Teddy Soeriaatmadja, sutradara film Mungkin Kita Perlu Waktu (Sumber foto Hypeabis.id/Robby Fathan)

Film Mungkin Kita Perlu Waktu Bioskop Bakal Punya Ending Berbeda dari Versi JAFF

06 May 2025   |   20:17 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Film Mungkin Kita Perlu Waktu segera tayang di bioskop. Karya sutradara Teddy Soeriaatmadja yang tayang di layar lebar mulai 15 Mei 2025, dipastikan bakal berbeda dengan yang sudah ditayangkan di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) pada akhir Desember 2024. 

Perbedaan itu mencakup sejumlah elemen penting, termasuk gaya penyuntingan, tone penceritaan, hingga ending cerita. Sang sutradara, Teddy, menyebut hal ini dilakukan karena beberapa alasan. 

“Bukan karena kita pengin bedain versi festival dan bioskop. Namun, saya merasa ada kebutuhan untuk mengubah apa yang sudah ada ke sesuatu yang secara cerita jadi lebih baik,” ungkap Teddy kepada Hypeabis.id. 

Baca juga: Fakta Menarik Film Mungkin Kita Perlu Waktu, Siap Tayang 15 Mei 2025

Teddy mengatakan film ini tayang di JAFF pada Desember 2024, kemudian perilisan di bioskopnya baru akan dimulai pada Mei 2025. Jeda panjang ini yang membuat dirinya mencoba menengok film ini secara lebih dalam. 

Dalam perjalanannya, Teddy merasa ada ide-ide baru yang muncul. Dia merasa perlu untuk mengubah beberapa hal di dalam filmnya, agar visi kreatif di karya ini lebih sampai ke penonton. “Buat saya, proses membuat film itu memang enggak akan berhenti. Baru benar-benar final dan sebuah film menjadi milik penonton, ya ketika sudah tayang di bioskop,” tuturnya.

Selama 5 bulan, Teddy mencoba mengotak-atik lagi editing dan gaya penceritaan di filmnya. Rupanya, hal itu menciptakan tone penceritaan, yang menurutnya lebih menarik dan membuat pesan yang ingin disampaikan lebih terasa ke penonton.

Dirinya kemudian berdiskusi dengan para produser. Dia mulai melebarkan gagasan-gagasan yang ada di kepalanya. Beruntungnya, kala itu film ini belum mendapatkan tanggal tayang. Akhirnya, para produser pun percaya untuk membuat versi yang berbeda. 

“Bukan memperbaiki, tetapi untuk menguatkan lagi si ceritanya ini. Dari segi ceritanya akan sedikit berbeda dan tone-nya juga berbeda,” jelasnya.
 

Para pemain, sutradara, dan produser Mungkin Kita Perlu Waktu (Sumber foto Hypeabis.id/Robby Fathan)

Para pemain, sutradara, dan produser Mungkin Kita Perlu Waktu (Sumber foto Hypeabis.id/Robby Fathan)

Satu alasan kuat yang membuatnya mengubah versi film ini adalah kecintaannya pada karakter Restu dan Kasih. Semakin sering dirinya menonton film ini, dinamika yang terjadi antara Restu dan Kasih punya andil yang besar baginya.

“Saya merasa perlu untuk memberi semacam closure yang, menurut saya sebagai filmmaker, lebih adil untuk keduanya. Kurang lebih itu yang saya bayangkan dan renungkan. Jadi, seperti judulnya, mungkin saya juga perlu waktu,” kata Teddy. 

Teddy mengatakan setiap membuat film, jeda memang jadi satu periode yang penting. Di dalam jeda itu, dirinya bisa mengulang kembali dan menelaah kembali karyanya. 

Sebenarnya, kata dia, ada beberapa film yang juga ingin dibuat ulang versinya. Akan tetapi, hal itu tak terjadi karena filmnya telah tayang dan bertemu publik. Hal berbeda juga terjadi di film ini, tetapi belum tayang di publik, sehingga dia memutuskan untuk mengubah versi. 

“Saya bersyukur bisa didukung oleh orang-orang dari Kathanika Films, Adhya Pictures, dan Karuna Pictures, yang benar-benar mendukung visi saya,” tegasnya.

Mungkin Kita Perlu Waktu mengisahkan perjalanan emosional Ombak yang dihantui rasa bersalah atas meninggalnya sang adik, Sara. Kesedihan itu tak hanya dirasakan oleh Ombak, tapi juga oleh kedua orang tuanya, Restu dan Kasih, yang sama-sama kehilangan anak perempuan mereka. 

Restu memilih memendam duka demi menjaga ketenangan keluarganya yang masih ada, sedangkan Kasih berusaha menenangkan diri dengan menjalani ibadah umroh dan berharap bisa menemukan kedamaian batin.

Di tengah suasana duka yang menyelimuti keluarganya, Ombak mulai melihat secercah harapan setelah mengenal Aleiqa, seorang gadis dengan kondisi bipolar. Namun, hubungan mereka bukannya tanpa rintangan. Minimnya komunikasi yang sehat membuat keduanya terjebak dalam konflik yang sewaktu-waktu bisa meledak, seperti bom waktu.

Baca juga: Reaksi Pertama Lukman Sardi saat Membaca Naskah Film Mungkin Kita Perlu Waktu

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Brand Skincare Bayi Loluna Punya 5.000 Titik Penjualan di Indonesia, Gimana Caranya?

BERIKUTNYA

Keindahan Benteng Keraton Buton Limbo Wolio, Wajah Sejarah di Puncak Bukit

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: