Hypereport: Menangkap Peluang Kerja dengan Belajar Skill Baru
16 April 2025 |
08:51 WIB
Setiap tahun, ada satu fenomena menarik yang kerap terjadi di dunia kerja Indonesia, yakni terjadinya lonjakan pengunduran diri atau resign dari karyawan sesaat setelah Lebaran. Fenomena ini seolah sudah menjadi siklus tahunan yang menawarkan daya tarik tersendiri.
Namun, di tengah gejolak ekonomi dunia saat ini, mencari pekerjaan baru tak semudah yang dibayangkan. Para pekerja dihadapkan pada tantangan skill yang kompleks agar tetap relevan dan bersaing di pasar kerja.
Tak bisa dimungkiri, saat ini dunia kerja terus berubah dengan sangat cepat. Para pekerja pun harus terus beradaptasi agar tidak terjadi kesenjangan keterampilan (skills gap), terlebih dengan penetrasi teknologi yang makin masif.
Baca juga: Hypereport: Switch Career Setelah Lebaran, Langkah Strategis Siapkan Masa Depan?
Menurut survei dari Gartner, sebanyak 58 persen tenaga kerja membutuhkan keterampilan baru untuk bisa menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik di masa depan. Bukan hanya bagi fresh graduate, melainkan juga karyawan lama di dunia profesional.
Di luar itu, saat ini 40 persen karyawan juga mengaku sering mengerjakan tugas yang sebenarnya berada di luar peran utama mereka. Hal ini akan menciptakan kesenjangan keterampilan yang makin tinggi karena kemampuan atau skill di berbagai pekerjaan akan terus berubah dalam 5 tahun ke depan.
Career coach Aditiyo Indrasanto mengatakan bahwa ke depannya, keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja kemungkinan besar akan mengalami perubahan signifikan dibandingkan saat ini. Dirinya pun menyarankan para pencari kerja untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan arah perubahan tersebut.
Saat ini, lanjutnya, penguasaan teknologi akan menjadi elemen kunci. Salah satu contoh yang kini makin relevan adalah artificial intelligence (AI), yang menurutnya menjadi keahlian wajib untuk dipelajari.
“AI sangat penting untuk dikuasai ke depan. Dalam level paling dasar saja, perusahaan mengharapkan karyawan memiliki pemahaman tentang AI agar bisa bekerja lebih efisien dan efektif,” jelasnya.
Menurut Aditiyo, karyawan yang masih bekerja secara manual bisa dipandang lambat oleh perusahaan. Selain AI, kemampuan menggunakan berbagai collaboration tools juga tak kalah penting, mulai dari yang umum seperti Google Drive dan Google Docs, hingga yang lebih khusus seperti Salesforce dan lainnya.
Aditiyo menyebut kini sejumlah keahlian penguasaan tools tertentu bahkan mulai menjadi syarat dalam iklan lowongan pekerjaan. Menurutnya, penetrasi keahlian teknologi, seperti pemrograman, pengembangan perangkat lunak, data mining, dan pemasaran digital akan makin masif.
Pentingnya memiliki skill di bidang teknologi bukan isapan jempol belaka. Dalam laporan bertajuk 2024 Work Trend Index yang dirilis oleh Microsoft dan LinkedIn, terungkap bahwa 66 perssen pemberi kerja saat ini enggan merekrut individu yang tidak memiliki keterampilan di bidang kecerdasan buatan (AI).
Indonesia termasuk dalam deretan negara yang menunjukkan tingkat keengganan tinggi terhadap kandidat tanpa kemampuan AI. Angka ini bahkan lebih tinggi di beberapa negara lain.
Di Taiwan, misalnya, 81 persen pemberi kerja menyatakan tidak tertarik merekrut kandidat yang tak menguasai AI, tertinggi di antara negara-negara dalam survei tersebut. Menyusul di bawahnya adalah Republik Ceko dan Tiongkok dengan masing-masing 79 persen, serta Vietnam di angka 76 persen.
Temuan ini menegaskan betapa pentingnya penguasaan AI dalam dunia kerja saat ini. Karyawan dituntut untuk mampu memanfaatkan AI guna menyelesaikan tugas dengan lebih efisien dan produktif.
Masih berdasarkan laporan yang sama, sebanyak 71 persen pemberi kerja bahkan lebih memilih kandidat dengan pengalaman kerja minim namun mahir menggunakan AI, dibandingkan mereka yang berpengalaman tetapi tidak pernah menggunakan teknologi tersebut.
“Kendati demikian, jangan hanya fokus pada hard skill saja. Ada 3 hal yang sering dilupakan orang, karena fokus hanya pada pengembangan hardskills-nya, yakni komunikasi, attitute dan agility atau flexible. Itu juga sangat penting,” imbuhnya.
Di luar itu, terkait dengan resign kerja, Aditiyo menyarankan bahwa setiap keputusan harus dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Menurutnya, idealnya keputusan untuk pindah kerja tidak semata-mata didasarkan pada momen penerimaan THR atau bonus.
Sebaliknya, katanya, alasan untuk berpindah sebaiknya dilihat dari sudut pandang yang lebih luas dan mendalam, seperti adanya peluang peningkatan karier maupun benefit yang didapatkan.
Dirinya juga mengingatkan bahwa jika keputusan berpindah hanya disesuaikan dengan momentum tertentu, ada risiko bahwa tujuan utama untuk berkembang secara profesional justru terabaikan.
Managing Partner Inventure Yuswohady mengatakan selain fokus pada hardskill dan softskill, ada satu lagi yang tak boleh dikesampingkan, yakni personal branding. Menurutnya, personal branding merupakan skill krusial yang harus dimiliki oleh setiap calon karyawn di era digital.
Dalam dunia digital, persaingan mencari kerja memang akan lebih kompleks. Dalam titik ini, kemampuan mempresentasikan diri secara autentik, konsisten, dan menarik, di berbagai platform menjadi penting.
“Orang yang telah memiliki personal branding dari awal akan menonjol di tengah persaingan. Personal branding membantu individu membedakan diri mereka denan kandidat lain,” ungkapmya.
Yuswohady juga mengatakan personal branding dapat menciptakan persepsi yang kuat dan positif, tidak hanya bagi publik, tetapi juga di mata rekrutmen. Selain itu, teknik ini juga dapat membantu membangun kredibilitas dalam jangka panjang.
Untuk memulai personal branding, Yuswo menekankan pentingnya untuk memahami terlebih dahulu konsep dasar dari branding. Jangan sampai, yang dilakukan justru serampangan, karena hal tersebut akan berpengaruh pada citra diri.
Baca juga: Hypereport: Bekerja di Luar Negeri, Persiapan Matang & Bekal Diri Jadi Kunci
Setidaknya, ada lima hal yang perlu dikenali sebelum membangun personal branding. Pertama adalah mengenai diri sendiri, kedua melakukan positioning diri, lalu konsisten, kemudian, fokus ke merancang kredibilitas, dan terakhir adalah membangun emotional connection.
“Orang akan lebih mudah mengingat cerita, bukan sekadar daftar skill. Bangun narasi personal yang relatable dan jujur,” imbuhnya.
Yuswo menyebut konsep personal branding sebenarnya hampir mirip dengan marketing produk. Dalam personal branding, manusianyalah yang menjadi ‘produk’ yang harus dipasarkan.
"Personal branding bukan sesuatu yang bisa dibangun satu-dua hari atau hanya saat akan mencari kerja baru. Personal branding harus dikembangkan dalam waktu lama dan konsisten," tegasnya.
Namun, di tengah gejolak ekonomi dunia saat ini, mencari pekerjaan baru tak semudah yang dibayangkan. Para pekerja dihadapkan pada tantangan skill yang kompleks agar tetap relevan dan bersaing di pasar kerja.
Tak bisa dimungkiri, saat ini dunia kerja terus berubah dengan sangat cepat. Para pekerja pun harus terus beradaptasi agar tidak terjadi kesenjangan keterampilan (skills gap), terlebih dengan penetrasi teknologi yang makin masif.
Baca juga: Hypereport: Switch Career Setelah Lebaran, Langkah Strategis Siapkan Masa Depan?
Menurut survei dari Gartner, sebanyak 58 persen tenaga kerja membutuhkan keterampilan baru untuk bisa menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik di masa depan. Bukan hanya bagi fresh graduate, melainkan juga karyawan lama di dunia profesional.
Di luar itu, saat ini 40 persen karyawan juga mengaku sering mengerjakan tugas yang sebenarnya berada di luar peran utama mereka. Hal ini akan menciptakan kesenjangan keterampilan yang makin tinggi karena kemampuan atau skill di berbagai pekerjaan akan terus berubah dalam 5 tahun ke depan.

Seseorang tengah bekerja (Sumber gambar: Unsplash/ Shamin Haky)
Career coach Aditiyo Indrasanto mengatakan bahwa ke depannya, keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja kemungkinan besar akan mengalami perubahan signifikan dibandingkan saat ini. Dirinya pun menyarankan para pencari kerja untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan arah perubahan tersebut.
Saat ini, lanjutnya, penguasaan teknologi akan menjadi elemen kunci. Salah satu contoh yang kini makin relevan adalah artificial intelligence (AI), yang menurutnya menjadi keahlian wajib untuk dipelajari.
“AI sangat penting untuk dikuasai ke depan. Dalam level paling dasar saja, perusahaan mengharapkan karyawan memiliki pemahaman tentang AI agar bisa bekerja lebih efisien dan efektif,” jelasnya.
Menurut Aditiyo, karyawan yang masih bekerja secara manual bisa dipandang lambat oleh perusahaan. Selain AI, kemampuan menggunakan berbagai collaboration tools juga tak kalah penting, mulai dari yang umum seperti Google Drive dan Google Docs, hingga yang lebih khusus seperti Salesforce dan lainnya.
Aditiyo menyebut kini sejumlah keahlian penguasaan tools tertentu bahkan mulai menjadi syarat dalam iklan lowongan pekerjaan. Menurutnya, penetrasi keahlian teknologi, seperti pemrograman, pengembangan perangkat lunak, data mining, dan pemasaran digital akan makin masif.
Pentingnya memiliki skill di bidang teknologi bukan isapan jempol belaka. Dalam laporan bertajuk 2024 Work Trend Index yang dirilis oleh Microsoft dan LinkedIn, terungkap bahwa 66 perssen pemberi kerja saat ini enggan merekrut individu yang tidak memiliki keterampilan di bidang kecerdasan buatan (AI).
Indonesia termasuk dalam deretan negara yang menunjukkan tingkat keengganan tinggi terhadap kandidat tanpa kemampuan AI. Angka ini bahkan lebih tinggi di beberapa negara lain.
Di Taiwan, misalnya, 81 persen pemberi kerja menyatakan tidak tertarik merekrut kandidat yang tak menguasai AI, tertinggi di antara negara-negara dalam survei tersebut. Menyusul di bawahnya adalah Republik Ceko dan Tiongkok dengan masing-masing 79 persen, serta Vietnam di angka 76 persen.
Temuan ini menegaskan betapa pentingnya penguasaan AI dalam dunia kerja saat ini. Karyawan dituntut untuk mampu memanfaatkan AI guna menyelesaikan tugas dengan lebih efisien dan produktif.
Masih berdasarkan laporan yang sama, sebanyak 71 persen pemberi kerja bahkan lebih memilih kandidat dengan pengalaman kerja minim namun mahir menggunakan AI, dibandingkan mereka yang berpengalaman tetapi tidak pernah menggunakan teknologi tersebut.
“Kendati demikian, jangan hanya fokus pada hard skill saja. Ada 3 hal yang sering dilupakan orang, karena fokus hanya pada pengembangan hardskills-nya, yakni komunikasi, attitute dan agility atau flexible. Itu juga sangat penting,” imbuhnya.
Di luar itu, terkait dengan resign kerja, Aditiyo menyarankan bahwa setiap keputusan harus dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Menurutnya, idealnya keputusan untuk pindah kerja tidak semata-mata didasarkan pada momen penerimaan THR atau bonus.
Sebaliknya, katanya, alasan untuk berpindah sebaiknya dilihat dari sudut pandang yang lebih luas dan mendalam, seperti adanya peluang peningkatan karier maupun benefit yang didapatkan.
Dirinya juga mengingatkan bahwa jika keputusan berpindah hanya disesuaikan dengan momentum tertentu, ada risiko bahwa tujuan utama untuk berkembang secara profesional justru terabaikan.

(Sumber gambar: Unsplash/Austin Distel)
Peran Personal Branding
Managing Partner Inventure Yuswohady mengatakan selain fokus pada hardskill dan softskill, ada satu lagi yang tak boleh dikesampingkan, yakni personal branding. Menurutnya, personal branding merupakan skill krusial yang harus dimiliki oleh setiap calon karyawn di era digital.Dalam dunia digital, persaingan mencari kerja memang akan lebih kompleks. Dalam titik ini, kemampuan mempresentasikan diri secara autentik, konsisten, dan menarik, di berbagai platform menjadi penting.
“Orang yang telah memiliki personal branding dari awal akan menonjol di tengah persaingan. Personal branding membantu individu membedakan diri mereka denan kandidat lain,” ungkapmya.
Yuswohady juga mengatakan personal branding dapat menciptakan persepsi yang kuat dan positif, tidak hanya bagi publik, tetapi juga di mata rekrutmen. Selain itu, teknik ini juga dapat membantu membangun kredibilitas dalam jangka panjang.
Untuk memulai personal branding, Yuswo menekankan pentingnya untuk memahami terlebih dahulu konsep dasar dari branding. Jangan sampai, yang dilakukan justru serampangan, karena hal tersebut akan berpengaruh pada citra diri.
Baca juga: Hypereport: Bekerja di Luar Negeri, Persiapan Matang & Bekal Diri Jadi Kunci
Setidaknya, ada lima hal yang perlu dikenali sebelum membangun personal branding. Pertama adalah mengenai diri sendiri, kedua melakukan positioning diri, lalu konsisten, kemudian, fokus ke merancang kredibilitas, dan terakhir adalah membangun emotional connection.
“Orang akan lebih mudah mengingat cerita, bukan sekadar daftar skill. Bangun narasi personal yang relatable dan jujur,” imbuhnya.
Yuswo menyebut konsep personal branding sebenarnya hampir mirip dengan marketing produk. Dalam personal branding, manusianyalah yang menjadi ‘produk’ yang harus dipasarkan.
"Personal branding bukan sesuatu yang bisa dibangun satu-dua hari atau hanya saat akan mencari kerja baru. Personal branding harus dikembangkan dalam waktu lama dan konsisten," tegasnya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.