Makin Dicari Investor, Ini Faktor yang Membuat Harga Emas Terus Melambung
14 April 2025 |
18:30 WIB
Investasi emas masih menjadi primadona di masyarakat. Memiliki nilai lindung dan likuiditas tinggi, harga aset ini juga terus membumbung dalam beberapa waktu terakhir. Terbaru, harga emas bahkan tembus Rp1.942.000 per gram pada Minggu, 13 April 2025.
Analisis Komoditas Lukman Leong mengatakan, sejak 2020 hingga 2023 harga emas memang cenderung berkonsolidasi. Trennya sempat naik oleh sentimen risk off Covid-19, meski sempat turun sejenak, dan naik lagi oleh perang Ukraina.
Dia mengungkap, harga emas mulai rally sejak Oktober 2023 ketika okupasi di Gaza bermula. Momen tersebut berlanjut dengan dimulainya siklus pemangkasan suku bunga bank-bank sentral dunia yang berlanjut hingga sekarang.
Baca juga: Begini Kata Investor dan Perencana Keuangan Soal Potensi Investasi Emas yang Tengah Melesat
Selain beberapa faktor tersebut, harga emas juga mendapatkan dukungan tambahan dari kekuatiran resesi AS dan perlambatan ekonomi dunia. Termasuk imbas perang tarif dan dagang dari kebijakan Trump yang kontroversi, yang mengakibatkan panic buying di kalangan investor.
"Emas telah menjadi safe haven ratusan tahun, hingga saat ini masih sama," kata Lukman Leong belum lama ini saat dihubungi Hypeabis.id.
Terkait hubungan antara nilai tukar Dolar AS dan harga emas di pasar global Lukman mengungkap, nilai Dolar AS yang lebih rendah membuat harga emas dalam Dolar lebih menarik. Walhasil semakin rendah dolar, semakin menarik harga emas.
Namun untuk harga emas di pasar domestik, apabila greenback melemah dan rupiah menguat maka harga emas justru akan cenderung turun. Momen ini terjadi karena nilai emas dihitung dalam konversi Rupiah, sehingga nominalnya akan lebih kecil.
"Setahun ini, target [pertumbuhan emas] US$3.300-US$3.500. Beberapa tahun ke depan, tidak ada angka yang pasti. Adapun untuk 5 tahun ke depan, saya perkirakan emas berpotensi mencapai US$5.000," imbuhnya.
Kendati begitu, Lukman menjelaskan, perkembangan teknologi, seperti pertumbuhan aset kripto atau CBDC (Central Bank Digital Currency) juga akan berpengaruh terhadap emas. Menurutnya, kripto memang biasa menjadi 'kuda hitam' terhadap kecenderungan ini.
Hingga saat ini, papar Lukman, tidak sedikit yang menganggap kripto, seperti bitcoin adalah safe haven, sehingga investor menjadi terbagi. Walakin dia melihat pergerakan harga kripto saat ini cenderung masih volatile, sehingga belum sesuai sebagai alternatif safe haven emas.
"Pengaruh geopolitik global juga akan berpengaruh pada harga emas. Perang dan konflik sangat besar, terutama ketika eskalasi, bisa juga menekan harga ketika situasi mereda," katanya.
Diketahui, investasi emas masih menjadi primadona di masyarakat. Memiliki nilai lindung dan likuiditas tinggi, harga aset ini juga terus membumbung dalam beberapa waktu terakhir.
Secara historis, tren kenaikan emas terus melaju sejak 26 September 2022, dari level US$1.628,90 ke level saat ini dengan pertumbuhan lebih dari 80 persen. Kondisi perekonomian global yang melambat, dan peta geopolitik global menjadi salah satu pendukungnya.
Berdasarkan informasi dari Unit Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga emas Antam dengan ukuran terkecil 0,5 gram dipatok Rp998.000 pada 14 April 2025. Sementara itu, bobot 1 gram, 5 gram, dan 10 gram dibanderol Rp1,9 juta; Rp9,2 juta, dan Rp18,5 juta.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Analisis Komoditas Lukman Leong mengatakan, sejak 2020 hingga 2023 harga emas memang cenderung berkonsolidasi. Trennya sempat naik oleh sentimen risk off Covid-19, meski sempat turun sejenak, dan naik lagi oleh perang Ukraina.
Dia mengungkap, harga emas mulai rally sejak Oktober 2023 ketika okupasi di Gaza bermula. Momen tersebut berlanjut dengan dimulainya siklus pemangkasan suku bunga bank-bank sentral dunia yang berlanjut hingga sekarang.
Baca juga: Begini Kata Investor dan Perencana Keuangan Soal Potensi Investasi Emas yang Tengah Melesat
Selain beberapa faktor tersebut, harga emas juga mendapatkan dukungan tambahan dari kekuatiran resesi AS dan perlambatan ekonomi dunia. Termasuk imbas perang tarif dan dagang dari kebijakan Trump yang kontroversi, yang mengakibatkan panic buying di kalangan investor.
"Emas telah menjadi safe haven ratusan tahun, hingga saat ini masih sama," kata Lukman Leong belum lama ini saat dihubungi Hypeabis.id.
Terkait hubungan antara nilai tukar Dolar AS dan harga emas di pasar global Lukman mengungkap, nilai Dolar AS yang lebih rendah membuat harga emas dalam Dolar lebih menarik. Walhasil semakin rendah dolar, semakin menarik harga emas.
Namun untuk harga emas di pasar domestik, apabila greenback melemah dan rupiah menguat maka harga emas justru akan cenderung turun. Momen ini terjadi karena nilai emas dihitung dalam konversi Rupiah, sehingga nominalnya akan lebih kecil.
"Setahun ini, target [pertumbuhan emas] US$3.300-US$3.500. Beberapa tahun ke depan, tidak ada angka yang pasti. Adapun untuk 5 tahun ke depan, saya perkirakan emas berpotensi mencapai US$5.000," imbuhnya.
Kendati begitu, Lukman menjelaskan, perkembangan teknologi, seperti pertumbuhan aset kripto atau CBDC (Central Bank Digital Currency) juga akan berpengaruh terhadap emas. Menurutnya, kripto memang biasa menjadi 'kuda hitam' terhadap kecenderungan ini.
Hingga saat ini, papar Lukman, tidak sedikit yang menganggap kripto, seperti bitcoin adalah safe haven, sehingga investor menjadi terbagi. Walakin dia melihat pergerakan harga kripto saat ini cenderung masih volatile, sehingga belum sesuai sebagai alternatif safe haven emas.
"Pengaruh geopolitik global juga akan berpengaruh pada harga emas. Perang dan konflik sangat besar, terutama ketika eskalasi, bisa juga menekan harga ketika situasi mereda," katanya.
Diketahui, investasi emas masih menjadi primadona di masyarakat. Memiliki nilai lindung dan likuiditas tinggi, harga aset ini juga terus membumbung dalam beberapa waktu terakhir.
Secara historis, tren kenaikan emas terus melaju sejak 26 September 2022, dari level US$1.628,90 ke level saat ini dengan pertumbuhan lebih dari 80 persen. Kondisi perekonomian global yang melambat, dan peta geopolitik global menjadi salah satu pendukungnya.
Berdasarkan informasi dari Unit Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga emas Antam dengan ukuran terkecil 0,5 gram dipatok Rp998.000 pada 14 April 2025. Sementara itu, bobot 1 gram, 5 gram, dan 10 gram dibanderol Rp1,9 juta; Rp9,2 juta, dan Rp18,5 juta.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.