Berwisata & Menyusuri Jejak Sejarah Raden Saleh di Cikini
18 May 2025 |
19:47 WIB
Kawasan Cikini di Jakarta Pusat tak bisa dilepaskan dari sosok Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880), pelukis beraliran naturalis, seniman serba bisa sekaligus pencinta satwa. Jejak sejarah hidupnya di Cikini lantas membuat Raden Saleh diabadikan menjadi salah satu nama jalan di kawasan tersebut.
Sekitar 1850-an, seniman kelahiran Semarang, Jawa Tengah, dan keturunan Arab itu pulang ke Indonesia usai mengembara di Eropa. Raden Saleh kemudian membeli tanah yang luas di kawasan yang kini bernama Cikini. Konon, lahan miliknya itu terbentang dari Rumah Sakit PGI sampai Taman Ismail Marzuki (TIM).
Sampai saat ini, beberapa bangunan yang menjadi jejak sejarah Raden Saleh masih berdiri di kawasan Cikini. Meski Cikini saat ini menjadi kawasan yang sudah dipenuhi perkantoran dan bangunan-bangunan pertokoan modern, publik masih bisa mengunjungi beberapa warisan arsitektur yang menjadi penghubung untuk memahami sejarah Raden Saleh.
Baca juga: Genhype, Ini Loh Lukisan Raden Saleh yang Mendunia
Baca juga: Genhype, Ini Loh Lukisan Raden Saleh yang Mendunia
Belum lama ini, Hypeabis.id berkesempatan untuk mengikuti kegiatan walking tour "Through History: Uncovering Raden Saleh`s Legacy in Cikini" yang diselenggarakan oleh Hotel Ibis Jakarta Raden Saleh berkolaborasi dengan TimeGap.
Selama sekitar 3 jam, tur tersebut mengunjungi beberapa tempat bersejarah peninggalan Raden Saleh di Cikini bersama sejumlah peserta lainnya dengan berjalan kaki. Yuk simak cerita serunya!
1. Masjid Al-Ma'mur Cikini
Tempat pertama yang dikunjungi ialah Masjid Al-Ma'mur Cikini, lokasinya berada dekat di seberang Ibis Jakarta Raden Saleh. Konon, masjid ini berdiri di sebidang tanah kosong yang luas milik Raden Saleh. Sebelum akhirnya hijrah ke Bogor, Raden Saleh telah mewakafkan sebagian tanahnya dengan mendirikan sebuah masjid yang kala itu masih sangat sederhana.
Dindingnya terbuat dari gedek atau bilik bambu, berukuran kecil seperti rumah panggung, dan letaknya bukan di lokasi sekarang, tetapi di belakang rumah kediamannya, yang kini menjadi Rumah Sakit PGI Cikini.
Pada perjalanannya, Masjid Al-Ma'mur Cikini sempat hendak dipindahkan ke lokasi yang lebih jauh, seiring dengan tanah milik Raden Saleh yang akhirnya dibeli oleh Koningin Emma Stichting (Yayasan Ratu Emma), sebuah yayasan misionaris Kristen milik orang Belanda.
Namun, keberadaan masjid itu tetap dipertahankan oleh para tokoh Islam seperti H.O.S. Cokroaminoto (Ketua Sarekat Islam) dibantu Haji Agus Salim dan Abikusno Cokrosuyoso. Lantaran sempat menjadi target penggusuran untuk pelebaran jalan dan normalisasi kali, Masjid Al-Ma'mur Cikini pun ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi. Selain sebagai tempat ibadah, di kawasan masjid ini juga kini berdiri lembaga pendidikan Islam.
2. Makam Habib Cikini
Tak hanya sebagai masjid, tanah milik Raden Saleh juga diwakafkan untuk sahabatnya yakni Al Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi atau Habib Cikini, sosok ulama besar pada masanya. Habib Cikini merupakan tokoh penyiar agama Islam yang dihormati masyarakat sekitar.
Habib Cikini sering melakukan dakwah menyiarkan agama Islam mulai dari pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Habib Cikini kemudian menetap di Jakarta dan menikah dengan Syarifah Rogayah binti Husein bin Yahya yang merupakan adik dari Raden Saleh. Hingga akhirnya dia wafat pada tahun 1879 dan dimakamkan di Cikini.
Awalnya, bangunan makam Habib Cikini hanya berupa makam Joglo layaknya makam orang Jawa pada umumnya. Namun, kini makamnya berada di dalam sebuah masjid yang cukup besar. Selain untuk ziarah, masjid ini juga digunakan masyarakat sekitar untuk beribadah.
Pada 2010, makam Habib Cikini yang kini berada di kompleks Menteng Park sempat ingin dipindahkan oleh pengembang, untuk perluasan kawasan apartemen. Akan tetapi, konon, makam tersebut tidak bisa dipindahkan meski telah dilakukan berbagai cara. Bahkan, muncul mata air dari makam Habib Cikini yang sampai saat ini masih mengalir. Oleh masyarakat sekitar, air tersebut dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.
3. Taman Ismail Marzuki
Taman Ismail Marzuki (TIM) merupakan salah satu bangunan ikonis di kawasan Cikini. Sebelum dikenal sebagai pusat kesenian dan kebudayaan, kawasan TIM merupakan bagian dari kebun binatang yang dibangun oleh Raden Saleh. Pembangunan kebun binatang ini bertujuan sebagai sarana pelepas stres bagi setiap warga kota
Pada 1864, kebun binatang tersebut dikelola oleh Perhimpunan Penyayang Flora dan Fauna di Batavia. Raden Saleh kemudian menghibahkan lahan seluas 10 hektar itu kepada pemerintah Indonesia. Lalu pada 1964, kebun binatang tersebut direlokasi ke Ragunan hingga sekarang karena pertimbangan yang lebih luas dan jauh dari hiruk-pikuk kota.
Akhirnya, TIM berganti wajah menjadi pusat kesenian yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin tahun 1968. Pada 2019, TIM pun mengalami revitalisasi. Kini, kawasannya berubah wajah dengan gedung panjang yang berfungsi sebagai perpustakaan, kantor Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan ruang-ruang pameran, serta beberapa gedung teater dan planetarium.
4. Rumah Raden Saleh
Salah satu bangunan yang paling historikal di kawasan Cikini ialah Rumah Raden Saleh, yang kini berdiri di kompleks RS PGI Cikini. Rumah yang didirikan pada 1852 itu dirancang sendiri oleh Raden Saleh, usai menikahi seorang pewaris Indo kaya yang berdarah campuran Jerman, Constancia von Mansfeld.
Rumah bergaya arsitektur gotik itu terinspirasi oleh Kastil Callenberg di Jerman, tempat Raden Saleh tinggal selama perjalanannya di Eropa sekitar tahun 1844. Bangunan berlantai dua tersebut memiliki ruangan cukup lebar. Di lantai bawah, terdapat 8 kamar secara bersambung, sementara di lantai atas, terdapat 7 kamar. Hal itu membuktikan Raden Saleh pada masa hidupnya merupakan seorang yang kaya raya dan terpandang.
Namun, Raden Saleh akhirnya menjual seluruh tanah miliknya di Cikini termasuk rumah tersebut kepada keluarga Alatas, seorang tuan tanah kaya keturunan Arab, yang kemudian diwariskan kepada anak- nya yang bemama Ismail Alatas. Hingga akhirnya dijual kembali kepada Koningin Emma Stichting (Yayasan Ratu Emma), sebuah yayasan misionaris kristen milik orang Belanda, bergerak di bidang pelayanan sosial.
Oleh yayasan tersebut, lahan rumah Raden Saleh difungsikan untuk mendirikan rumah sakit yang kini dikenal sebagai RS PGI Cikini. Awalnya, Rumah Raden Saleh difungsikan sebagai kantor dan pusat RS PGI Cikini. Namun, seiring waktu, bangunannya mulai rusak meski telah melalui berbagai pembaruan atau pemugaran.
Kini, rumah tersebut telah masuk sebagai salah satu cagar budaya di Jakarta dalam kategori bangunan. Lantaran alasan keamanan, Rumah Raden Saleh kini tidak dibuka untuk publik.
Baca juga: Lukisan Raden Saleh Terjual dengan Harga Fantastis di Balai Lelang Sotheby's Singapore
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Baca juga: Lukisan Raden Saleh Terjual dengan Harga Fantastis di Balai Lelang Sotheby's Singapore
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.