Kebaya dalam Kolaborasi Tradisional dan Kreativitas Muda
30 April 2025 |
10:30 WIB
Setiap tahun, Hari Kartini selalu menjadi momen yang ditunggu untuk menghormati perjuangan perempuan Indonesia. Namun, di balik peringatan ini, ada sebuah gerakan yang tak hanya merayakan semangat Kartini, tetapi juga menghidupkan warisan budaya dengan cara yang segar dan relevan.
Salah satunya hadir dari acara "Perempuan Berkarya: Lintas Generasi dan Budaya" yang menggabungkan perempuan lintas generasi dan budaya dalam sebuah kolaborasi.
Diprakarsai oleh sejumlah tokoh perempuan inspiratif seperti Maya Miranda Ambarsari (Womenpreneur, Sociopreneur, dan pemilik Rumah Belajar Miranda), Yanti Subianto (Pemilik Warung Turki), Liesna Subianto (Desainer Kebaya Jeng Sri), perkumpulan Srikandi Mixed Marriages bersama Chairwoman Srikandi Ani Natalia.
Termasuk tiga perempuan muda inspiratif dari 3 Saudari yang berperan aktif mewakili semangat Kartini Masa Kini yakni Cahaya Manthovani seorang sociopreneur muda, Karina Alya Manthovani yang aktif dalam dunia modeling, dan Nadira Parsa Manthovani seorang illustrator muda berbakat.
Baca juga: Kebaya Masuk Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO, Menbud Sebut Jadi Simbol Persatuan Asean
Maya Miranda Ambarsari menekankan pentingnya solidaritas dan kolaborasi dalam komunitas perempuan lintas generasi dan budaya, termasuk bagi para generasi muda yang dapat mengekspresikan diri dan keunggulan mereka di bidangnya masing-masing dengan cara yang autentik.
"Saya percaya ketika perempuan dari berbagai generasi dan latar belakang bersatu, akan lahir inovasi, kreativitas, dan dampak sosial yang luar biasa. Melalui karya-karya ini, kita membawa semangat Kartini untuk terus relevan di masa kini," ungkap Maya.
Kebaya, sebagai simbol keanggunan perempuan Indonesia, menjadi salah satu sorotan utama dalam acara yang berlangsung di Warung Turki, Jakarta ini.
Desainer Kebaya Jeng Sri, Liesna Subianto, berkolaborasi dengan ilustrator muda Nadira Parsa Manthovani memadukan tradisi dengan sentuhan modern. Nadira, yang masih berusia 18 tahun menghidupkan tujuh karakter perempuan dari berbagai budaya Indonesia, seperti Betawi, Jawa, Bali, Sumatera Barat, Dayak, Tionghoa, dan Papua, lewat ilustrasi patchwork yang kemudian diaplikasikan ke dalam desain kebaya.
"Aku ingin generasi muda lebih bangga dengan budaya sendiri, bukan hanya terpesona dengan budaya luar," ujar Nadira.
Desain kebaya yang dihasilkan memiliki karakter yang lebih modern dan dinamis, tetapi tetap mempertahankan esensi tradisionalnya. Dengan warna cerah dan corak ilustrasi yang berani, kebaya yang ditampilkan menjadi simbol kebebasan berekspresi perempuan Indonesia yang kini lebih terbuka dan berani menunjukkan kreativitasnya.
"Saya ingin generasi muda merasa bahwa budaya tradisional bisa dihidupkan kembali dengan gaya yang lebih ringan, lebih bebas, tapi tetap bermakna," ujar Liesna Subianto, desainer kebaya yang juga dosen desain di ESMOD Jakarta.
Baca juga: Inspirasi Kebaya Tradisional sampai Modern dari Spotlight Indonesia 2024
Seluruh koleksi kebaya diperagakan oleh perempuan inspiratif dari berbagai profesi termasuk Cahaya Manthovani sociopreneur yang aktif sebagai Ketua Harian Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, serta Karina Alya Manthovani yang menjadi muse dalam fashion show ini.
"Fashion show ini menjadi bentuk nyata dari 'growth': perempuan Indonesia kini lebih bebas berekspresi, lebih terbuka, dan berani menunjukkan kreativitasnya," ungkap Karina.
Cahaya Manthovani juga menyampaikan pesan kepada generasi muda. "Kartini-kartini muda, ayo kita lebih berani lagi untuk menunjukkan kreativitas kita. Kita juga harus bangga dengan budaya kita sendiri, punya pride tersendiri, sehingga otomatis budaya kita juga ikut terpromosikan. Terus berkarya, terus upgrade diri sendiri, " tuturnya.
Salah satunya hadir dari acara "Perempuan Berkarya: Lintas Generasi dan Budaya" yang menggabungkan perempuan lintas generasi dan budaya dalam sebuah kolaborasi.
Diprakarsai oleh sejumlah tokoh perempuan inspiratif seperti Maya Miranda Ambarsari (Womenpreneur, Sociopreneur, dan pemilik Rumah Belajar Miranda), Yanti Subianto (Pemilik Warung Turki), Liesna Subianto (Desainer Kebaya Jeng Sri), perkumpulan Srikandi Mixed Marriages bersama Chairwoman Srikandi Ani Natalia.
Termasuk tiga perempuan muda inspiratif dari 3 Saudari yang berperan aktif mewakili semangat Kartini Masa Kini yakni Cahaya Manthovani seorang sociopreneur muda, Karina Alya Manthovani yang aktif dalam dunia modeling, dan Nadira Parsa Manthovani seorang illustrator muda berbakat.
Baca juga: Kebaya Masuk Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO, Menbud Sebut Jadi Simbol Persatuan Asean
Maya Miranda Ambarsari menekankan pentingnya solidaritas dan kolaborasi dalam komunitas perempuan lintas generasi dan budaya, termasuk bagi para generasi muda yang dapat mengekspresikan diri dan keunggulan mereka di bidangnya masing-masing dengan cara yang autentik.
"Saya percaya ketika perempuan dari berbagai generasi dan latar belakang bersatu, akan lahir inovasi, kreativitas, dan dampak sosial yang luar biasa. Melalui karya-karya ini, kita membawa semangat Kartini untuk terus relevan di masa kini," ungkap Maya.
Kebaya, sebagai simbol keanggunan perempuan Indonesia, menjadi salah satu sorotan utama dalam acara yang berlangsung di Warung Turki, Jakarta ini.
Desainer Kebaya Jeng Sri, Liesna Subianto, berkolaborasi dengan ilustrator muda Nadira Parsa Manthovani memadukan tradisi dengan sentuhan modern. Nadira, yang masih berusia 18 tahun menghidupkan tujuh karakter perempuan dari berbagai budaya Indonesia, seperti Betawi, Jawa, Bali, Sumatera Barat, Dayak, Tionghoa, dan Papua, lewat ilustrasi patchwork yang kemudian diaplikasikan ke dalam desain kebaya.
"Aku ingin generasi muda lebih bangga dengan budaya sendiri, bukan hanya terpesona dengan budaya luar," ujar Nadira.

Sumber : Rendy Kairupan
Desain kebaya yang dihasilkan memiliki karakter yang lebih modern dan dinamis, tetapi tetap mempertahankan esensi tradisionalnya. Dengan warna cerah dan corak ilustrasi yang berani, kebaya yang ditampilkan menjadi simbol kebebasan berekspresi perempuan Indonesia yang kini lebih terbuka dan berani menunjukkan kreativitasnya.
"Saya ingin generasi muda merasa bahwa budaya tradisional bisa dihidupkan kembali dengan gaya yang lebih ringan, lebih bebas, tapi tetap bermakna," ujar Liesna Subianto, desainer kebaya yang juga dosen desain di ESMOD Jakarta.
Baca juga: Inspirasi Kebaya Tradisional sampai Modern dari Spotlight Indonesia 2024
Seluruh koleksi kebaya diperagakan oleh perempuan inspiratif dari berbagai profesi termasuk Cahaya Manthovani sociopreneur yang aktif sebagai Ketua Harian Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, serta Karina Alya Manthovani yang menjadi muse dalam fashion show ini.

Karina Alya Manthovani (sumber : Rendy Kairupan)
"Fashion show ini menjadi bentuk nyata dari 'growth': perempuan Indonesia kini lebih bebas berekspresi, lebih terbuka, dan berani menunjukkan kreativitasnya," ungkap Karina.
Cahaya Manthovani juga menyampaikan pesan kepada generasi muda. "Kartini-kartini muda, ayo kita lebih berani lagi untuk menunjukkan kreativitas kita. Kita juga harus bangga dengan budaya kita sendiri, punya pride tersendiri, sehingga otomatis budaya kita juga ikut terpromosikan. Terus berkarya, terus upgrade diri sendiri, " tuturnya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.