Tantangan Pelaku Usaha Online Mengadopsi Teknologi AI
10 April 2025 |
12:55 WIB
Transformasi digital melalui teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu solusi yang banyak dibicarakan dalam pengembangan sektor eCommerce, termasuk bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Asia Tenggara. Namun, kenyataannya, adopsi AI masih belum merata, baik dari sisi pengetahuan, kesiapan, maupun implementasi teknis di lapangan.
Hal ini terungkap dalam laporan riset terbaru berjudul Menjembatani Kesenjangan AI: Persepsi dan Tren Adopsi Penjual Online di Asia Tenggara yang melibatkan 1.214 pelaku usaha online dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Meskipun 68% pelaku usaha online di Asia Tenggara mengaku sudah mengenal AI, hanya 37% yang benar-benar menerapkannya dalam operasional bisnis. Di Indonesia, dari 52% penjual yang mengaku sudah menggunakan AI, hanya 42% yang benar-benar telah mengimplementasikannya menunjukkan adanya celah 10% antara persepsi dan realitas.
Baca juga: Teknologi AI Jadi Kunci Efisiensi UMKM di Era Digital
Kesenjangan ini menyoroti bahwa pemahaman soal AI belum selalu sejalan dengan kemampuan teknis dan kesiapan struktural pelaku usaha untuk benar-benar memanfaatkan teknologi tersebut.
Mayoritas pelaku usaha menyadari manfaat potensial AI dimana 89% menyebut teknologi ini bisa meningkatkan produktivitas, dan 93% percaya bisa menekan biaya jangka panjang. Namun, 61% masih menyimpan keraguan akan efektivitas AI secara menyeluruh.
Biaya dan waktu implementasi juga menjadi tantangan tersendiri. Sebanyak 64% responden menyebut kedua faktor ini sebagai hambatan utama dalam proses adopsi teknologi baru, terutama di segmen UMKM yang kerap memiliki sumber daya terbatas.
Aspek kesiapan sumber daya manusia menjadi persoalan tersendiri. Tiga dari empat penjual menyebut bahwa tenaga kerja mereka masih lebih nyaman menggunakan perangkat manual atau sistem lama yang sudah dikenal. Di sisi lain, hampir semua responden (93%) sepakat bahwa peningkatan keterampilan digital menjadi hal krusial dalam masa transisi ini.
Bila dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, tingkat adopsi AI di Indonesia tergolong cukup tinggi (42%) bersama Vietnam, disusul Singapura dan Thailand (39%). Namun, proporsi pelaku usaha yang benar-benar mengandalkan AI secara menyeluruh di seluruh fungsi bisnis masih tergolong kecil.
Dalam riset ini, pelaku usaha dikategorikan ke dalam tiga kelompok:
Dibutuhkan Dukungan Struktural
Kebutuhan akan solusi yang lebih aplikatif dan mudah digunakan muncul sebagai salah satu poin penting dalam riset ini. Sebanyak 42% responden menyebut pentingnya fitur AI yang lebih relevan, dan 41% menyebut perlunya dukungan atau pelatihan bagi penjual.
Hal ini menunjukkan bahwa untuk mendorong digitalisasi UMKM secara menyeluruh, tidak cukup hanya dengan memperkenalkan teknologi baru, tetapi juga perlu disertai dengan edukasi, infrastruktur yang mendukung, serta intervensi berbasis kebutuhan nyata pelaku usaha.
Baca juga: Teknologi AI Ternyata Bisa Mengalami Gangguan Kognitif
Hal ini terungkap dalam laporan riset terbaru berjudul Menjembatani Kesenjangan AI: Persepsi dan Tren Adopsi Penjual Online di Asia Tenggara yang melibatkan 1.214 pelaku usaha online dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Meskipun 68% pelaku usaha online di Asia Tenggara mengaku sudah mengenal AI, hanya 37% yang benar-benar menerapkannya dalam operasional bisnis. Di Indonesia, dari 52% penjual yang mengaku sudah menggunakan AI, hanya 42% yang benar-benar telah mengimplementasikannya menunjukkan adanya celah 10% antara persepsi dan realitas.
Baca juga: Teknologi AI Jadi Kunci Efisiensi UMKM di Era Digital
Kesenjangan ini menyoroti bahwa pemahaman soal AI belum selalu sejalan dengan kemampuan teknis dan kesiapan struktural pelaku usaha untuk benar-benar memanfaatkan teknologi tersebut.
Mayoritas pelaku usaha menyadari manfaat potensial AI dimana 89% menyebut teknologi ini bisa meningkatkan produktivitas, dan 93% percaya bisa menekan biaya jangka panjang. Namun, 61% masih menyimpan keraguan akan efektivitas AI secara menyeluruh.
Biaya dan waktu implementasi juga menjadi tantangan tersendiri. Sebanyak 64% responden menyebut kedua faktor ini sebagai hambatan utama dalam proses adopsi teknologi baru, terutama di segmen UMKM yang kerap memiliki sumber daya terbatas.
Aspek kesiapan sumber daya manusia menjadi persoalan tersendiri. Tiga dari empat penjual menyebut bahwa tenaga kerja mereka masih lebih nyaman menggunakan perangkat manual atau sistem lama yang sudah dikenal. Di sisi lain, hampir semua responden (93%) sepakat bahwa peningkatan keterampilan digital menjadi hal krusial dalam masa transisi ini.
Bila dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, tingkat adopsi AI di Indonesia tergolong cukup tinggi (42%) bersama Vietnam, disusul Singapura dan Thailand (39%). Namun, proporsi pelaku usaha yang benar-benar mengandalkan AI secara menyeluruh di seluruh fungsi bisnis masih tergolong kecil.
Dalam riset ini, pelaku usaha dikategorikan ke dalam tiga kelompok:
- AI Adepts (telah mengadopsi AI di lebih dari 80% operasional),
- AI Aspirants (baru mengadopsi sebagian), dan
- AI Agnostics (masih dominan menggunakan cara manual).
Dibutuhkan Dukungan Struktural
Kebutuhan akan solusi yang lebih aplikatif dan mudah digunakan muncul sebagai salah satu poin penting dalam riset ini. Sebanyak 42% responden menyebut pentingnya fitur AI yang lebih relevan, dan 41% menyebut perlunya dukungan atau pelatihan bagi penjual.
Hal ini menunjukkan bahwa untuk mendorong digitalisasi UMKM secara menyeluruh, tidak cukup hanya dengan memperkenalkan teknologi baru, tetapi juga perlu disertai dengan edukasi, infrastruktur yang mendukung, serta intervensi berbasis kebutuhan nyata pelaku usaha.
Baca juga: Teknologi AI Ternyata Bisa Mengalami Gangguan Kognitif
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.