Perempuan Berkebaya Indonesia mengenakan kebaya saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) Berkebaya di kawasan Bundaran HI, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawardhani)

Ini Alasan Indonesia Tetap Ajukan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO Sendirian

29 November 2022   |   16:27 WIB

Indonesia tampaknya mantap untuk mengusulkan kebaya sebagai UNESCO Intangible Heritage melalui mekanisme single nomination, tanpa melibatkan negara-negara lain. Keputusan ini diketahui berdasarkan hasil rapat antara komisi X DPR, Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Kemenko PMK, Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, dan komunitas kebaya.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menuturkan bahwa inkripsi kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO dapat dilakukan melalui single nomination dan multi-national atau joint nomination. Joint nomination sperti yang dilakukan oleh Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei.

Pada 23 November 2022 keempat negara tersebut telah mendeklarasikan kebaya untuk diajukan ke Intergovernmental Committee Intangible Culture Heritage and Humanity (IGC ICH) UNESCO dan mengajak negara-negara serumpun, termasuk Indonesia untuk bergabung. Namun, Indonesia tetap memilih untuk menempuh prosedur single nomination

Baca juga: Indonesia Tak Ikut Geng Asean Daftarkan Kebaya ke UNESCO? Ini Kata Pegiat Wastra

Dia menuturkan bahwa pada saat ini Indonesia memiliki satu berkas aktif cycle, yaitu Budaya Sehat Jamu yang akan dibahas dalam IGC ICH UNESCO pada 2023 dan tiga berkas non-aktif cycle, yaitu Reog Ponorogo, Tenun, dan Tempe.

Setiap berkas non-aktif cycle itu membutuhkan sekitar dua tahun sebelum diakui oleh UNESCO. Berkas non aktif cycle adalah dokumen berkas pengusulan sudah diterima oleh ICH UNESCO. Namun, belum masuk sebagai agenda pembahasan IGC ICH Meeting.

“Secara prosedur, single nomination tiap negara hanya memiliki kuota sebanyak satu budaya per dua tahun untuk mengajukan pencatatan kebudayaan kita sebagai warisan budaya takbenda. Sedangkan joint nomination dapat diajukan oleh dua atau lebih negara secara bersama-sama kepada UNESCO setiap tahun sekali tanpa mengurangi kuota yang dimiliki negara tersebut,” katanya.

Dia menambahkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya dan tradisi selain alam. Sejak 2013, Kemendikbudristek mencatat Indonesia memiliki 1.528 warisan budaya takbenda yang bisa diajuka ke UNESCO.

Semua warisan budaya takbenda itu membutuhkan 3.000 tahun jika diusulkan seluruhnya ke UNESCO mengingat UNESCO hanya bisa mengakomodir satu setiap dua tahun.

Saat ini, UNESCO terus mendorong agar setiap negara mengembangkan status warisan budaya takbenda yang dimiliki oleh setiap negara. Dengan begitu, negara akan berkembang dari status negara yang tidak memiliki kebudayaan yang bisa diangkat, menjadi negara yang berkembang dan cenderung menjadi negara maju.

Untuk diketahui, langkah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei yang bersama-sama mengajukan kebaya sebagai warisan budaya takbenda UNESCO membuat ramai di dalam negeri lantaran nama Indonesia tidak ada di dalamnya.

Kebaya adalah salah satu warisan budaya Indonesia, dan beragam kebaya berada di dalam negeri dengan berbagai ciri khasnya.

Sementara itu, saat ini tercatat sejumlah warisan takbenda Indonesia menjadi warisan budaya takbenda dan kemanusiaan UNESCO, seperti Batik Indonesia, Keris Indoensia, Pertunjukan Wayang, Angklung, Tari Saman, dan sebagainya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda
 
SEBELUMNYA

5 Tips Menyiapkan Bulan Madu Buat Pasangan Muda

BERIKUTNYA

Iran vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2022, Laga Hidup dan Mati yang Sarat Isu Politik

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: