edukasi pengambilan sampel mandiri (sumber : Becton, Dickinson and Company (BD))

Tes HPV-DNA Mandiri, Teknologi Terkini untuk Lawan Kanker Serviks

26 April 2025   |   13:00 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Kanker serviks masih menjadi momok bagi perempuan Indonesia. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, penyakit ini menempati peringkat kedua sebagai jenis kanker terbanyak pada perempuan, dengan lebih dari 36.000 kasus baru tercatat pada 2021. 

Ironisnya, sebanyak 95% kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi human papillomavirus (HPV), virus yang sebenarnya bisa dideteksi lebih dini jika perempuan rutin melakukan skrining.

Baca juga: Simak Anjuran Dokter Terkait Usia Ideal Pemberian Vaksin HPV pada Anak Perempuan

Namun sayangnya, tingkat skrining di Indonesia masih rendah. Banyak perempuan merasa canggung, takut, atau tak memiliki akses memadai untuk menjalani pemeriksaan rutin seperti pap smear.

Menjawab tantangan ini, Becton, Dickinson and Company (BD), perusahaan teknologi medis global berkolaborasi dengan dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais dan dukungan dari Kementerian Kesehatan RI meluncurkan tes HPV-DNA mandiri.

Melalui kolaborasi pendekatan ini diyakini mampu memperluas jangkauan skrining dan mendorong deteksi dini kanker serviks secara lebih inklusif. BD bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan RS Kanker Dharmais untuk menjalankan skrining kanker serviks berskala besar, dengan target menjangkau 8.000 perempuan di berbagai daerah.

Kolaborasi ini menegaskan pentingnya sinergi antara inovasi teknologi dan sistem kesehatan demi mendekatkan upaya pencegahan kanker serviks ke masyarakat luas.

Lantas, apa saja kelebihan dari tes HPV-DNA mandiri?


1. Skrining Tanpa Rasa Canggung: Lebih Nyaman, Lebih Personal

Banyak perempuan menghindari skrining karena merasa malu atau tidak nyaman saat menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan. Hal ini diperkuat dengan survei BD yang menunjukkan bahwa 70% perempuan Indonesia menunda kunjungan ke dokter kandungan karena rasa takut atau canggung, dan 81% di antaranya lebih memilih opsi pengambilan sampel sendiri di rumah.

Dengan tes HPV-DNA mandiri, perempuan kini bisa mengambil sampel sendiri di rumah dengan perangkat yang telah dirancang khusus untuk kenyamanan dan akurasi. Tanpa harus ke klinik, tanpa harus melalui prosedur invasif. Cara ini menghilangkan hambatan psikologis sekaligus memperluas akses ke skrining bagi perempuan di wilayah terpencil.


2. Teknologi Global yang Terbukti Efektif

Metode ini bukan eksperimen. Tes HPV-DNA mandiri telah diadopsi di berbagai negara maju seperti Belanda, Denmark, dan Swedia, dan terbukti berhasil meningkatkan angka partisipasi skrining di negara-negara tersebut.

Teknologi dari BD bahkan dilengkapi dengan extended genotyping, yang dapat mengidentifikasi jenis HPV dengan lebih spesifik dan akurat, serta sistem otomasi pra-analitik penuh yang mempercepat serta meningkatkan efisiensi proses pengolahan sampel di laboratorium.

Dengan kata lain, ini bukan sekadar “tes cepat di rumah” biasa melainkan alat skrining dengan kualitas laboratorium, yang dapat memberikan hasil terpercaya untuk penanganan medis lanjutan.


3. Mendorong Deteksi Dini, Mengurangi Risiko Kematian

Deteksi dini kanker serviks bisa menyelamatkan nyawa. Namun, rendahnya angka skrining menjadi tantangan serius. Padahal, jika kanker serviks terdeteksi lebih awal, peluang kesembuhan bisa mencapai lebih dari 90%.

Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr. Raden Soeko Werdi Nindito Daroekoesoemo, MARS, mengatakan masih banyak perempuan yang belum memahami risiko infeksi HPV serta peran penting deteksi dini dalam pencegahan kanker serviks. 

“Dengan metode mandiri, kami bisa menjangkau lebih banyak perempuan dan memastikan penanganan yang cepat dan tepat,” tuturnya.

Inilah kunci mengapa pendekatan ini sangat strategis: tes mandiri bisa membuka jalan untuk menjangkau perempuan yang sebelumnya luput dari sistem deteksi dini.


4. Lebih Akurat dari Pap Smear dan Meningkatkan Kesadaran

Meski Pap smear masih sering dijadikan tolok ukur skrining, 95% perempuan Indonesia ternyata belum tahu bahwa metode ini bukan yang paling akurat untuk mendeteksi kanker serviks. Sebaliknya, tes HPV-DNA kini diakui secara internasional sebagai metode yang lebih sensitif dan lebih cepat mendeteksi risiko.

Survei BD juga mengungkap bahwa 92% perempuan tahu kanker serviks bisa dicegah melalui pemeriksaan rutin, namun sebagian besar masih merasa tidak yakin atau tidak tahu bagaimana caranya memulai.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
 

SEBELUMNYA

Ucapan Tolong & Terima Kasih Bikin Biaya Operasional ChatGPT Bengkak, Kok Bisa?

BERIKUTNYA

Alasan Rio de Janeiro Dinobatkan Jadi Ibu Kota Buku Dunia 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga