Jejak Kontemplatif Perupa Hendra Gunawan di Ciputra Artpreneur
12 April 2025 |
14:00 WIB
Sebuah patung yang mengimak sosok ibu sedang memangku anak sambil memberi makan tampil memikat di Ciputra Artpreneur. Sang buah hati yang duduk di lutut kanan ibunya tampak condong ke depan. Tangannya menjulang mengejar kupu-kupu di udara.
Instalasi patung berpalet cerah ini terinspirasi dari lukisan Hendra Gunawan bertajuk Menangkap Kupu-kupu. Ditempatkan di depan ruang kaca transparan, patung tersebut seperti sedang berdialog dengan ratusan origami kupu-kupu yang memenuhi ruangan.
Baca juga: Pameran Ireland's Eye Hadir di WTC Jakarta, Pacak Karya 6 Seniman Irlandia
Ratusan kupu-kupu tersebut juga bukan sekadar hiasan, melainkan simbol harapan, doa, dan mimpi-mimpi para pengunjung, khususnya anak-anak. Instalasi kolaboratif ini adalah bagian dari wajah baru Ciputra Artpreneur yang kini genap berusia 10 tahun.
Di seberang ruang bernama Galeri Imaji itu, terdapat pula hal yang istimewa dalam menyambut 1 dekade Ciputra Artpreneur. Puluhan karya dari maestro Hendra Gunawan (1918-1983) juga disuguhkan di Museum Ciputra, sebagai bentuk penghormatan pada sang seniman.
Diusung dalam tajuk Hendra Gunawan: Prisoner of Hope, pemeran ini dihelat untuk memperingati seabad kelahiran Hendra Gunawan. Seteleng ini, secara umum menghadirkan berbagai renungan sang seniman terhadap realitas di Tanah Airnya, sebelum mangkat pada 1983.
Dikuratori oleh Agus Dermawan T dan Aminudin TH Siregar, pameran ini dirangkai dengan cermat dari koleksi pribadi Ciputra. Judul Prisoner of Hope juga bukan sekadar metafora, sebab dia merujuk pada masa 13 tahun yang dihabiskan Hendra di balik penjara Kebon Waru (1965-1978) setelah dituding terlibat dengan Lekra.
Berbeda dari pameran sebelumnya, seteleng terbaru ini memang merespon karya-karya Hendra Gunawan yang dipacak di museum. Sebagian besar di antaranya adalah dibuat dalam bentuk instalasi, salah satunya karya patung bertajuk Tukang Duren (1979) dan Pengorbanan Ibu (1973).
Lain dari itu, yang menarik dari koleksi pameran ini adalah bagaimana keluwesan Hendra dalam menggambarkan keseharian rakyat, budaya lokal, hingga peristiwa sejarah. Lewat lukisan Mekutu II (cat minyak di atas kanvas, 80 X 138 cm, 1980), misal, Hendra merekam kedekatan ibu dan anak saat mencari kutu rambut.
Duduk di atas tubir dengan lanskap pantai, Hendra menggambarkan seseorang mencari kutu
rambut ibu cantik yang sedang menyusui anaknya. Sementara si anak memegang wayang kulit, yang menyimbolkan tradisionalitas orang Jawa. Lukisan ini juga menjadi simbol bagaimana Hendra dengan tajam menangkap realitas.
Kecermatan mata dan tangan Hendra Gunawan dalam menangkap realitas juga tercermin dalam karya Tukang Duren (cat minyak di atas kanvas, 150 X 199,5 cm, 1980). Menggunakan warna cerah, Hendra melukiskan pertemuan desa dan kota yang direpresentasikan dari kelimun penjaja durian dan pembeli yang menghidunya.
Aminudin Th Siregar dalam kuratorialnya menulis, bagi Hendra Gunawan, rakyat memang lebih layak dijadikan subyek alih-alih objek sosial. Hal itu dibuktikan dengan ketajamannya merekam ragam aktivitas mereka di lokasi-lokasi biasa, seperti pasar yang becek, pinggir jalan yang berdebu, sudut kampung, pantai, ataupun pematang sawah.
"Hendra Gunawan melukis potret diri, keluarganya, dan keluarga yang umumnya anonim. Selain itu, rakyat juga dihambarkan sebagai kerumunan. Dia kemudian menajamkannya, di mana representasi keuarga hadir melalui wanita sebagai objek utama," katanya.
Keberpihakan pada Perempuan
Terkait subyek wanita sebagai objek utama ini juga hadir dalam kaya bertajuk Arjuna Menyusui (cat minyak di atas kanvas,204 X 347 cm, 1979). Menurut Agus Dermawan T, lukisan ini adalah salah satu karya favorit Ciputra, yang bahkan tata letaknya dipacak di center ruangan.
Pada lukisan ini Hendra menangkap penggalan pengalamannya saat dia terlibat secara emosional dalam pementasan pertunjukan saat masih muda. Diketahui, Hendra pernah bergabung dengan organisasi pemuda Yayasan Obor Pasundan. Di tempat inilah dia mengasah kemampuan mendalang dan menari.
Secara umum, lukisan ini menggambarkan suasana hingar bingar sebelum pertunjukan wayang orang. Warna-warna yang ditampilkan menghadirkan suasana gembira. Kendati begitu tetap dalam balutan kesederhanaan, lantaran dunia wayang orang yang dihayati Hendra adakah dunia kesenian rakyat.
Bagian terpenting dari lukisan ini adalah unsur human interest yang ditampilkan. Dalam wayang orang, tokoh Arjuna selalu dimainkan oleh perempuan. Bukan tanpa alasan memang. Sebab karakter Arjuna dikenal sebagai lelaki manis rupa dengan suara yang lembut.
"Pada lukisan ini Hendra menggambarkan bagaimana di tengah pementasan, Arjuna harus menyusui anaknya, ada unsur haru yang terlihat. Pak Ci (Ciputra) juga melihat ikon ibu dalam setiap lukisan Hendra Gunawan, ibu semuanya. Ini yang paling kompleks," papar Agus.
Presiden Direktur Ciputra Artpreneur, Rina Ciputra Sastrawinata mengatakan, momen istimewa pembukaan Museum Ciputra dalam rangka 1 dekade ini adalah untuk menjadikan tempat tersebut sebagai wadah pertukaran ide, dan kreativitas para seniman di Indonesia dan internasional.
Lain dari itu kegiatan ini diharap juga dapat menjadi pemicu untuk mencapai hasil yang lebih baik di masa mendatang. Salah satunya dengan terus mendukung para seniman untuk berkarya tidak hanya dengan nilai estetika, tetapi juga dengan nilai ekonomi yang baik.
"Saya tetap berkomitmen kepada amanat yang diberikan oleh ayah saya [Ir. Ciputra] untuk menjadikan Ciputra Artpreneur sebagai destinasi wisata seni, baik seni pertunjukan di teater ataupun pameran kesenian di galeri," katanya.
Instalasi patung berpalet cerah ini terinspirasi dari lukisan Hendra Gunawan bertajuk Menangkap Kupu-kupu. Ditempatkan di depan ruang kaca transparan, patung tersebut seperti sedang berdialog dengan ratusan origami kupu-kupu yang memenuhi ruangan.
Baca juga: Pameran Ireland's Eye Hadir di WTC Jakarta, Pacak Karya 6 Seniman Irlandia
Ratusan kupu-kupu tersebut juga bukan sekadar hiasan, melainkan simbol harapan, doa, dan mimpi-mimpi para pengunjung, khususnya anak-anak. Instalasi kolaboratif ini adalah bagian dari wajah baru Ciputra Artpreneur yang kini genap berusia 10 tahun.
Di seberang ruang bernama Galeri Imaji itu, terdapat pula hal yang istimewa dalam menyambut 1 dekade Ciputra Artpreneur. Puluhan karya dari maestro Hendra Gunawan (1918-1983) juga disuguhkan di Museum Ciputra, sebagai bentuk penghormatan pada sang seniman.
Diusung dalam tajuk Hendra Gunawan: Prisoner of Hope, pemeran ini dihelat untuk memperingati seabad kelahiran Hendra Gunawan. Seteleng ini, secara umum menghadirkan berbagai renungan sang seniman terhadap realitas di Tanah Airnya, sebelum mangkat pada 1983.
Dikuratori oleh Agus Dermawan T dan Aminudin TH Siregar, pameran ini dirangkai dengan cermat dari koleksi pribadi Ciputra. Judul Prisoner of Hope juga bukan sekadar metafora, sebab dia merujuk pada masa 13 tahun yang dihabiskan Hendra di balik penjara Kebon Waru (1965-1978) setelah dituding terlibat dengan Lekra.
Berbeda dari pameran sebelumnya, seteleng terbaru ini memang merespon karya-karya Hendra Gunawan yang dipacak di museum. Sebagian besar di antaranya adalah dibuat dalam bentuk instalasi, salah satunya karya patung bertajuk Tukang Duren (1979) dan Pengorbanan Ibu (1973).
Lain dari itu, yang menarik dari koleksi pameran ini adalah bagaimana keluwesan Hendra dalam menggambarkan keseharian rakyat, budaya lokal, hingga peristiwa sejarah. Lewat lukisan Mekutu II (cat minyak di atas kanvas, 80 X 138 cm, 1980), misal, Hendra merekam kedekatan ibu dan anak saat mencari kutu rambut.
Duduk di atas tubir dengan lanskap pantai, Hendra menggambarkan seseorang mencari kutu
rambut ibu cantik yang sedang menyusui anaknya. Sementara si anak memegang wayang kulit, yang menyimbolkan tradisionalitas orang Jawa. Lukisan ini juga menjadi simbol bagaimana Hendra dengan tajam menangkap realitas.

Lukisan Mekutu II Karya Hendra Gunawan (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Kecermatan mata dan tangan Hendra Gunawan dalam menangkap realitas juga tercermin dalam karya Tukang Duren (cat minyak di atas kanvas, 150 X 199,5 cm, 1980). Menggunakan warna cerah, Hendra melukiskan pertemuan desa dan kota yang direpresentasikan dari kelimun penjaja durian dan pembeli yang menghidunya.
Aminudin Th Siregar dalam kuratorialnya menulis, bagi Hendra Gunawan, rakyat memang lebih layak dijadikan subyek alih-alih objek sosial. Hal itu dibuktikan dengan ketajamannya merekam ragam aktivitas mereka di lokasi-lokasi biasa, seperti pasar yang becek, pinggir jalan yang berdebu, sudut kampung, pantai, ataupun pematang sawah.
"Hendra Gunawan melukis potret diri, keluarganya, dan keluarga yang umumnya anonim. Selain itu, rakyat juga dihambarkan sebagai kerumunan. Dia kemudian menajamkannya, di mana representasi keuarga hadir melalui wanita sebagai objek utama," katanya.
Keberpihakan pada Perempuan
Terkait subyek wanita sebagai objek utama ini juga hadir dalam kaya bertajuk Arjuna Menyusui (cat minyak di atas kanvas,204 X 347 cm, 1979). Menurut Agus Dermawan T, lukisan ini adalah salah satu karya favorit Ciputra, yang bahkan tata letaknya dipacak di center ruangan.
Pada lukisan ini Hendra menangkap penggalan pengalamannya saat dia terlibat secara emosional dalam pementasan pertunjukan saat masih muda. Diketahui, Hendra pernah bergabung dengan organisasi pemuda Yayasan Obor Pasundan. Di tempat inilah dia mengasah kemampuan mendalang dan menari.
Secara umum, lukisan ini menggambarkan suasana hingar bingar sebelum pertunjukan wayang orang. Warna-warna yang ditampilkan menghadirkan suasana gembira. Kendati begitu tetap dalam balutan kesederhanaan, lantaran dunia wayang orang yang dihayati Hendra adakah dunia kesenian rakyat.

Pengunjung mengambil foto karya Hendra Gunawan bertajuk Arjuna Menyusui di Museum Ciputra Artpreneur (sumber gambar: JIBI/Abdurachman)
Bagian terpenting dari lukisan ini adalah unsur human interest yang ditampilkan. Dalam wayang orang, tokoh Arjuna selalu dimainkan oleh perempuan. Bukan tanpa alasan memang. Sebab karakter Arjuna dikenal sebagai lelaki manis rupa dengan suara yang lembut.
"Pada lukisan ini Hendra menggambarkan bagaimana di tengah pementasan, Arjuna harus menyusui anaknya, ada unsur haru yang terlihat. Pak Ci (Ciputra) juga melihat ikon ibu dalam setiap lukisan Hendra Gunawan, ibu semuanya. Ini yang paling kompleks," papar Agus.
Presiden Direktur Ciputra Artpreneur, Rina Ciputra Sastrawinata mengatakan, momen istimewa pembukaan Museum Ciputra dalam rangka 1 dekade ini adalah untuk menjadikan tempat tersebut sebagai wadah pertukaran ide, dan kreativitas para seniman di Indonesia dan internasional.
Lain dari itu kegiatan ini diharap juga dapat menjadi pemicu untuk mencapai hasil yang lebih baik di masa mendatang. Salah satunya dengan terus mendukung para seniman untuk berkarya tidak hanya dengan nilai estetika, tetapi juga dengan nilai ekonomi yang baik.
"Saya tetap berkomitmen kepada amanat yang diberikan oleh ayah saya [Ir. Ciputra] untuk menjadikan Ciputra Artpreneur sebagai destinasi wisata seni, baik seni pertunjukan di teater ataupun pameran kesenian di galeri," katanya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.