sejumlah pengunjung memotret karya seni dalam pameran We Begin with Everything di Ara Contemporary Jakarta, Jumat (11/4/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Ara Contemporary Ramaikan Dunia Seni Asia Tenggara Lewat Pameran We Begin with Everything

11 April 2025   |   21:54 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Pasar seni rupa di Indonesia sepertinya terus bergeliat dalam beberapa waktu terakhir. Buktinya sejumlah galeri baru mulai banyak bermunculan di kota-kota besar Indonesia dengan mengusung pendekatan dan artistik yang semakin variatif.

Terbaru, kota Jakarta juga menyambut galeri seni baru bernama Ara Contemporary. Berlokasi di Jalan Tulodong Bawah 1 Nomor 163, Senayan, Jakarta Pusat, galeri ini berfokus untuk mengenalkan seni rupa di Asia Tenggara ke kancah global.

Pada debut pamerannya ini, Ara Contemporary juga memboyong sejumlah karya seniman dalam dan luar negeri. Tak tanggung-tanggung, total terdapat 17 seniman yang memeriahkan pembukaan ini dalam seteleng bertajuk We Begin with Everything yang berlangsung hingga 4 Mei 2025.

Baca juga: Agenda Pameran Seni April 2025, Ada Semesta Arkiv & There is No Center

Megan Arlin, salah satu founder Ara Contemporary mengatakan, visi utama mereka membuka galeri ini adalah untuk mendukung seniman di kawasan Asia Tenggara dan mengadvokasi praktik mereka baik secara lokal maupun internasional agar semakin dikenal publik.

Pemilihan Ara Contemporary juga bukan tanpa alasan. Nama tersebut merupakan kombinasi nama belakang dari para pendirinya, yakni Megan Arlin, Fiesta Ramadanti, dan Fredy Chandra. Frasa Ara juga berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti tempat berlindung.

"Ara berdiri dengan fokus terhadap seniman yang praktiknya melibatkan konteks Asia Tenggara, termasuk mengeksplorasi hubungan antara kedekatan dan wacana global," katanya saat ditemui Hypeabis.id, Jumat (11/4/25).

 

ahah

Sejumlah pengunjung memotret karya seni dalam pameran We Begin with Everything di Ara Contemporary Jakarta, Jumat (11/4/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)


Setali tiga uang, Fiesta Ramadanti mengungkap pada debut pamerannya ini pihaknya memang sengaja memilih 17 seniman lokal dan luar negeri dari kawasan Asia Tenggara. Ke depannya mereka juga akan menggelar pameran tunggal dari sejumlah seniman tersebut secara berkala.

Setelah pameran ini misalnya, pihaknya berencana menggelar pameran tunggal dari seniman Iwan Effendi yang dijadwalkan pada Mei 2025. Lain dari itu mereka juga akan mulai memamerkan karya-karya seniman Indonesia di luar negeri, salah satunya ke negara Prancis.

"Galeri ini memiliki dua ruang, yakni galeri utama dan fokus, di mana keduanya memiliki peranan yang berbeda. Galeri utama untik mengenalkan seniman ke lanskap global, dan fokus untuk seniman-seniman muda dan eksperimental," katanya.
 

Hadirkan Ragam Karya Seni

Pada debut pameran perdananya kali ini, Ara Contemporary juga menghadirkan ragam karya seni, yang dikemas dengan apik. Setelah memasuki galeri, misal, Genhype akan bersitatap dengan karya Irfan Hendrian bertajuk O<>O<>O<> (layers of paper on board, 95x200x6cm, 2025).

Masih dengan ciri khasnya, seniman jebolan ITB memanfaatkan kertas dengan cara unik, yakni menyusunnya lapis demi lapis sehingga membentuk pola yang unik. Sepintas karya ini seperti sedang menggambarkan lingkaran tahun pohon, atau bentuk-bentuk batik cap dengan pola simetris.

Lain lagi dengan seniman Ipeh Nur yang memboyong karya bertajuk Dejavu: I see an ocean, 2025. Dibuat dengan bubuk batu, arang, pasta indigo, dan lumpur, lukisan berdimensi 114x158,5x3,5 cm, ini adalah refleksi dari hasil perjalanannya melawat ke wilayah Utara Jawa.

Ipeh adalah seniman dari Yogyakarta. Setelah beberapa tahun sebelumnya mengeksplorasi wilayah pantai Selatan, pada karya terbarunya Ipeh meneroka bentangan selat Muria, yang dulunya membelah Pulau Jawa dan Pulau Muria (saat ini G. Muria), akan tetapi menyatu akibat sedimentasi.
 

Karya Ipeh Nur bertajuk Dejavu: I see an ocean

Karya Ipeh Nur bertajuk Dejavu: I see an ocean dalam pameran We Begin with Everything di Ara Contemporary Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)


Dalam karyanya ini, Ipeh secara imajinatif menggambarkan selat tersebut di mana dia mengimak tulang belulang beserta gunung yang terbalik. Ipeh mengungkap karyanya ini ingin membicarakan tentang geo mitologi, atau kebencanaan yang dimetaforakan lewat mitos-mitos di masyarakat.

"Aku tertarik dengan cara orang dulu yang menyimbolkan sesuatu lewat cerita, benda dan tokoh. Dalam hal ini peristiwa kebencanaan lewat simbol, yang beberapa tahun lalu juga terjadi banjir di kawasan tersebut," katanya.

Seniman Iwan Effendi juga tidak mau kalah. Perupa yang juga aktif di Papermoon Puppet Theatre, itu memboyong karya bertajuk Simpingan (arang dan pastel di atas kanvas, 200x200 cm, 2025). Karya ini secara umum mengimak karakter-karakter boneka yang sedang dalam posisi melamun.

Iwan menjelaskan, pembuatan karya ini memang tak lepas dari kiprahnya sebagai seniman teater boneka. Karakter-karakter yang dilukisnya, biasanya juga akan dihidupkan dalam bentuk instalasi, setelah dipilih oleh istrinya, Maria Tri Sulistyani, untuk dikembangkan sebagai karakter cerita teater boneka.

"Penggunaan arang dalam lukisan ini juga merepresentasikan gerak dan spontanitas. Medium ini menggerakan semua tubuh saya, ketika objek yang dilukis besar maka gerakannya harus besar. Jadi, terus-terusan [melukis], kalau cat kan tidak,"katanya.

Selain ketiga seniman di muka, pameran ini juga dimeriahkan oleh Agan Harahap, Albert Yonathan Setyawan, Condro Priyoaji, Enggar Rhomadioni, S Urubingwaru, Wedhar Riyadi dan Mar Kristoff. Ada pula Alisa Chunchue, Carmen Ceniga Prado, Dawn Ng, Kelly Jin Mei, Marcos Kueh, Natalie Sasi Organ, dan Xiuching Tsay.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Tetap Tenang di Tengah Gejolak, Ini Strategi Investasi dari DBS

BERIKUTNYA

Asal-usul Lahirnya Record Store Day, Perayaan Budaya Rilisan Album Fisik

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga