Suasana diskusi peluncuran buku engunci Ingatan: Biografi dan Catatan Kenangan Yudhistira A.N.M. Massardi pada Sabtu, (3/5/25) di PDS HB Jassin. (sumber Gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Peringati Setahun Wafat, Buku Biografi Yudhistira A.N.M. Massardi Diluncurkan di PDS HB.Jassin

04 May 2025   |   06:45 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Penyair dan sastrawan Yudhistira A.N.M. Massardi telah berpulang setahun silam, akan tetapi karya-karyanya tetap abadi. Terbaru, untuk mengenang sosoknya, sebuah buku biografi tentangnya diluncurkan di Perpustakaan Jakarta Cikini dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Sabtu, (3/5/25).

Berlangsung sejak siang hingga malam hari, acara ini juga berlangsung meriah. Sejumlah seniman, musisi, dan pekerja seni turut meramaikan acara peluncuran dan diskusi buku bertajuk Mengunci Ingatan: Biografi dan Catatan Kenangan Yudhistira A.N.M. Massardi, itu.

Selain peluncuran buku, untuk mengenang kepergian Yudhistira A.N.M Massardi, PDS HB Jassin juga menggelar pameran sastra. Semuanya diungkai dalam tajuk 'Mengunci Ingatan Setahun Kepergian Yudhistira ANM Massardi' yang dibuka sejak 17 April 2025. 

Baca juga: Resensi Buku Puisi Akhirnya Kita Seperti Dedaun, Abstraksi Yudhistira Massardi dalam Memaknai Hidup

Yanto Musthofa, editor dari buku Mengunci Ingatan, mengatakan ihwal pembuatan buku biografi ini sebenarnya sudah ingin dibuat Yudhis sejak lama. Bahkan sang penyair juga sudah mempersiapkan  draft awalnya yang terdiri dari 7 bab, akan tetapi wacana tersebut belum sempat terealisasi.

Arkian, untuk mengenang kiprah dan perjalanan artistiknya sebagai penyair dan penulis serba bisa, maka dibuatlah buku tersebut. Selain menuliskan kisah hidup, buku ini juga berisi catatan-catatan kenangan keluarga, dan sahabat yang selama ini bersinggungan dengan Yudhis.

"Proses pembuatan bukunya berlangsung sekitar 1 bulan, termasuk riset. Salah satunya terkait kontroversi menangnya mas Yudhis sebagai salah satu pemenang penghargaan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk buku puisi Sajak Sikat Gigi pada 1978," katanya.


 

Ilustrasi buku dan karya puisi Yudhistira A.N.M. Massardi di pameran Mengunci Ingatan Setahun Kepergian Yudhistira ANM Massardi

Ilustrasi buku dan karya puisi Yudhistira A.N.M. Massardi di pameran Mengunci Ingatan Setahun Kepergian Yudhistira ANM Massardi. (sumber Gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Secara umum, Yanto mengungkap buku ini mendedah tentang kiprah kepenyairan Yudhis yang dimulai di Yogyakarta. Momen ini ditandai dengan bergabungnya Yudhis di Persada Studi Klub, sebuah komunitas kreatif penulis-penulis muda pada 1960-an, yang dimotori oleh Umbu Landu Paranggi.

Selaras, pegiat kebudayaan Halim Hade mengatakan, bakat Yudhis di bidang sastra memang diasah di Persada. Kendati dikenal sebagai sosok yang pendiam, akan tetapi sang penyair selalu memiliki cara tersendiri untuk membuat karya-karya yang khas hingga akhirnya pindah ke Jakarta.

Peristiwa pindahnya Yudhis ke Jakarta inilah yang kelak semakin membuat nama Yudhis mulai dikenal publik sastra. Sebab, pada masa itu banyak pekerja kreatif dari daerah yang memutuskan hijrah ke sana, termasuk Sutardji Calzoum Bachri, atau Ebith G. Ade, yang sebelumnya juga aktif di Persada.

"Yudhis ini cukup menarik, jika penyair-penyair pada zamannya mencoba untuk membuat kredo, dia cuek saja. Dia bisa mengambil inspirasi dari mana saja untuk kemudian dibuat menjadi puisi," katanya.

Selain diskusi, acara peluncuran buku biografi Yudhistira A.N.M. Massardi juga dimeriahkan dengan pembacaan dan musikalisasi puisi. Sejumlah seniman dan pekerja kreatif yang turut meramaikan seperti Cak Lontong, Jose Rizal Manua, Endah N Rhesa, Sal Priadi, Yuni Shara, dan masih banyak lagi.

Yudhistira A.N.M Massardi (1954—2024) memulai karier di dunia sastra melalui pergaulannya dengan para seniman di Malioboro, Yogyakarta. Mengikuti saudara kembarnya, Noorca Marendra Massardi, dia pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai jurnalis di berbagai media. 

Nama Yudhis mulai populer setelah dia terpilih menjadi salah satu pemenang penghargaan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 1978. Kala itu, buku puisinya, Sajak Sikat Gigi berhasil memenangkan ajang lomba tahunan yang dihelat oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta  tersebut.

Namun, polemik meletus karena pemenang lainnya, yakni Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi WM, menolak keputusan juri yang terdiri dari Dodong Djiwapardja, Toeti Heraty, dan Goenawan Mohamad. Peristiwa ini pun sempat menjadi salah satu polemik sastra Indonesia  pada masanya.

Selain menulis puisi, Yudhis juga membuat novel Arjuna Mencari Cinta (1977). Pada masanya novel ini juga mendapat respons baik karena isu yang diangkat hingga pilihan pendekatan kesusastraannya yang unik karena karakternya didasarkan dari nama-nama dalam pewayangan.

Baca juga: Resensi Buku dari Paris untuk Cinta: Romantisme Cinta Ala Noorca M. Massardi

SEBELUMNYA

Boy Candra Rilis Novel Baru Berjudul Ikhlas Penuh Luka, Cerita Tentang Perpisahan & Kehilangan

BERIKUTNYA

Diangkat Jadi Komisaris, Cak Lontong Bakal Hidupkan Lagi Pasar Seni Ancol

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: