5 Fakta Menarik Film Perang Kota, Digarap Sineas Hollywood hingga Tayang di Belanda
01 May 2025 |
13:08 WIB
Film Perang Kota besutan sutradara Mouly Surya tayang di bioskop Indonesia mulai 30 April 2025. Film dengan judul internasional This City Is A Battlefield itu menghadirkan kisah epik yang kental dengan latar belakang sejarah. Tentang situasi kota dengan kecamuk perang pascakemerdekaan, dibumbui kisah percintaan dan pengkhianatan.
Mengangkat genre perang-drama, film Perang Kota mengambil latar Kota Jakarta tahun 1946, pada masa tentara sekutu datang ke Indonesia diboncengi Belanda yang ingin kembali berkuasa. Kisahnya menyoroti kehidupan seorang pejuang perang sekaligus guru bernama Isa (diperankan oleh Chicco Jerikho).
Guru Isa dipercaya untuk memimpin misi pembunuhan petinggi kolonial Belanda guna mempertahankan kemerdekaan, dibantu oleh sahabatnya, Hazil (Jerome Kurnia), seorang pemuda tampan dan bersemangat tinggi.
Baca Juga: Film Perang Kota Gunakan Format Audio Dolby Atmos, Lebih Immersive!
Namun, di tengah krisis dan perang yang berkecamuk, cinta dan pengkhianatan hadir. Guru Isa mengalami permasalahan di ranjang perkawinannya bersama istrinya, Fatimah (Ariel Tatum). Di sisi lain, dia harus berhadapan dengan sahabatnya sendiri, Hazil, yang diam-diam berupaya memenangkan hati Fatimah.
Film Perang Kota dibintangi oleh jajaran aktor dan aktris berbakat Indonesia yakni Chicco Jerikho, Ariel Tatum, Jerome Kurnia, dan Rukman Rosadi. Ada juga Imelda Therinne, Faiz Vishal, Anggun Priambodo, Ar Barrani Lintang, Chew Kinwah, Alex Abbad, Indra Birowo, dan Dea Panendra.
Sebelum mengikuti jalinan ceritanya di bioskop, simak beberapa fakta menarik film Perang Kota seperti yang telah dirangkum Hypeabis.id berikut ini.
Mouly Surya bercerita, dia bersama rumah produksi Cinesurya yang menawarkan diri Yayasan Pustaka Obor Indonesia untuk mengadaptasi novel Jalan Tak Ada Ujung menjadi film layar lebar pada 2018. Dia mengaku tertarik dengan prosa-prosa karya Mochtar Lubis, dan menilai bahwa karya-karya sang penulis memiliki daya tarik visual sendiri untuk dialihwahanakan menjadi film.
"Aku memang senang sama prosanya dia [Mochtar Lubis]. Ketika baca bukunya tuh sudah kebayang secara visual, kebayang esensi ceritanya. Saya punya respon emosional yang cukup kuat ketika saya membaca bukunya. Jadi mungkin alasannya lebih personal," katanya saat ditemui Hypeabis.id di XXI Metropole, Jakarta, belum lama ini.
Mouly mengadaptasi novel Jalan Tak Ada Ujung menjadi film Perang Kota secara bebas. Artinya, dia tidak mencoba memindahkan cerita yang ada di dalam novel menjadi film, melainkan mengambil esensi utama prosa tersebut, kemudian menghadirkan kisahnya melalui sudut pandangnya dengan mempertimbangkan relevansi zaman.
Dalam menulis sekaligus menggarap film Perang Kota, Mouly melakukan riset yang cukup ekstensif. Mulai dari menggali arsip-arsip sejarah di perpustakaan hingga berdiskusi dengan sejarawan terkait latar belakang sejarah yang ada di novel Jalan Tak Ada Ujung. Hal tersebut dilakukan untuk menggali perspektifnya terkait latar sejarah dalam film Perang Kota.
Adapun, pemilihan judul Perang Kota diambil berdasarkan kesaksian dari sejarawan yang menyebutkan bahwa kondisi latar sejarah di novel Jalan Tak Ada Ujung menggambarkan perang di sebuah kota.
Mouly mengatakan film Perang Kota mengeksplorasi kisah berlatar sejarah kelam pada 1946. Ketika semua orang memekik kata "Merdeka!" sebagai bentuk ekspresi kemerdekaan bangsa, ada kota yang masih bergejolak dengan perlawanan terhadap penjajah yang tidak menampakkan sebuah kebebasan negara yang sudah merdeka.
Pemimpin negara dan banyak masyarakat lainnya meninggalkan ibu kota, dan garis antara benar dan salah menjadi kabur. Di tengah situasi itu, film Perang Kota menyoroti kisah tokoh Guru Isa, yang kehilangan banyak hal sehingga membentuk perannya sebagai laki-laki baik dalam situasi perang maupun kehidupan domestik rumah tangganya. Baik di ranjang pernikahannya bersama Fatimah maupun sebagai pencari nafkah bagi keluarga.
"Nilai heroisme Isa menjadi tekanan yang berkelindan di antara pekerjaan dan tanggung jawabnya untuk memberi makan keluarga. Inilah yang dieksplorasi, dengan karakter-karakter pendukung lainnya seperti Fatimah, sosok yang bersemangat untuk berjuang, tetapi terpaksa menyerah pada tugasnya sebagai ibu dan istri," jelasnya.
Eksplorasi sinematik ini dihadirkan Mouly agar penonton bisa lebih fokus pada karakter-karakter di film tersebut. Menurutnya, kebanyakan film periodik rentan membuat audiens justru lebih berfokus untuk melihat sajian set film yang megah, alih-alih fokus untuk mengikuti karakter-karakternya.
Sebaliknya, dalam film Perang Kota, Mouly justru ingin mengajak penonton bisa fokus mengikuti emosi dari karakter-karakternya yang menggerakkan cerita. Hal itu dimungkinkan dengan aspek rasio 4:3 yang membuat gambar film tidak menampilkan set dengan ruang yang lebih luas seperti format widescreen, sehingga gambar film menjadi lebih fokus pada karakternya.
"Kalau seandainya saya bikin dengan format 16:9 [widescreen] rasanya nanti jadi epic banget, jadi terlalu wah istilahnya. Sedangkan saya ingin ada kesederhanaan di film ini, saya ingin ada keklasikan di film ini seperti kita menonton film lama. Rasanya enggak mau terlalu modern, jadi kurang lebih untuk menyeimbangkan itu," jelasnya.
Untuk foley sound recorder, film Perang Kota menggandeng Yellow Cab Studios yang berbasis di Paris, yang telah menggarap film-film pemenang Oscar seperti Emilia Perez, Barbie, dan serial Emily in Paris. Lalu ada juga Vincent Villa sebagai sound designer, Robert Grigsby Wilson dan Natalie Soh sebagai editor, serta Sandra Klass sebagai colorist.
Baca Juga: Perang Kota Jadi Film Paling Ambisius Sutradara Mouly Surya
Mengangkat genre perang-drama, film Perang Kota mengambil latar Kota Jakarta tahun 1946, pada masa tentara sekutu datang ke Indonesia diboncengi Belanda yang ingin kembali berkuasa. Kisahnya menyoroti kehidupan seorang pejuang perang sekaligus guru bernama Isa (diperankan oleh Chicco Jerikho).
Guru Isa dipercaya untuk memimpin misi pembunuhan petinggi kolonial Belanda guna mempertahankan kemerdekaan, dibantu oleh sahabatnya, Hazil (Jerome Kurnia), seorang pemuda tampan dan bersemangat tinggi.
Baca Juga: Film Perang Kota Gunakan Format Audio Dolby Atmos, Lebih Immersive!
Namun, di tengah krisis dan perang yang berkecamuk, cinta dan pengkhianatan hadir. Guru Isa mengalami permasalahan di ranjang perkawinannya bersama istrinya, Fatimah (Ariel Tatum). Di sisi lain, dia harus berhadapan dengan sahabatnya sendiri, Hazil, yang diam-diam berupaya memenangkan hati Fatimah.
Film Perang Kota dibintangi oleh jajaran aktor dan aktris berbakat Indonesia yakni Chicco Jerikho, Ariel Tatum, Jerome Kurnia, dan Rukman Rosadi. Ada juga Imelda Therinne, Faiz Vishal, Anggun Priambodo, Ar Barrani Lintang, Chew Kinwah, Alex Abbad, Indra Birowo, dan Dea Panendra.
Sebelum mengikuti jalinan ceritanya di bioskop, simak beberapa fakta menarik film Perang Kota seperti yang telah dirangkum Hypeabis.id berikut ini.
1. Adaptasi novel klasik Mochtar Lubis
Film Perang Kota merupakan adaptasi bebas novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis yang pertama kali terbit 1952. Perang Kota menjadi film pertama adaptasi yang ditulis dan digarap oleh sutradara Mouly Surya.Mouly Surya bercerita, dia bersama rumah produksi Cinesurya yang menawarkan diri Yayasan Pustaka Obor Indonesia untuk mengadaptasi novel Jalan Tak Ada Ujung menjadi film layar lebar pada 2018. Dia mengaku tertarik dengan prosa-prosa karya Mochtar Lubis, dan menilai bahwa karya-karya sang penulis memiliki daya tarik visual sendiri untuk dialihwahanakan menjadi film.
"Aku memang senang sama prosanya dia [Mochtar Lubis]. Ketika baca bukunya tuh sudah kebayang secara visual, kebayang esensi ceritanya. Saya punya respon emosional yang cukup kuat ketika saya membaca bukunya. Jadi mungkin alasannya lebih personal," katanya saat ditemui Hypeabis.id di XXI Metropole, Jakarta, belum lama ini.
Mouly mengadaptasi novel Jalan Tak Ada Ujung menjadi film Perang Kota secara bebas. Artinya, dia tidak mencoba memindahkan cerita yang ada di dalam novel menjadi film, melainkan mengambil esensi utama prosa tersebut, kemudian menghadirkan kisahnya melalui sudut pandangnya dengan mempertimbangkan relevansi zaman.
Dalam menulis sekaligus menggarap film Perang Kota, Mouly melakukan riset yang cukup ekstensif. Mulai dari menggali arsip-arsip sejarah di perpustakaan hingga berdiskusi dengan sejarawan terkait latar belakang sejarah yang ada di novel Jalan Tak Ada Ujung. Hal tersebut dilakukan untuk menggali perspektifnya terkait latar sejarah dalam film Perang Kota.
Adapun, pemilihan judul Perang Kota diambil berdasarkan kesaksian dari sejarawan yang menyebutkan bahwa kondisi latar sejarah di novel Jalan Tak Ada Ujung menggambarkan perang di sebuah kota.
2. Film layar lebar pertama Mouly Surya setelah 8 tahun
Perang Kota menjadi film Indonesia layar lebar pertama yang dihadirkan Mouly selama 8 tahun terakhir, sejak merilis film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak pada 2017. Sejak itu, Mouly lebih sering menggarap film pendek, serta film Trigger Warning yang menjadi debut dirinya menyutradarai film berbahasa Inggris. Film yang tayang di Netflix itu dibintangi aktris Hollywood Jessica Alba.Mouly mengatakan film Perang Kota mengeksplorasi kisah berlatar sejarah kelam pada 1946. Ketika semua orang memekik kata "Merdeka!" sebagai bentuk ekspresi kemerdekaan bangsa, ada kota yang masih bergejolak dengan perlawanan terhadap penjajah yang tidak menampakkan sebuah kebebasan negara yang sudah merdeka.
Pemimpin negara dan banyak masyarakat lainnya meninggalkan ibu kota, dan garis antara benar dan salah menjadi kabur. Di tengah situasi itu, film Perang Kota menyoroti kisah tokoh Guru Isa, yang kehilangan banyak hal sehingga membentuk perannya sebagai laki-laki baik dalam situasi perang maupun kehidupan domestik rumah tangganya. Baik di ranjang pernikahannya bersama Fatimah maupun sebagai pencari nafkah bagi keluarga.
"Nilai heroisme Isa menjadi tekanan yang berkelindan di antara pekerjaan dan tanggung jawabnya untuk memberi makan keluarga. Inilah yang dieksplorasi, dengan karakter-karakter pendukung lainnya seperti Fatimah, sosok yang bersemangat untuk berjuang, tetapi terpaksa menyerah pada tugasnya sebagai ibu dan istri," jelasnya.
3. Hadirkan eksplorasi sinematik yang berbeda
Menariknya, film Perang Kota disajikan dengan aspek rasio 4:3, alih-alih format widescreen seperti kebanyakan sinema modern. Keputusan ini membuat tampilan visual Perang Kota terasa retro atau jadul, memberikan pengalaman menonton yang unik bagi audiens.Eksplorasi sinematik ini dihadirkan Mouly agar penonton bisa lebih fokus pada karakter-karakter di film tersebut. Menurutnya, kebanyakan film periodik rentan membuat audiens justru lebih berfokus untuk melihat sajian set film yang megah, alih-alih fokus untuk mengikuti karakter-karakternya.
Sebaliknya, dalam film Perang Kota, Mouly justru ingin mengajak penonton bisa fokus mengikuti emosi dari karakter-karakternya yang menggerakkan cerita. Hal itu dimungkinkan dengan aspek rasio 4:3 yang membuat gambar film tidak menampilkan set dengan ruang yang lebih luas seperti format widescreen, sehingga gambar film menjadi lebih fokus pada karakternya.
"Kalau seandainya saya bikin dengan format 16:9 [widescreen] rasanya nanti jadi epic banget, jadi terlalu wah istilahnya. Sedangkan saya ingin ada kesederhanaan di film ini, saya ingin ada keklasikan di film ini seperti kita menonton film lama. Rasanya enggak mau terlalu modern, jadi kurang lebih untuk menyeimbangkan itu," jelasnya.
4. Digarap oleh tim produksi Hollywood
Diproduksi oleh Cinesurya, Starvision, dan Kaninga Pictures, film Perang Kota digarap melalui sistem ko-produksi antara Indonesia, Singapura, Belanda, Prancis, Norwegia, Filipina, dan Kamboja. Film ini juga merupakan hasil kolaborasi dari nama-nama hebat di industri Hollywood.Untuk foley sound recorder, film Perang Kota menggandeng Yellow Cab Studios yang berbasis di Paris, yang telah menggarap film-film pemenang Oscar seperti Emilia Perez, Barbie, dan serial Emily in Paris. Lalu ada juga Vincent Villa sebagai sound designer, Robert Grigsby Wilson dan Natalie Soh sebagai editor, serta Sandra Klass sebagai colorist.
5. Tayang perdana di Belanda
Sebelumnya, film Perang Kota telah world premiere atau tayang perdana di ajang International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2025. Film tersebut menjadi penutup IFFR dan mendapatkan respons positif dari audiens global. Selain di Indonesia, film ini juga tayang secara komersial di layar bioskop beberapa negara seperti Belanda, Belgia, dan Luksemburg sejak 17 April 2025.Baca Juga: Perang Kota Jadi Film Paling Ambisius Sutradara Mouly Surya
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.