Ilustrasi seseorang membaca buku. (Sumber gambar: cottonbro/Pexels)

Anak Muda Buru Buku Bacaan Nonfiksi, Refleksi & Pencarian Jati Diri Jadi Pendorong

23 April 2025   |   12:30 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Buku merupakan jendela dunia. Setiap halaman yang ada pada sebuah buku, akan membawa pembacanya pada pengetahuan, ide, hingga budaya baru. Begitu pentingnya peran buku, dibuat lah perayaan World Book and Copyright Day atau Hari Buku Sedunia yang diperingati pada 23 April tiap tahunnya.

Hari Buku Sedunia digagas oleh UNESCO untuk mempromosikan minat baca, penerbitan, serta pemahaman publik terhadap hak cipta. Perayaan ini juga dilakukan untuk merayakan pentingnya buku sebagai penghubung antara masa lalu dan masa depan, jembatan antargenerasi serta lintas budaya.

Baca juga: 5 Toko Buku Estetik di Jakarta, POST Bookstore sampai Kedai Patjarmerah

Di Indonesia, minat masyarakat untuk membaca buku saat ini rupanya tak hanya berkutat pada karya-karya fiksi seperti novel, puisi, ataupun cerpen, melainkan juga pada buku-buku nonfiksi. 


Buku Sejarah hingga Ilmiah

Editor Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Alpha Hambally mengungkap belakangan ini penjualan buku nonfiksi di KPG mengalami peningkatan. Buku-buku yang dicari seperti sejarah, sains, termasuk bacaan sejarah yang dikemas dalam karya yang ringan seperti novel fiksi sejarah.

Alpha menyebut salah satu buku sejarah yang cukup meningkat penjualannya yakni Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855 karya sejarawan Peter Carey, yang terbit pertama kali tahun 2011.

Sementara untuk buku-buku ilmiah, beberapa judul yang tengah diburu pembaca seperti Shadows of Forgotten Ancestors karya Carl Sagan, Sapiens karya Yuval Noah Harari, dan Guns, Germs, and Steel karya Jared Diamond, hingga Fabric of Reality karya David Deutsch.

"Akhir-akhir ini buku sejarah banyak dicari. Kaget juga, ternyata semakin kesini data yang menyebut kalau minat baca kita itu rendah justru semakin salah. Ini orang-orang nyari buku sejarah loh, buku serius," katanya saat ditemui Hypeabis.id di Jakarta, baru-baru ini.

Alpha berpendapat meningkatnya minat masyarakat khususnya anak muda untuk memburu buku-buku sejarah disinyalir lantaran menjadi bagian dari proses pencarian diri mereka. "Anak-anak muda sekarang kan lagi pencarian diri. Karena pencarian itu mereka mulai [mencari tahu sejarah] ke belakang," imbuhnya.


Refleksi & Pencarian Jati Diri

Tren meningkatnya minat publik khususnya anak muda terhadap buku-buku nonfiksi pun diamini oleh General Manager Pear Press Namira Daufina. Salah satu buku yang cukup diminati yakni You Do You: Discovering Life Through Experiments & Self-Awareness karya Fellexandro Ruby.

Buku yang pertama kali diterbitkan pada 2020 itu dilaporkan telah terjual sebanyak 60.000 eksemplar di Pear Press, dan sampai saat ni masih terus dicetak ulang yang menandai besarnya minat pembaca terhadap buku tersebut.

Namira menilai salah satu hal yang menarik dari buku tersebut yakni sang penulis tidak menawarkan narasi terkait self-improvement atau pengembangan diri dari sudut pandangnya sendiri, melainkan mengajak pembacanya untuk tumbuh bersama seiring membaca buku tersebut.

"Jadi seperti semi workbook supaya siapapun yang baca itu berproses bersama dia [penulis]. Gen Z kan cenderung enggak suka dikasih tahu ya, mereka enggak suka diajarin. Mereka sukanya diajak berproses bersama," katanya.

Adapun, buku-buku self improvement lainnya yang juga diminati termasuk Makanya, Mikir! karya Abigail Limuria dan Cania Citta, Masih Belajar karya Iman Usman. "Itu buku-buku best seller yang sampai hari ini masih terus bergulir," imbuhnya.

Namira menilai fenomena meningkatnya minat anak muda untuk membaca buku-buku self-improvement salah satunya dilatarbelakangi oleh rasa mengagumi dan terinspirasi untuk mengikuti jejak langkah dan pencapain seseorang, yang dalam hal ini ialah penulis buku-buku tersebut.

Alih-alih menggunakan cara-cara konvensional seperti mengikuti kelas-kelas mentoring, mereka justru mencari jawaban tersebut melalui buku-buku yang ditulis oleh orang-orang yang menginspirasi mereka. 

"Buku itu menurut aku non-judgemental, karena kita kan berproses sendiri. Caranya mau pakai cara apa, jalan apa, itu kan kita tembus sendiri," katanya.

Dia menambahkan, buku juga menjadi sarana yang tepat bagi orang-orang yang berpengaruh untuk bisa menuangkan pemikiran mereka lebih komprehensif serta mengurangi misinformasi, hal yang mungkin bisa terjadi jika mereka hanya menyebarkan ide dan gagasan mereka melalui media sosial.

"Jadi kita melihat pembaca muda itu sebenarnya mau tahu aja, mereka itu mau tahu, dan sekarang kan mudah ya mencari tahu. Cuma mencari tahunya dari mana dan apakah itu sumber yang legit atau enggak, itu yang kita coba arahkan, makanya menerbitkan buku-buku yang menjawab keingintahuan itu," terang Namira.

Baca juga: Yuk, Rayakan Hari Buku Sedunia! Ini Deretan Fakta Menarik yang Wajib Genhype Tahu

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

6 Film Baru yang Mulai Tayang di Bioskop Pekan ini, Cek Sinopsisnya

BERIKUTNYA

Sinopsis Eddington, Film Terbaru Sutradara Ari Aster

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga