Pameran Jejak Langkah: Saat Seniman Mengenang Pramoedya Ananta Toer Lewat Bahasa Rupa
06 May 2025 |
06:00 WIB
Siluet bayangan stiker cukil berukuran 80 cm itu, tampak membesar dalam tembakan cahaya yang mengarah ke tembok. Gambarnya mengimak seorang lelaki sedang membaca buku di atas sofa. Matanya fokus ke satu arah, dengan kaki menyilang. Di depannya sebuah instalasi berbentuk hati juga terkena sorot yang sama. Dipenuhi paku yang dirantai, hati tersebut seperti merepresentasikan kesakitan.
Namun, ada seberkas cahaya kecil yang terus menyala. Simbol perlawanan yang tak pernah padam. Sosok dalam karya Haryono D.A itu adalah sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Bertajuk Hidup dalam Redup, instalasi ini seolah mewakili kisah hidup Pram. Sebab, hampir sebagian besar hidupnya dihabiskan di dalam penjara.
Baca juga: Rayakan Pemikiran Pramoedya Ananta Toer, Puluhan Perupa Gelar Pameran di Balai Budaya Jakarta
Instalasi Haryono D.A hanyalah satu dari puluhan karya lain yang dipamerkan di Balai Budaya, Jakarta untuk mengenang Pram. Bertajuk Jejak Langkah dalam Pertarungan, seteleng ini berlangsung pada 1 sampai 10 Mei 2025.
Pameran ini merupakan rangkaian dari festival Seabad Pram yang dihelat pada 6 Februari 2025 sampai 6 Februari 2026. Sebelumnya, peringatan ini juga telah dilakukan di berbagai tempat di Tanah Air secara sporadis.
Namun, berbeda dari kegiatan-kegiatan sebelumnya, acara ini justru dihelat oleh para perupa. Total terdapat 32 perupa yang merefleksikan gagasan dan keberanian berpikirnya ke dalam berbagai karya, baik dwi atau trimatra.
Ketua Pelaksana pameran, Mario Lasol menilai, menggali kembali pemikiran-pemikiran Pram pada situasi hari ini sangat penting. Sebab, Pram menurutnya banyak menginspirasi kaum muda untuk berani dan terus berjuang melawan penindasan.
Lewat karya-karyanya publik bakal lebih bisa melihat dan mengerti tentang Indonesia. Mario berharap, lewat pameran ini para pengunjung juga bisa menimba semangat dan keberaniaan Pram untuk menjadikan Indonesia jadi lebih baik ke depannya.
"Sosok penulis yang revolusioner, setelah Pram ini belum ada lagi di Indonesia. Semua karya yang dipamerkan di sini juga didedikasikan untuk Pram, baik dalam mengenal sosok dan pemikirannya," katanya.
Karya-karya yang dihadirkan dalam pameran ini mayoritas memang menggambarkan sosok Pramoedya Ananta Toer. Misalnya Mesin Waktu (2025) dari Abdul Haris, Pram (2025) dari Anggit Widi Putra, atau Kekuatan Imajinasi (2025) karya Ikhsan Trisnawan.
Potret-potret Pramoedya dalam berbagai pose juga hadir dalam lukisan bertajuk Potret Pram dalam Sensor Kekuasaan #1 dan #2 (2025) karya Khanafi. Ada pula Menulis Adalah Senjata (2025), buah tangan Muhamad Misbah, yang menggunakan mix media dan sampah.
Kurator pameran, Mayek Prayitno mengatakan, dia berharap para perupa harusnya merepresentasikan sosok Pram dalam bentuk lain, alias bukan figur. Namun, mereka terjebak pada bentuk figur, alih-alih merefleksikan ulang gagasannya seturut situasi hari ini.
Walakin, Mayek mengungkap tidak semua perupa mengenang Pram, dengan cara tersebut. Seniman Edi Bonetski, misal mengejawantahkan gagasan-gagasan penulis Tetralogi Buru, itu lewat karya bertajuk Bumi Manusia, Kata-kata Tak Bisa Dipenjara (akrilik di atas kanvas 110 x 119 cm, 2025).
Dalam lukisan ini, Mayek menjelaskan bahwa sang seniman merefleksikan pemikiran Pram dengan kondisi sosial politik hari ini. Salah satunya dengan menghadirkan sosok petani yang berkacak pinggang dengan cangkulnya, seolah melawan penggusuran yang kian marak terjadi di Tanah Air.
"Dengan karyanya Mas Edi, dan yang lain, saya cenderung mengapresiasi karya di mana perupa merespon situasi sekarang. Jadi bagaimana mereka mengambil spirit Pram untuk menyikapi hari ini, terutama kerusakan politik, dan PHK massal," katanya.
Semangat serupa juga hadir dalam karya berjudul Keabadian (akrilik di atas kanvas, 120 x 80 cm 2025) besutan M. Rafif Ammar. Dilukis dengan gaya surealis, karya ini mencoba menginterpretasikan ketimpangan sosial sebagaimana terjadi dalam novel Anak Semua Bangsa.
Menurut Mayek, meskipun zaman terus berganti, akan tetapi apa yang dilukiskan Pram dalam bukunya yang mengambil latar sebelum kemerdekan itu, masih terjadi hingga hari ini. Misalnya konflik antara rakyat dan pemodal, yang akhirnya membuat mereka tersingkir.
Baca juga: Pramoedya Ananta Toer & Gagasan tentang Indonesia yang Tak Lekang Zaman
Seniman Nendi Setiawan juga melukis sosok potret Gadis Pantai. Dia seolah menyadarkan bagaimana kaum perempuan belum merdeka seutuhnya atas tubuh dan pemikirannya pada era kiwari. Lain lagi dengan Nugrahanto Widodo yang menggambar kelimun wayang dalam karya Quote of Pram.
Pameran Seni Rupa Tribute to Pramoedya Ananta Toer: Jejak Langkah dalam Pertarungan juga dimeriahkan dengan berbagai acara lain. Di antaranya termasuk diskusi, lecture performance, pertunjukan musik, teater, dan performance art dari 1 Mei sampai 10 Mei 2025.
Namun, ada seberkas cahaya kecil yang terus menyala. Simbol perlawanan yang tak pernah padam. Sosok dalam karya Haryono D.A itu adalah sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Bertajuk Hidup dalam Redup, instalasi ini seolah mewakili kisah hidup Pram. Sebab, hampir sebagian besar hidupnya dihabiskan di dalam penjara.
Baca juga: Rayakan Pemikiran Pramoedya Ananta Toer, Puluhan Perupa Gelar Pameran di Balai Budaya Jakarta
Instalasi Haryono D.A hanyalah satu dari puluhan karya lain yang dipamerkan di Balai Budaya, Jakarta untuk mengenang Pram. Bertajuk Jejak Langkah dalam Pertarungan, seteleng ini berlangsung pada 1 sampai 10 Mei 2025.
Pameran ini merupakan rangkaian dari festival Seabad Pram yang dihelat pada 6 Februari 2025 sampai 6 Februari 2026. Sebelumnya, peringatan ini juga telah dilakukan di berbagai tempat di Tanah Air secara sporadis.

Karya Hidup dalam Redup, dalam pameran seni rupa Tribute to Pramoedya Ananta Toer: Jejak Langkah dalam Pertarungan, di Balai Budaya, Menteng, Jakarta, pada Kamis, (1/5/25). (Sumbar gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Ketua Pelaksana pameran, Mario Lasol menilai, menggali kembali pemikiran-pemikiran Pram pada situasi hari ini sangat penting. Sebab, Pram menurutnya banyak menginspirasi kaum muda untuk berani dan terus berjuang melawan penindasan.
Lewat karya-karyanya publik bakal lebih bisa melihat dan mengerti tentang Indonesia. Mario berharap, lewat pameran ini para pengunjung juga bisa menimba semangat dan keberaniaan Pram untuk menjadikan Indonesia jadi lebih baik ke depannya.
"Sosok penulis yang revolusioner, setelah Pram ini belum ada lagi di Indonesia. Semua karya yang dipamerkan di sini juga didedikasikan untuk Pram, baik dalam mengenal sosok dan pemikirannya," katanya.
Pemikiran & Potret
Karya-karya yang dihadirkan dalam pameran ini mayoritas memang menggambarkan sosok Pramoedya Ananta Toer. Misalnya Mesin Waktu (2025) dari Abdul Haris, Pram (2025) dari Anggit Widi Putra, atau Kekuatan Imajinasi (2025) karya Ikhsan Trisnawan.Potret-potret Pramoedya dalam berbagai pose juga hadir dalam lukisan bertajuk Potret Pram dalam Sensor Kekuasaan #1 dan #2 (2025) karya Khanafi. Ada pula Menulis Adalah Senjata (2025), buah tangan Muhamad Misbah, yang menggunakan mix media dan sampah.
Kurator pameran, Mayek Prayitno mengatakan, dia berharap para perupa harusnya merepresentasikan sosok Pram dalam bentuk lain, alias bukan figur. Namun, mereka terjebak pada bentuk figur, alih-alih merefleksikan ulang gagasannya seturut situasi hari ini.
Walakin, Mayek mengungkap tidak semua perupa mengenang Pram, dengan cara tersebut. Seniman Edi Bonetski, misal mengejawantahkan gagasan-gagasan penulis Tetralogi Buru, itu lewat karya bertajuk Bumi Manusia, Kata-kata Tak Bisa Dipenjara (akrilik di atas kanvas 110 x 119 cm, 2025).

Karya Edi Bonetski bertajuk Bumi Manusia, Kata-kata Tak Bisa Dipenjara (kiri) dalam pameran seni rupa Tribute to Pramoedya Ananta Toer bertajuk Jejak Langkah dalam Pertarungan di Balai Budaja, Jakarta, Jumat (2/5/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)
Dalam lukisan ini, Mayek menjelaskan bahwa sang seniman merefleksikan pemikiran Pram dengan kondisi sosial politik hari ini. Salah satunya dengan menghadirkan sosok petani yang berkacak pinggang dengan cangkulnya, seolah melawan penggusuran yang kian marak terjadi di Tanah Air.
"Dengan karyanya Mas Edi, dan yang lain, saya cenderung mengapresiasi karya di mana perupa merespon situasi sekarang. Jadi bagaimana mereka mengambil spirit Pram untuk menyikapi hari ini, terutama kerusakan politik, dan PHK massal," katanya.
Semangat serupa juga hadir dalam karya berjudul Keabadian (akrilik di atas kanvas, 120 x 80 cm 2025) besutan M. Rafif Ammar. Dilukis dengan gaya surealis, karya ini mencoba menginterpretasikan ketimpangan sosial sebagaimana terjadi dalam novel Anak Semua Bangsa.
Menurut Mayek, meskipun zaman terus berganti, akan tetapi apa yang dilukiskan Pram dalam bukunya yang mengambil latar sebelum kemerdekan itu, masih terjadi hingga hari ini. Misalnya konflik antara rakyat dan pemodal, yang akhirnya membuat mereka tersingkir.
Baca juga: Pramoedya Ananta Toer & Gagasan tentang Indonesia yang Tak Lekang Zaman
Seniman Nendi Setiawan juga melukis sosok potret Gadis Pantai. Dia seolah menyadarkan bagaimana kaum perempuan belum merdeka seutuhnya atas tubuh dan pemikirannya pada era kiwari. Lain lagi dengan Nugrahanto Widodo yang menggambar kelimun wayang dalam karya Quote of Pram.
Pameran Seni Rupa Tribute to Pramoedya Ananta Toer: Jejak Langkah dalam Pertarungan juga dimeriahkan dengan berbagai acara lain. Di antaranya termasuk diskusi, lecture performance, pertunjukan musik, teater, dan performance art dari 1 Mei sampai 10 Mei 2025.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.