Rayakan Pemikiran Pramoedya Ananta Toer, Puluhan Perupa Gelar Pameran di Balai Budaya Jakarta
02 May 2025 |
22:36 WIB
Gema perayaan seabad Pramoedya Ananta Toer masih terus bergaung hingga hari ini. Salah satunya lewat pameran seni rupa Tribute to Pramoedya Ananta Toer, bertajuk Jejak Langkah dalam Pertarungan, yang dihelat di Balai Budaya, Menteng, Jakarta, pada 1-10 Mei 2025.
Lebih dari 30 perupa yang tersebar di Tanah Air turut memeriahkan acara yang dihelat oleh kolektif Teras Merah, itu. Mereka membawa karya-karya terbaru yang merefleksikan gagasan-gagasan sastrawan asal Blora, itu melalui bahasa rupa dengan visual yang menggugah.
Baca juga: Pramoedya Ananta Toer & Gagasan tentang Indonesia yang Tak Lekang Zaman
Ketua pelaksana pameran, Mario Lasol mengatakan, dihelatnya pameran ini merupakan upaya untuk membaca kembali pemikiran-pemikiran Pram berdasarkan situasi hari ini. Sebab, dari karya-karyanya, generasi muda bisa mengambil inspirasi untuk berani dan terus berjuang melawan penindasan.
Menurut Mario, dengan memaknai ulang karya-karya Pram, publik juga bakal lebih bisa melihat dan mengerti tentang Indonesia. Dia berharap lewat pameran ini para pengunjung juga bisa menimba semangat dan keberanian Pram untuk menjadikan Indonesia jadi lebih baik ke depannya.
"Pram adalah sosok penulis yang revolusioner, setelah dia mungkin belum ada lagi di Indonesia yang memiliki semangat seperti itu. Semua karya yang dipamerkan di sini juga didedikasikan untuk beliau," katanya saat ditemui Hypeabis.id.
Setali tiga uang, kurator pameran Mayek Prayitno mengatakan, selain melakukan pembacaan ulang terhadap karya-karya Pram, pameran ini juga berupaya membangkitkan kembali pikiran-pikiran kritis yang yang pernah dirisalahkan penulis Tetralogi Pulau Buru dalam bahasa rupa dengan situasi hari ini.
Menurut Mayek, apa yang dikisahkan Pram di dalam karya-karyanya, seperti isu penindasan, hingga ketimpangan ekonomi hingga saat ini masih terus terjadi di Tanah Air. Oleh karena itu, penting untuk dilakukan kembali secara mendalam apa yang sebenarnya menjadi penyebab dari dekadensi tersebut.
"Dengan hadirnya karya-karya di pameran ini kami berharap generasi muda bisa dapat kritis lagi membaca karya-karya Pram yang berasal dari masa lalu untuk dikorelasikan dengan situasi hari ini," katanya.
Momen tersebut misal, hadir dalam karya bertajuk Hidup dalam Redup (mix media, kayu, cut sticker, cahaya, 150 cm, 2025) dari Haryono D.A, yang mengimak bayang-bayang Pram sedang membaca buku. Kendati begitu, karya ini cukup unik karena menggabungkan pendekatan tata lampu dengan teknik dalam pewayangan.
Karya dengan semangat serupa juga hadir dalam lukisan bertajuk Mesin Waktu (2025) dari Abdul Haris, Pram (2025) dari Anggit Widi Putra, dan Kekuatan Imajinasi (2025) karya Ikhsan Trisnawan. Ketiga karya ini, juga menghadirkan figur Pram dengan berbagai pose dan stilisasi dua dimensi.
Walakin, Mayek mengungkap tidak semua perupa mengenang Pram, dengan cara tersebut. Seniman Edi Bonetski, misal mengejawantahkan gagasan-gagasan penulis Tetralogi Buru, itu lewat karya bertajuk Bumi Manusia, Kata-kata Tak Bisa Dipenjara (akrilik di atas kanvas 110 x 119 cm, 2025).
Lain dari itu, ada juga karya-karya yang merujuk pada masa kolonial dan orde lama, serta isu kritis tentang penindasan rakyat Papua atas kekayaan alam dan kekerasan bersenjata di sana. Momen ini terejawantah dalam karya Ade Irmansyah dan Mario Lasol bertajuk Anti Kolonialisme dan Perdikan.
Sejalan dengan gagasan tersebut, hadir pula pematung Dida Natalsya, yang menyinggung soal hasrat kuasa, zaman gelap yang penuh tipu daya lewat karya Never Ending Story. Dibuat dari kayu, sang seniman mencoba membuat distorsi bentuk-bentuk figur dengan gaya ekspresif sebagai simbol perlawanan.
"Kecenderungan para seniman dalam pameran ini adalah sebagian besar merespon romantisme masa lalu. Misal, merespon novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, untuk kemudian dialihkan ke bahasa rupa," katanya.
Pameran Seni Rupa Tribute to Pramoedya Ananta Toer: Jejak Langkah dalam Pertarungan juga dimeriahkan dengan berbagai acara lain. Di antaranya termasuk diskusi, lecture performance, pertunjukan musik, teater, dan performance art dari 1 Mei sampai 10 Mei 2025.
Baca juga: Mengenal 4 Buku Pramoedya Ananta Toer yang Dicetak Ulang Edisi Khusus 100 Tahun
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Lebih dari 30 perupa yang tersebar di Tanah Air turut memeriahkan acara yang dihelat oleh kolektif Teras Merah, itu. Mereka membawa karya-karya terbaru yang merefleksikan gagasan-gagasan sastrawan asal Blora, itu melalui bahasa rupa dengan visual yang menggugah.
Baca juga: Pramoedya Ananta Toer & Gagasan tentang Indonesia yang Tak Lekang Zaman
Ketua pelaksana pameran, Mario Lasol mengatakan, dihelatnya pameran ini merupakan upaya untuk membaca kembali pemikiran-pemikiran Pram berdasarkan situasi hari ini. Sebab, dari karya-karyanya, generasi muda bisa mengambil inspirasi untuk berani dan terus berjuang melawan penindasan.
Menurut Mario, dengan memaknai ulang karya-karya Pram, publik juga bakal lebih bisa melihat dan mengerti tentang Indonesia. Dia berharap lewat pameran ini para pengunjung juga bisa menimba semangat dan keberanian Pram untuk menjadikan Indonesia jadi lebih baik ke depannya.
"Pram adalah sosok penulis yang revolusioner, setelah dia mungkin belum ada lagi di Indonesia yang memiliki semangat seperti itu. Semua karya yang dipamerkan di sini juga didedikasikan untuk beliau," katanya saat ditemui Hypeabis.id.
Setali tiga uang, kurator pameran Mayek Prayitno mengatakan, selain melakukan pembacaan ulang terhadap karya-karya Pram, pameran ini juga berupaya membangkitkan kembali pikiran-pikiran kritis yang yang pernah dirisalahkan penulis Tetralogi Pulau Buru dalam bahasa rupa dengan situasi hari ini.
Menurut Mayek, apa yang dikisahkan Pram di dalam karya-karyanya, seperti isu penindasan, hingga ketimpangan ekonomi hingga saat ini masih terus terjadi di Tanah Air. Oleh karena itu, penting untuk dilakukan kembali secara mendalam apa yang sebenarnya menjadi penyebab dari dekadensi tersebut.
"Dengan hadirnya karya-karya di pameran ini kami berharap generasi muda bisa dapat kritis lagi membaca karya-karya Pram yang berasal dari masa lalu untuk dikorelasikan dengan situasi hari ini," katanya.
Dari Figur hingga Pemikiran
Seteleng Tribute to Pramoedya Ananta Toer, diikuti oleh perupa lintas generasi yang mengenang Pram dengan berbagai pendekatan. Akan tetapi mayoritas perupa yang mengirimkan karya dalam pameran ini lebih banyak menggambar sosok dan figur Pram, alih-alih merefleksikan pemikirannya ke dalam bahasa rupa.Momen tersebut misal, hadir dalam karya bertajuk Hidup dalam Redup (mix media, kayu, cut sticker, cahaya, 150 cm, 2025) dari Haryono D.A, yang mengimak bayang-bayang Pram sedang membaca buku. Kendati begitu, karya ini cukup unik karena menggabungkan pendekatan tata lampu dengan teknik dalam pewayangan.
Karya dengan semangat serupa juga hadir dalam lukisan bertajuk Mesin Waktu (2025) dari Abdul Haris, Pram (2025) dari Anggit Widi Putra, dan Kekuatan Imajinasi (2025) karya Ikhsan Trisnawan. Ketiga karya ini, juga menghadirkan figur Pram dengan berbagai pose dan stilisasi dua dimensi.

Karya bertajuk Hidup dalam Redup (kiri) dari perupa Haryono D.A, dalam pameran seni rupa Tribute to Pramoedya Ananta Toer: Jejak Langkah dalam Pertarungan, di Balai Budaya, Menteng, Jakarta, pada Kamis, (1/5/25). (Sumbar gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Lain dari itu, ada juga karya-karya yang merujuk pada masa kolonial dan orde lama, serta isu kritis tentang penindasan rakyat Papua atas kekayaan alam dan kekerasan bersenjata di sana. Momen ini terejawantah dalam karya Ade Irmansyah dan Mario Lasol bertajuk Anti Kolonialisme dan Perdikan.
Sejalan dengan gagasan tersebut, hadir pula pematung Dida Natalsya, yang menyinggung soal hasrat kuasa, zaman gelap yang penuh tipu daya lewat karya Never Ending Story. Dibuat dari kayu, sang seniman mencoba membuat distorsi bentuk-bentuk figur dengan gaya ekspresif sebagai simbol perlawanan.
"Kecenderungan para seniman dalam pameran ini adalah sebagian besar merespon romantisme masa lalu. Misal, merespon novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, untuk kemudian dialihkan ke bahasa rupa," katanya.
Pameran Seni Rupa Tribute to Pramoedya Ananta Toer: Jejak Langkah dalam Pertarungan juga dimeriahkan dengan berbagai acara lain. Di antaranya termasuk diskusi, lecture performance, pertunjukan musik, teater, dan performance art dari 1 Mei sampai 10 Mei 2025.
Baca juga: Mengenal 4 Buku Pramoedya Ananta Toer yang Dicetak Ulang Edisi Khusus 100 Tahun
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.