Perempuan Difabel UMKM Menembus Batas Lewat Transformasi Digital
12 August 2025 |
06:33 WIB
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital di Indonesia, peluang untuk mengembangkan usaha kini terbuka lebar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, tantangan masih dihadapi oleh banyak perempuan pengusaha dari kelompok difabel, yang sering kali terkendala akses, keterampilan, maupun sumber daya.
Menjawab tantangan ini, DANA dan Ant International meluncurkan program SisBerdaya dan DisBerdaya 2025. Dari lebih dari 5.000 pelaku usaha perempuan yang bergabung, dengan peningkatan partisipasi 176% dibanding tahun sebelumnya, lebih dari 100 di antaranya adalah perempuan penyandang disabilitas.
Baca juga: SheAblepreneur, Kolaborasi Inklusif Perempuan dan Disabilitas di Dunia UMKM
Program ini mengajarkan peserta memanfaatkan teknologi secara strategis, mulai dari pemasaran digital, pencatatan keuangan, digital payment, Business Model Canvas, hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mengelola usaha.
Vince Iswara, CEO & Co-Founder DANA Indonesia, menekankan bahwa teknologi harus menjadi jembatan kesetaraan. “Kami ingin teknologi menjangkau perempuan yang memulai usaha dari rumah, bahkan di desa,” ujarnya.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Yesi Endah Sundasari, penyandang disabilitas asal Jawa Barat yang mengelola usaha bawang goreng KUKEBI (Kue Kenging Abdi atau “Kue Buatan Saya”).
Dengan kedua tangannya, Yesi mengupas, mengiris, dan menggoreng bawang hingga menghasilkan cita rasa gurih khas. Lebih dari sekadar bisnis, Yesi membeli bawang langsung dari petani lokal, lalu memanfaatkan limbah kulitnya menjadi pupuk kompos dan pakan ternak.
“Bagi saya, difabel bukan sekadar bertahan. Difabel adalah tentang tumbuh, memberi dampak, dan membuktikan bahwa keterbatasan bukan akhir, melainkan awal dari perubahan yang berarti,” kata Yesi.
Kisah lain datang dari Rani Mei Lestari, penyandang paraplegia yang mendirikan DISPROMAN Laundry. Usaha ini tidak hanya menyediakan jasa cuci pakaian, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi perempuan difabel lainnya.
Rani melatih karyawan agar memiliki keterampilan teknis dan rasa percaya diri. “Bisnis ini bukan sekadar jasa laundry, tapi ruang untuk tumbuh bersama,” ujarnya.
Keduanya memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan bisnisnya, baik dalam hal pemasaran maupun pemanfaatan teknologi digital untuk operasional dan proses pembayaran yang semakin memudahkan.
Rony Ukurta Barus, Kepala Direktorat Inklusi Keuangan OJK, menilai pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas seperti SisBerdaya dan DisBerdaya memiliki dampak terukur. “Perempuan pelaku usaha, termasuk dari kelompok difabel, punya peran strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif,” ujarnya.
Data DANA mencatat, 64% pelaku UMKM di Indonesia dikelola perempuan, tetapi sebagian besar belum memanfaatkan teknologi secara optimal. Transformasi digital diyakini bisa memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat daya saing.
Wilson Siahaan, Senior Director Ant International Indonesia, menambahkan bahwa pengembangan talenta menjadi fokus utama agar manfaatnya berkelanjutan. “Transformasi digital tidak sekadar menjadi motor penggerak ekonomi keluarga, tetapi juga menumbuhkan keyakinan diri, menciptakan peluang baru, dan menginspirasi perempuan lainnya di seluruh Indonesia,” katanya.
Peserta program tahun ini datang dari berbagai sektor usaha mulai dari kuliner, kerajinan, pertanian, hingga teknologi dengan pendekatan pelatihan hybrid yang menggabungkan teori, pendampingan, dan akses jaringan pemasaran digital.
Ke depan, keberlanjutan program dinilai akan sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor: pemerintah, swasta, dan komunitas, serta dukungan kebijakan afirmatif yang membuka akses pembiayaan dan infrastruktur digital bagi pelaku usaha difabel.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Menjawab tantangan ini, DANA dan Ant International meluncurkan program SisBerdaya dan DisBerdaya 2025. Dari lebih dari 5.000 pelaku usaha perempuan yang bergabung, dengan peningkatan partisipasi 176% dibanding tahun sebelumnya, lebih dari 100 di antaranya adalah perempuan penyandang disabilitas.
Baca juga: SheAblepreneur, Kolaborasi Inklusif Perempuan dan Disabilitas di Dunia UMKM
Program ini mengajarkan peserta memanfaatkan teknologi secara strategis, mulai dari pemasaran digital, pencatatan keuangan, digital payment, Business Model Canvas, hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mengelola usaha.
Vince Iswara, CEO & Co-Founder DANA Indonesia, menekankan bahwa teknologi harus menjadi jembatan kesetaraan. “Kami ingin teknologi menjangkau perempuan yang memulai usaha dari rumah, bahkan di desa,” ujarnya.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Yesi Endah Sundasari, penyandang disabilitas asal Jawa Barat yang mengelola usaha bawang goreng KUKEBI (Kue Kenging Abdi atau “Kue Buatan Saya”).
Dengan kedua tangannya, Yesi mengupas, mengiris, dan menggoreng bawang hingga menghasilkan cita rasa gurih khas. Lebih dari sekadar bisnis, Yesi membeli bawang langsung dari petani lokal, lalu memanfaatkan limbah kulitnya menjadi pupuk kompos dan pakan ternak.
“Bagi saya, difabel bukan sekadar bertahan. Difabel adalah tentang tumbuh, memberi dampak, dan membuktikan bahwa keterbatasan bukan akhir, melainkan awal dari perubahan yang berarti,” kata Yesi.
Kisah lain datang dari Rani Mei Lestari, penyandang paraplegia yang mendirikan DISPROMAN Laundry. Usaha ini tidak hanya menyediakan jasa cuci pakaian, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi perempuan difabel lainnya.
Rani melatih karyawan agar memiliki keterampilan teknis dan rasa percaya diri. “Bisnis ini bukan sekadar jasa laundry, tapi ruang untuk tumbuh bersama,” ujarnya.
Keduanya memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan bisnisnya, baik dalam hal pemasaran maupun pemanfaatan teknologi digital untuk operasional dan proses pembayaran yang semakin memudahkan.
Rony Ukurta Barus, Kepala Direktorat Inklusi Keuangan OJK, menilai pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas seperti SisBerdaya dan DisBerdaya memiliki dampak terukur. “Perempuan pelaku usaha, termasuk dari kelompok difabel, punya peran strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif,” ujarnya.
Data DANA mencatat, 64% pelaku UMKM di Indonesia dikelola perempuan, tetapi sebagian besar belum memanfaatkan teknologi secara optimal. Transformasi digital diyakini bisa memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat daya saing.
Wilson Siahaan, Senior Director Ant International Indonesia, menambahkan bahwa pengembangan talenta menjadi fokus utama agar manfaatnya berkelanjutan. “Transformasi digital tidak sekadar menjadi motor penggerak ekonomi keluarga, tetapi juga menumbuhkan keyakinan diri, menciptakan peluang baru, dan menginspirasi perempuan lainnya di seluruh Indonesia,” katanya.
Peserta program tahun ini datang dari berbagai sektor usaha mulai dari kuliner, kerajinan, pertanian, hingga teknologi dengan pendekatan pelatihan hybrid yang menggabungkan teori, pendampingan, dan akses jaringan pemasaran digital.
Ke depan, keberlanjutan program dinilai akan sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor: pemerintah, swasta, dan komunitas, serta dukungan kebijakan afirmatif yang membuka akses pembiayaan dan infrastruktur digital bagi pelaku usaha difabel.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.