Penangkapan Pangeran Diponegoro, Raden Saleh, 1857 (Sumber gambar: Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya)

Diangkat Jadi Film, Ini Histori di Balik Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh

01 June 2022   |   21:32 WIB

Film terbaru garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko yang akan dirilis tahun ini berjudul Mencuri Raden Saleh. Karya sinema bergenre laga-kriminal itu berkisah tentang taktik enam pemuda yang ingin mencuri mahakarya lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya maestro lukis, Raden Saleh Syarif Bustaman.

Dalam film, lukisan tersebut memiliki harga tak ternilai dan diletakkan di Istana Presiden dengan pengamanan yang super ketat, sehingga membuat rencana pencurian itu tidaklah mudah.

Di antara banyaknya lukisan karya Raden Saleh, lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang dibuat pada 1857 banyak menarik perhatian. Lukisan ini menggambarkan salah satu peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia ketika melawan penjajah Belanda.

Baca juga: Usai Mengunjungi Sebuah Keraton, Angga Dwimas Sasongko Terinspirasi Menggarap Film Mencuri Raden Saleh

Peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda tersebut sekaligus menandai berakhirnya perlawanan Diponegoro pada 1830. Kala itu, sang pangeran diundang ke Magelang untuk membicarakan kemungkinan gencatan senjata, namun kenyataannya Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya ditangkap dan diasingkan.

Lukisan itu dibuat dengan gaya romantisme, diterapkan pada permukaan kanvas menggunakan cat minyak yang memenuhi seluruh kanvas. Bingkainya menggunakan kayu yang berukir. Lukisan ini merupakan lukisan sejarah pertama di Asia Tenggara di antara sejarah lukisan aliran Eropa. Saat ini statusnya dimiliki oleh negara, dikelola oleh Kementerian Sekretariat Negara dan disimpan di Istana Kepresidenan Yogyakarta.
 

fg

Penangkapan Pangeran Diponegoro, Raden Saleh, 1857 (Sumber gambar: Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya)


Simbol perlawanan

Melansir dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rabu (1/6/2022), lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro merujuk pada peristiwa nyata yang terjadi di masa lalu. Lukisan ini dibuat Raden Saleh sebagai respon dari lukisan buatan seniman Belanda, Nicolaas Pieneman, yang ditugaskan untuk mendokumentasikan momen penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal De Kock.

Ketika peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro pada 28 Maret 1930, Raden Saleh tengah berada di Eropa. Raden Saleh diduga melihat lukisan Pieneman tersebut saat dia tinggal di Eropa.

Seakan tidak setuju dengan gambaran Pieneman, Raden Saleh lantas memberikan sejumlah perubahan signifikan pada lukisan versinya. Perbedaan lukisan antara Raden Saleh dengan Pieneman ini dipandang sebagai perwujudan sikap nasionalisme pada diri Raden Saleh.

Beberapa perbedaan penting antara lukisan Raden Saleh dan Pieneman yakni lukisan Pieneman menggambarkan Diponegoro dengan wajah lesu dan pasrah, sementara Raden Saleh menggambarkannya dengan raut tegas dan menahan amarah.

Jika Pieneman memberi judul lukisannya dengan Penyerahan Diri Diponegoro, Raden Saleh memberi judul dengan Penangkapan Diponegoro. Selain itu, lukisan bendera Belanda yang dibuat oleh Pieneman tidak ditampilkan dalam lukisan karya Raden Saleh.


Restorasi lukisan

Raden Saleh mulai membuat sketsa lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro pada 1856 dan menyelesaikan lukisan cat minyaknya setahun kemudian. Pada 12 Maret 1857, Raden Saleh mengabarkan lukisan tersebut kepada temannya di Jerman, Duke Ernst II, dengan judul “Ein historisches Tableau, die Gefangennahme des javanischen Häuptings Diepo Negoro” (lukisan bersejarah tentang penangkapan seorang pemimpin Jawa Diponegoro).

Raden Saleh kemudian memberikan lukisan tersebut kepada Raja Belanda, Willem III, untuk menggambarkan pandangan Raden Saleh atas penangkapan Pangeran Diponegoro yang berbeda dengan pandangan Pieneman.

Pada 1975, lukisan tersebut diserahkan kepada Indonesia oleh pihak Kerajaan Belanda bersamaan dengan realisasi perjanjian kebudayaan antara Indonesia-Belanda pada 1969.

Kondisi Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro dikategorikan baik. Warna dan detailnya sudah tampak lebih terang setelah direstorasi oleh Susanne Erhards, seorang ahli restorasi asal Jerman, pada 2013 lalu.

Lukisan tersebut direstorasi pernisnya oleh Susanne Erhards dengan dukungan Yayasan Arsari Djojohadikusumo dan Goethe Institute Indonesia. Pada 27 September 2013, dilakukan serah terima hasil restorasi lukisan Raden Saleh oleh Yayasan Arsari Djojohadikusumo kepada Sekretariat Negara.

Pada Desember 2014, lukisan ini dipindahkan dari Istana Merdeka ke Istana Kepresidenan Yogyakarta dan menjadi salah satu koleksi Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta.

Editor: Nirmala Aninda
SEBELUMNYA

Kiat Sukses Investasi Reksa Dana Buat Anak Muda

BERIKUTNYA

Forbes 30 Under 30 Asia, Dita Aisyah Makin Semangat Ciptakan Lebih Banyak Talenta di Bidang Teknologi 

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: