidikan Anak di Barak Militer Cuma Solusi Instan, Tak Cocok untuk Jangka Panjang

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga