Seniman Budi Agung Kuswara (sumber gambar: dokumentasi pribadi seniman)

Seni Berbagi & Mengolah Sejarah ala Seniman Budi Agung Kuswara

26 April 2025   |   15:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Budi Agung Kuswara memandang seni rupa seperti kolase. Lewat teknik cyanotype, dia menghadirkan citra-citra lama menjadi karya baru yang lebih kontekstual. Memandang sejarah dengan cara yang unik, dia banyak mengeksplorasi visual dengan riset yang ketat.

Belum lama ini misalnya, seniman yang akrab dipanggil Kabul itu memacak salah satu karyanya di Can's Gallery, Jakarta. Diusung dalam tajuk Anonymous Deities from the East, Kabul menghadirkan narasi unik bagaimana kita memandang sejarah.

Baca juga: Daya Imajinasi Garis dari Seni Grafis di Art:1 New Museum Jakarta

Dari segi ukuran, karya ini sudah meneror. Berdimensi 200 X 145 cm, dia seperti merefleksikan bagaimana Bali yang kita kenal sekarang, justru dibentuk oleh orang-orang 'anonim'. Baik penduduk lokal, penari, dan biro perjalanan.

Pada bidang kanvasnya, kita akan melihat sosok-sosok anonim. Mereka yang pada suatu masa mempromosikan Bali sebagai destinasi wisata dengan kemolekannya. Semuanya disusun menjadi semacam kumpulan petanda, bahkan mungkin fragmen sejarah.

"Jadi tentang bagaimana mereka [Eropa] memotret tentang Bali di zaman itu, dan memunculkannya sebagai konsumsi publik agar mereka punya panduan melihat Bali secara tidak langsung," katanya saat dihubungi Hypeabis.id.
 



Beberapa waktu terakhir, Kabul memang banyak mengolah arsip-arsip kolonial tentang Bali. Dia mengungkap, senarai arsip, baik foto, tulisan dan idiom lain yang digunakan berasal dari rentang 1920 sampai 1930-an, atau sebelum PD II selesai.

Promosi wisata di Pulau Dewata dipelopori oleh biro Lissone Lindeman (LISLIND) dan Vereeniging Teoristen Verker (VTV) pada 1926. Keduanya merupakan biro resmi dari Oficieel Toeristen Biireun (OTB), yang mempromosikan wisata lewat majalah, brosur, foto, dan kartu pos.

"Karya ini merupakan apresiasi terhadap figur-figur anonim tersebut. Sebab, saat kita lihat arsip foto kolonial tidak ada identitas personalnya. Jadi hanya ditulis balinese women, dan yang lain," imbuhnya.

Dalam pengkaryaannya, Kabul juga lebih banyak mengolah arsip tersebut menggunakan teknik cetak fotografi cyanotype dengan menggunakan cahaya matahari. Pilihan ini juga bukan tanpa alasan. Sebab, peredaran matahari sendiri juga dimaknai sebagai gerak waktu.

Kabul mengatakan, cyanotype awalnya difungsikan untuk merekam the other atau liyan, dalam konteks kolonial Eropa. Dari sinilah dia membalikkan narasinya dengan merekam ulang data-data arsip tersebut dengan sinar matahari kembali sebagai penanda waktu.

"Cyanotype adalah teknik sebelum fotografi modern dengan menggunakan cahaya matahari. Meski saat ini sudah bisa digantikan lampu ultraviolet, tapi saya tetap menggunakan metode yang lama." jelas Kabul.


Panggilan Sosial

Selain berkesenian, Kabul juga menyalurkan hasrat berbaginya kepada masyarakat. Salah satunya dengan mendirikan Ketemu Project. Di tempat ini, dia memprakarsai Schizofriends Art Movements yang ditujukan untuk mendukung orang-orang yang hidup dengan skizofrenia.

Menggunakan seni dan ekspresi sebagai perantara, gerakan ini bertujuan untuk memperluas peluang pengembangan kemampuan teman-teman skizo. Gayung pun bersambut. Pemerintah Kota Denpasar akhirnya juga memberi ruang yang lebih inklusif pada mereka.

Pada 2017, Pemkot Denpasar turut mendukung inisiatif tersebut dengan memberikan ruang bernama Rumah Berdaya. Ini adalah sebuah puskesmas yang diaktivasi sebagai tempat rehabilitasi psikososial pertama di Bali dan Indonesia dengan menggunakan seni dan kreativitas.
 
 


Seniman jebolan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, itu menjelaskan pengabdiannya pada kaum minoritas itu adalah bentuk panggilan sosial. Alasanya jelas, yakni berasal dari dilema pribadi yang banyak mengolah isu sosial tapi hasilnya hanya dinikmati seniman dan galeri.

"Akhirnya saya mencari format tentang social experience dengan komunitas, ada wilayah lain yang terpenuhi dalam batin saya. Ini semacam tanggung jawab sosial tapi masih di ranah seni," katanya.

Baca juga: Transformasi Artistik Seniman Sasya Tranggono Hadir dalam Pameran Habis Gelap Terbitlah Terang

Menurut Kabul, hingga saat ini para penderita skizofrenia masih banyak diabaikan oleh lingkungan mereka. Tak jarang bahkan orang terdekat atau keluarga menganggap pengidap sebagai aib. Tak jarang mereka juga menyembunyikannya agar tak diketahui orang.

Padahal, jika ditangani dengan baik penderita skizofrenia juga bisa berdaya dengan kemampuan mereka sendiri. Dalam sejarah seni rupa juga banyak seniman-seniman terkenal yang sintas dari gangguan mental, seperti Edvard Munch, Frida Kahlo, hingga Van Gogh.

"Program ini kalau dari sisi seni dapat menjadi opsi bagi mereka untuk berekspresi. Lain dari itu juga menjadi support system bagi orang-orang dengan gangguan jiwa di Denpasar, serta apresiasi lain baik dalam bentuk pameran, dan yang lain," imbuhnya. 

SEBELUMNYA

Alasan Rio de Janeiro Dinobatkan Jadi Ibu Kota Buku Dunia 2025

BERIKUTNYA

Merdunya Life Music Suara Alam dari 10 Wilayah Konservasi Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: