Kenang Penyair Wiji Thukul, Makarya Gelar Diskusi Buku & Musikalisi Puisi
12 May 2025 |
20:20 WIB
Toko buku Makarya kembali menghelat program seru bagi pencinta buku di Jakarta. Terbaru, toko buku binaan jaringan ritel buku Gramedia ini membuat acara Tribute to Wiji Thukul, dengan berbagai kegiatan menarik, mulai dari pemutaran film, diskusi, pembacaan dan musikalisasi puisi, pada Senin 12 Mei 2025.
Menjadi agenda kegiatan yang kesekian kalinya, Tribute to Wiji Thukul dihelat untuk mengenang sosok penyair asal, Solo, Jawa Tengah itu. Pemilihan sosok ini dilakukan juga untuk menyambut momen hari besar pada Mei, yakni Hari Buruh pada 1 Mei, dan Kebangkitan Nasional yang akan jatuh pada 20 Mei mendatang.
Baca juga: Cerita Reza Rahadian Garap Buku Mereka Yang Pertama, Ditulis Pakai Handphone
Salah satu yang menarik dari acara ini adalah adanya pemutaran film Istirahatlah Kata-Kata (2016) besutan sutradara Yosep Anggi Noen. Diambil dari salah satu judul puisi Wiji Thukul, film ini berkisah tentang masa pelarian penyair pelo, itu ke Pontianak, Kalimantan Barat, pada 1996.
Kala itu, Wiji Thukul dituduh terlibat dalam kerusuhan dan aktivitas anti-pemerintah hingga akhirnya bersembunyi. Film ini secara umum menggambarkan bagaimana Thukul hidup dalam ketakutan, kesepian, dan keterasingan selama dalam pelarian, tetapi tetap mempertahankan semangat perlawanan melalui puisi-puisinya.
Program Manager Toko Buku Makarya, Hamzah Muhammad mengatakan, ihwal diadakannya kegiatan ini dilakukan salah satunya untuk merespon momentum dari apa yang ada di dalam karya sastra. Lain dari itu kegiatan ini juga sebagai bentuk kegiatan untuk merefleksikan realitas dengan apa yang pernah tersirat di dalam buku atau novel.
Sebelum kegiatan ini misal, pihaknya memberikan apresiasi terhadap The Upstairs, sebuah band asal Jakarta yang banyak membuat lagu tentang isu-isu sosial, khususnya kehidupan urban. Salah satunya terejawantah dalam karyanya yang berjudul Matraman, yang mengisahkan kehidupan sosial masyarakat di bilangan Jakarta Timur, itu.
"Untuk Tribute to Wiji Thukul sebenarnya personal. Mas Wahyu Susilo (adik Wiji Thukul) bertemu dengan kakaknya terakhir kali juga di Matraman. Bulan Mei juga menjadi momen hilangnya Wiji Thukul, yang terjadi sekitar bulan Mei, menjelang reformasi 1998," katanya.
Setali tiga uang, sutradara Yosep Anggi Noen mengatakan, raibnya Wiji Thukul merupakan salah satu dosa sejarah yang harus segera diselesaikan. Namun dia pesimis negara dapat menyingkap kelambu sejarah tersebut, karena selama ini janji mereka untuk menuntaskan masalah pelanggaran HAM hanya jadi pepesan kosong belaka.
Walakin, melalui kegiatan seperti inilah, publik atau masyarakat justru bisa terus membangun optimisme dan mengajukan pertanyaan, perihal ketidakadilan, hingga isu-isu sosial hari ini yang semakin carut marut. Sebab, melalui kegiatan seperti inilah masyarakat bisa menggugat atau mengkritisi kebijakan yang salah.
"Dengan medium apapun yang rakyat punya, kita harus berani menggugat dan bertanya. Soal apapun, terutama hak-hak dasar kita, baik kebebasan berekspresi. Ini bukan untuk kita sendiri, tetapi sebagai bentuk kekompakan dalam membela sesama rakyat," katanya.
Baca juga: Peringati Setahun Wafat, Buku Biografi Yudhistira A.N.M. Massardi Diluncurkan di PDS HB.Jassin
Sementara itu, Wahyu Susilo mengatakan, lewat kegiatan ini dia juga ingin mengenang kakaknya sebagai manusia biasa. Sebagai aktivis yang terus menyuarakan isu ketidakadilan, Wahyu tidak ingin anak muda mengglorifikasi Wiji, karena zaman terus berubah, sehingga mereka memiliki cara tersendiri untuk melawan ketidakadilan.
"Filmnya Mas Anggi ini juga mengambrakan sosok Wiji Thukul sebagai manusia. Jadi, Thukul digambarkan sebagai orang yang senang guyon, mencintai keluarga, dan yang lain. Sebab, saya takut Thukul itu dianggap sebagai pahlawan," katanya.
Menjadi agenda kegiatan yang kesekian kalinya, Tribute to Wiji Thukul dihelat untuk mengenang sosok penyair asal, Solo, Jawa Tengah itu. Pemilihan sosok ini dilakukan juga untuk menyambut momen hari besar pada Mei, yakni Hari Buruh pada 1 Mei, dan Kebangkitan Nasional yang akan jatuh pada 20 Mei mendatang.
Baca juga: Cerita Reza Rahadian Garap Buku Mereka Yang Pertama, Ditulis Pakai Handphone
Salah satu yang menarik dari acara ini adalah adanya pemutaran film Istirahatlah Kata-Kata (2016) besutan sutradara Yosep Anggi Noen. Diambil dari salah satu judul puisi Wiji Thukul, film ini berkisah tentang masa pelarian penyair pelo, itu ke Pontianak, Kalimantan Barat, pada 1996.
Kala itu, Wiji Thukul dituduh terlibat dalam kerusuhan dan aktivitas anti-pemerintah hingga akhirnya bersembunyi. Film ini secara umum menggambarkan bagaimana Thukul hidup dalam ketakutan, kesepian, dan keterasingan selama dalam pelarian, tetapi tetap mempertahankan semangat perlawanan melalui puisi-puisinya.
Program Manager Toko Buku Makarya, Hamzah Muhammad mengatakan, ihwal diadakannya kegiatan ini dilakukan salah satunya untuk merespon momentum dari apa yang ada di dalam karya sastra. Lain dari itu kegiatan ini juga sebagai bentuk kegiatan untuk merefleksikan realitas dengan apa yang pernah tersirat di dalam buku atau novel.
Sebelum kegiatan ini misal, pihaknya memberikan apresiasi terhadap The Upstairs, sebuah band asal Jakarta yang banyak membuat lagu tentang isu-isu sosial, khususnya kehidupan urban. Salah satunya terejawantah dalam karyanya yang berjudul Matraman, yang mengisahkan kehidupan sosial masyarakat di bilangan Jakarta Timur, itu.
"Untuk Tribute to Wiji Thukul sebenarnya personal. Mas Wahyu Susilo (adik Wiji Thukul) bertemu dengan kakaknya terakhir kali juga di Matraman. Bulan Mei juga menjadi momen hilangnya Wiji Thukul, yang terjadi sekitar bulan Mei, menjelang reformasi 1998," katanya.
Setali tiga uang, sutradara Yosep Anggi Noen mengatakan, raibnya Wiji Thukul merupakan salah satu dosa sejarah yang harus segera diselesaikan. Namun dia pesimis negara dapat menyingkap kelambu sejarah tersebut, karena selama ini janji mereka untuk menuntaskan masalah pelanggaran HAM hanya jadi pepesan kosong belaka.
Walakin, melalui kegiatan seperti inilah, publik atau masyarakat justru bisa terus membangun optimisme dan mengajukan pertanyaan, perihal ketidakadilan, hingga isu-isu sosial hari ini yang semakin carut marut. Sebab, melalui kegiatan seperti inilah masyarakat bisa menggugat atau mengkritisi kebijakan yang salah.
"Dengan medium apapun yang rakyat punya, kita harus berani menggugat dan bertanya. Soal apapun, terutama hak-hak dasar kita, baik kebebasan berekspresi. Ini bukan untuk kita sendiri, tetapi sebagai bentuk kekompakan dalam membela sesama rakyat," katanya.
Baca juga: Peringati Setahun Wafat, Buku Biografi Yudhistira A.N.M. Massardi Diluncurkan di PDS HB.Jassin
Sementara itu, Wahyu Susilo mengatakan, lewat kegiatan ini dia juga ingin mengenang kakaknya sebagai manusia biasa. Sebagai aktivis yang terus menyuarakan isu ketidakadilan, Wahyu tidak ingin anak muda mengglorifikasi Wiji, karena zaman terus berubah, sehingga mereka memiliki cara tersendiri untuk melawan ketidakadilan.
"Filmnya Mas Anggi ini juga mengambrakan sosok Wiji Thukul sebagai manusia. Jadi, Thukul digambarkan sebagai orang yang senang guyon, mencintai keluarga, dan yang lain. Sebab, saya takut Thukul itu dianggap sebagai pahlawan," katanya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.