Instalasi Ikan Pari & Penyu dari Jaring Bekas Ramaikan Museum Bahari Jakarta
14 April 2025 |
17:13 WIB
Seni instalasi dari jaring bekas itu tampil semarak di salah satu sudut Museum Bahari, Jakarta. Tergantung di langit-langit ruangan, karya berbentuk ikan pari manta raksasa itu memberi kesan sedang berenang di habitatnya. Menyelam di kedalaman laut.
Tak jauh dari ikan pari manta terdapat pula penyu berukuran asli, sotong, dan jenis ikan lain. Menghadap ke satu arah, kelimun biota laut ini, seperti menyambut pengunjung dengan lestarinya keanekaragaman hayati lautan yang kini semakin terancam.
Secuplik gambaran di muka adalah bagian kecil dari pameran bertajuk Ghost Nets: Awakening the Drifting Giants. Dihelat Pemprov DKI Jakarta dan Kedutaan Australia Jakarta, seteleng ini berlangsung hingga 31 Agustus 2025 di Museum Bahari Jakarta.
Baca juga: Ara Contemporary Ramaikan Dunia Seni Asia Tenggara Lewat Pameran We Begin with Everything
Ghost Nets: Awakening the Drifting Giants merupakan karya dari seniman Kepulauan Selat Torres Australia, Erub Arts. Pameran ini menampilkan 18 karya seni tenun tangan berupa kawanan ikan yang terbuat dari limbah pukat ikan.
Terinspirasi oleh laut, seteleng ini menghadirkan berbagai bentuk karya seni yang mengimak keberagaman ekosistem lautan di Indonesia dan Australia. Salah satunya dalam karya bertajuk Billy dan Warrkaz IV, buah tangan Jimmy John Thaiday.
Dibuat pada 2021 dan 2019, karya berbentuk ikan dan penyu ini dibuat dengan cara memintal jaring bekas menjadi kesatuan utuh. Material jaring bekasnya sendiri didapat dari pemilahan sampah di lautan yang kemudian didaur ulang untuk karya tersebut.
Ada juga karya bertajuk Green Fish (2018) dam Luanna (2018) di mana sejumlah seniman dari kolektif ini membuat karya-karya unik tentang berbagai jenis ikan di lautan. Di Indonesia, seniman yang berkarya dengan pola seperti ini adalah Iwan Yusuf, dengan material dan isu senada.
Erub merupakan pulau paling Timur di Selat Torres, yang berbatasan dengan Papua Nugini. Pulau ini merupakan rumah bagi sekitar 400 Erubam Le- sebutan bagi orang Erub- yang dikenal sebagai komunitas nelayan dengan ikatan kekerabatan yang kuat.
Inti dari kehidupan suku di pulau ini adalah kepercayaan bahwa alam memiliki jiwa atau roh. Oleh karena itu, hubungan sosial dan spiritual antar masyarakat di sana masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk praktik seni kontemporer.
Salah satunya tentu dengan mendaur ulang jaring ikan bekas yang telah ditinggalkan atau hilang untuk menciptakan karya seni dan instalasi. Dimulai sejak 2010 praktik ini dilakukan untuk mengirimkan pesan konservasi alam, khususnya laut kepada dunia.
"Kita semua terhubung oleh lautan di dunia, jadi kita semua harus bekerja sama untuk melindunginya," tulis laman Erub Arts.
Menjadi kolektif seniman, para perupa dari kelompok Erub Arts sejauh ini telah membangun reputasi internasional dengan ghost nest alias 'jaring hantu'. Ghost nest berasal dari pukat, jaring buangan yang dikumpulkan dari pesisir pantai di sekitar tempat tinggal mereka.
Ihwal dibuatnya karya tersebut bukankah untuk karya seni semata melainkan juga sebagai gerakan sosial. Tujuannya adalah untuk membangun kesadaran publik akan pentingnya menyelamatkan ekosistem laut khususnya dari jaring hantu di seluruh penjuru dunia.
Sampai saat ini, Erub Arts telah mengadakan tur pameran karya seni Ghost Nets di sejumlah negara yang berkolaborasi dengan museum setempat, seperti di Singapura, Inggris, dan Swiss. Di Museum Bahari, ini adalah pameran ke sekian, setelah sebelumnya dihelat di Museum MACAN.
Pada pameran kali ini, Ghost Nets: Awakening the Drifting Giants dari Erub Arts juga menampilkan karya seni dari sejumlah perupa. Di antaranya adalah Ellarose Savage, Emma Gela, Florence Gutchen, Jimmy John Thaiday, Jimmy K. Thaiday, Lavinia Ketchell, Nancy Naawi dan Racy Oui-Pitt.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Tak jauh dari ikan pari manta terdapat pula penyu berukuran asli, sotong, dan jenis ikan lain. Menghadap ke satu arah, kelimun biota laut ini, seperti menyambut pengunjung dengan lestarinya keanekaragaman hayati lautan yang kini semakin terancam.
Secuplik gambaran di muka adalah bagian kecil dari pameran bertajuk Ghost Nets: Awakening the Drifting Giants. Dihelat Pemprov DKI Jakarta dan Kedutaan Australia Jakarta, seteleng ini berlangsung hingga 31 Agustus 2025 di Museum Bahari Jakarta.
Baca juga: Ara Contemporary Ramaikan Dunia Seni Asia Tenggara Lewat Pameran We Begin with Everything
Ghost Nets: Awakening the Drifting Giants merupakan karya dari seniman Kepulauan Selat Torres Australia, Erub Arts. Pameran ini menampilkan 18 karya seni tenun tangan berupa kawanan ikan yang terbuat dari limbah pukat ikan.
Terinspirasi oleh laut, seteleng ini menghadirkan berbagai bentuk karya seni yang mengimak keberagaman ekosistem lautan di Indonesia dan Australia. Salah satunya dalam karya bertajuk Billy dan Warrkaz IV, buah tangan Jimmy John Thaiday.
Dibuat pada 2021 dan 2019, karya berbentuk ikan dan penyu ini dibuat dengan cara memintal jaring bekas menjadi kesatuan utuh. Material jaring bekasnya sendiri didapat dari pemilahan sampah di lautan yang kemudian didaur ulang untuk karya tersebut.
Ada juga karya bertajuk Green Fish (2018) dam Luanna (2018) di mana sejumlah seniman dari kolektif ini membuat karya-karya unik tentang berbagai jenis ikan di lautan. Di Indonesia, seniman yang berkarya dengan pola seperti ini adalah Iwan Yusuf, dengan material dan isu senada.
Komunitas Nelayan
Erub merupakan pulau paling Timur di Selat Torres, yang berbatasan dengan Papua Nugini. Pulau ini merupakan rumah bagi sekitar 400 Erubam Le- sebutan bagi orang Erub- yang dikenal sebagai komunitas nelayan dengan ikatan kekerabatan yang kuat.Inti dari kehidupan suku di pulau ini adalah kepercayaan bahwa alam memiliki jiwa atau roh. Oleh karena itu, hubungan sosial dan spiritual antar masyarakat di sana masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk praktik seni kontemporer.
Salah satunya tentu dengan mendaur ulang jaring ikan bekas yang telah ditinggalkan atau hilang untuk menciptakan karya seni dan instalasi. Dimulai sejak 2010 praktik ini dilakukan untuk mengirimkan pesan konservasi alam, khususnya laut kepada dunia.
"Kita semua terhubung oleh lautan di dunia, jadi kita semua harus bekerja sama untuk melindunginya," tulis laman Erub Arts.

Dokumentasi pembuatan karya dari jaring bekas oleh komunitas Erub Arts. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Menjadi kolektif seniman, para perupa dari kelompok Erub Arts sejauh ini telah membangun reputasi internasional dengan ghost nest alias 'jaring hantu'. Ghost nest berasal dari pukat, jaring buangan yang dikumpulkan dari pesisir pantai di sekitar tempat tinggal mereka.
Ihwal dibuatnya karya tersebut bukankah untuk karya seni semata melainkan juga sebagai gerakan sosial. Tujuannya adalah untuk membangun kesadaran publik akan pentingnya menyelamatkan ekosistem laut khususnya dari jaring hantu di seluruh penjuru dunia.
Sampai saat ini, Erub Arts telah mengadakan tur pameran karya seni Ghost Nets di sejumlah negara yang berkolaborasi dengan museum setempat, seperti di Singapura, Inggris, dan Swiss. Di Museum Bahari, ini adalah pameran ke sekian, setelah sebelumnya dihelat di Museum MACAN.
Pada pameran kali ini, Ghost Nets: Awakening the Drifting Giants dari Erub Arts juga menampilkan karya seni dari sejumlah perupa. Di antaranya adalah Ellarose Savage, Emma Gela, Florence Gutchen, Jimmy John Thaiday, Jimmy K. Thaiday, Lavinia Ketchell, Nancy Naawi dan Racy Oui-Pitt.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.