penyematan pin kepada pemenang DisBerdaya 2024 (sumber : DANA)

Tingkatkan Daya Saing UMKM Perempuan Lewat Akses, Literasi, dan Inklusi

08 May 2025   |   19:00 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Dalam beberapa tahun terakhir, peran perempuan dalam sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menguat. Namun, banyak pelaku usaha perempuan masih menghadapi tantangan mendasar: terbatasnya akses pasar, kurangnya pelatihan keterampilan, hingga minimnya literasi digital dan keuangan.

Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, lebih dari 60 persen UMKM di Indonesia dimiliki oleh perempuan. Meski begitu, banyak dari mereka belum sepenuhnya terhubung dengan ekosistem ekonomi digital maupun layanan keuangan formal.

Baca juga: Ini 5 Hal yang Perlu Genhype Tahu tentang Penghapusan Utang UMKM

Tantangan lain seperti keterbatasan modal, minimnya jejaring bisnis, dan beban kerja ganda sebagai pengusaha dan ibu rumah tangga, masih menjadi kendala yang sering dihadapi.

“Survei internal kami menunjukkan bahwa 74 persen UMKM perempuan kesulitan mengakses pasar, dan lebih dari separuh belum memiliki keterampilan yang memadai untuk bersaing secara digital,” ujar Olavina Harahap, perwakilan dari DANA, dalam peluncuran SisBerdaya dan DisBerdaya 2025 pada Rabu (7/5/2025).

Deputi Direktur Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, Sri Noerhidajati, menekankan pentingnya digitalisasi dan literasi keuangan sebagai modal untuk memperkuat ketangguhan UMKM, terutama bagi perempuan dan kelompok rentan.

Di sinilah pentingnya kehadiran program pemberdayaan yang dirancang dengan mempertimbangkan konteks dan kebutuhan spesifik perempuan pelaku usaha. Salah satu inisiatif yang menyoroti tantangan ini adalah SisBerdaya, sebuah program pendampingan dan pelatihan yang kini memasuki tahun ketiganya. Program ini secara khusus menyasar perempuan pemilik usaha mikro dan ultra mikro, serta kelompok perempuan penyandang disabilitas melalui subprogram DisBerdaya.

Program seperti SisBerdaya hadir dengan pendekatan bertahap mulai dari pelatihan daring, pendampingan bisnis, hingga kesempatan mengembangkan proposal usaha yang akan dipresentasikan di tahap akhir.

Kurikulum pelatihannya dirancang agar sesuai dengan kebutuhan riil pelaku usaha perempuan: dari cara membangun identitas merek yang kuat, strategi pemasaran digital, hingga pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dalam pengembangan produk dan layanan.

Lebih dari sekadar pelatihan, pendekatan SisBerdaya juga memperkuat komunitas antar pelaku usaha perempuan. Melalui ruang berbagi pengalaman dan tantangan, peserta dapat membangun solidaritas dan jaringan bisnis yang selama ini sulit dijangkau secara individual.

Sejak pertama kali diluncurkan, program ini telah melibatkan ribuan pelaku usaha dari berbagai provinsi, dan berdasarkan evaluasi internal, sebagian besar peserta mengalami peningkatan kapasitas produksi serta pendapatan.

“Namun angka-angka ini bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kepercayaan diri dan kemampuan mandiri dari pelaku usaha perempuan untuk mengelola dan mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan,” ujar Olivia.

Dengan semangat memperluas dampak, SisBerdaya 2025 kembali membuka kesempatan bagi pelaku usaha perempuan dari seluruh Indonesia untuk bergabung. Bagi banyak perempuan, ini bukan sekadar kompetisi bisnis melainkan titik tolak untuk menciptakan perubahan nyata dalam hidup dan komunitasnya.

Baca juga: 5 Alternatif Pendanaan Bagi UMKM yang Ingin Tumbuh dan Naik Kelas

SEBELUMNYA

Revanzworld, Merek Lokal yang Lahir dari Bakat Anak Neurodivergen dan Kasih Sayang Ibu

BERIKUTNYA

Pemerintah Minta Klarifikasi Promotor Terkait Pengaduan Penonton Konser DAY6

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga