Waspada! Deretan Risiko Ini Mengintai di Tengah Gempuran AI
10 April 2025 |
13:05 WIB
Perang artificial intelligence (AI) semakin panas. Para perusahaan teknologi berlomba-lomba menghadirkan model kecerdasan buatannya dengan sejumlah fitur yang membantu manusia mengerjakan banyak hal lebih cepat dan efisien. Namun di balik keunggulan teknologi ini, ada risiko besar mengintai.
Plagiarisme menjadi salah satunya, ketika baru-baru ini, muncul AI yang mampu menghasilkan karya visual yang meniru gaya khas Studio Ghibli, rumah produksi animasi legendaris asal Jepang. Aplikasi berbasis AI model difusi teks-ke-gambar seperti ChatGPT, DeepAI, MidJourney dan lainnya, memungkinkan pengguna hanya dengan mengetikkan deskripsi singkat untuk menghasilkan ilustrasi yang meniru estetika visual Hayao Miyazaki dan karyanya yang penuh sentuhan emosi, warna, dan detail khas.
Baca juga: Tantangan Pelaku Usaha Online Mengadopsi Teknologi AI
Kejadian ini lantas memicu protes dari berbagai seniman dan animator. Bukan hanya karena masalah hak cipta dan orisinalitas, tetapi juga menyentuh ranah yang lebih mendalam yaitu nilai kreativitas manusia.
Banyak seniman yang merasa bahwa AI yang memproduksi karya bergaya Ghibli tersebut, mengaburkan batas antara penghormatan dan plagiarisme. Menurut Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, AI dalam hal ini tidak menciptakan sebuah karya dari nol, tetapi memproses, menyintesis, dan merekayasa ulang karya dengan gaya yang sudah ada.
Protes ini menurutnya membuka diskusi serius tentang etika dan hukum dalam penggunaan data untuk pelatihan AI, serta batasan kepemilikan intelektual dalam era digital.
Dia memprediksi, AI akan menjadi semakin terintegrasi dalam hampir seluruh aspek kehidupan dari sektor kreatif, kesehatan, pertahanan, hingga pemerintahan. Model AI yang lebih canggih seperti multimodal GPT atau Gemini akan mampu menggabungkan teks, gambar, suara, dan bahkan data biologis untuk menghasilkan konten atau layanan yang makin personal dan responsif.
Tentu hal ini menjadi ancaman bagi dunia seni. “AI tidak hanya dapat meniru gaya melukis seseorang, tetapi bisa juga menciptakan musik orisinal, skenario film, atau bahkan novel dengan kedalaman narasi yang nyaris menyerupai karya manusia,” tuturnya kepada Hypeabis.id, Rabu (9/4/2025).
Namun di sisi lain, penggunaan AI secara masif juga membawa risiko yang tak bisa diabaikan. Pratama mengingatkan, risiko paling nyata terjadi saat ini adalah penyebaran disinformasi dan deepfake.
AI yang mampu membuat gambar atau video hiper-realistis dapat dengan mudah digunakan untuk manipulasi opini publik, kampanye politik kotor, penipuan, atau bahkan pemerasan personal. Selain itu, ketergantungan terhadap AI dalam pengambilan keputusan terutama di sektor strategis seperti militer dan keuangan dapat menciptakan kerentanan baru.
“Jika sistem AI diretas atau dimanipulasi, dampaknya bisa sangat luas dan merusak,” tegasnya.
Risiko lainnya adalah erosi terhadap kapasitas berpikir kritis dan kreatif manusia. Bila masyarakat semakin bergantung pada AI untuk memproduksi ide, menulis laporan, atau menyusun strategi, maka kemampuan intelektual manusia akan tumpul secara perlahan.
Pratama berpendapat, ini bukan sekadar tentang kehilangan pekerjaan, tetapi kehilangan kompetensi sebagai akibat dari kenyamanan teknologi. Selain itu, ada pula risiko bias algoritmik yang belum sepenuhnya bisa dieliminasi.
“AI yang dilatih dari data bermasalah akan mereproduksi prasangka, diskriminasi, atau ketimpangan sosial yang sudah ada dalam data tersebut,” jelasnya.
Pun ketika AI menawarkan potensi yang besar untuk kemajuan peradaban umat manusia, masih perlu ada keseimbangan antara inovasi dan regulasi, serta antara eksplorasi dan etika. Pratama menegaskan bahwa peran manusia tetaplah kunci dalam menentukan arah penggunaan teknologi ini. “Apakah akan digunakan sebagai alat pemberdayaan atau justru menjadi pisau bermata dua yang membahayakan nilai-nilai kemanusiaan,” tuturnya.
Baca juga: Teknologi AI Ternyata Bisa Mengalami Gangguan Kognitif
Plagiarisme menjadi salah satunya, ketika baru-baru ini, muncul AI yang mampu menghasilkan karya visual yang meniru gaya khas Studio Ghibli, rumah produksi animasi legendaris asal Jepang. Aplikasi berbasis AI model difusi teks-ke-gambar seperti ChatGPT, DeepAI, MidJourney dan lainnya, memungkinkan pengguna hanya dengan mengetikkan deskripsi singkat untuk menghasilkan ilustrasi yang meniru estetika visual Hayao Miyazaki dan karyanya yang penuh sentuhan emosi, warna, dan detail khas.
Baca juga: Tantangan Pelaku Usaha Online Mengadopsi Teknologi AI
Kejadian ini lantas memicu protes dari berbagai seniman dan animator. Bukan hanya karena masalah hak cipta dan orisinalitas, tetapi juga menyentuh ranah yang lebih mendalam yaitu nilai kreativitas manusia.
Banyak seniman yang merasa bahwa AI yang memproduksi karya bergaya Ghibli tersebut, mengaburkan batas antara penghormatan dan plagiarisme. Menurut Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, AI dalam hal ini tidak menciptakan sebuah karya dari nol, tetapi memproses, menyintesis, dan merekayasa ulang karya dengan gaya yang sudah ada.
Protes ini menurutnya membuka diskusi serius tentang etika dan hukum dalam penggunaan data untuk pelatihan AI, serta batasan kepemilikan intelektual dalam era digital.
Dia memprediksi, AI akan menjadi semakin terintegrasi dalam hampir seluruh aspek kehidupan dari sektor kreatif, kesehatan, pertahanan, hingga pemerintahan. Model AI yang lebih canggih seperti multimodal GPT atau Gemini akan mampu menggabungkan teks, gambar, suara, dan bahkan data biologis untuk menghasilkan konten atau layanan yang makin personal dan responsif.
Tentu hal ini menjadi ancaman bagi dunia seni. “AI tidak hanya dapat meniru gaya melukis seseorang, tetapi bisa juga menciptakan musik orisinal, skenario film, atau bahkan novel dengan kedalaman narasi yang nyaris menyerupai karya manusia,” tuturnya kepada Hypeabis.id, Rabu (9/4/2025).
Namun di sisi lain, penggunaan AI secara masif juga membawa risiko yang tak bisa diabaikan. Pratama mengingatkan, risiko paling nyata terjadi saat ini adalah penyebaran disinformasi dan deepfake.
AI yang mampu membuat gambar atau video hiper-realistis dapat dengan mudah digunakan untuk manipulasi opini publik, kampanye politik kotor, penipuan, atau bahkan pemerasan personal. Selain itu, ketergantungan terhadap AI dalam pengambilan keputusan terutama di sektor strategis seperti militer dan keuangan dapat menciptakan kerentanan baru.
“Jika sistem AI diretas atau dimanipulasi, dampaknya bisa sangat luas dan merusak,” tegasnya.
Risiko lainnya adalah erosi terhadap kapasitas berpikir kritis dan kreatif manusia. Bila masyarakat semakin bergantung pada AI untuk memproduksi ide, menulis laporan, atau menyusun strategi, maka kemampuan intelektual manusia akan tumpul secara perlahan.
Pratama berpendapat, ini bukan sekadar tentang kehilangan pekerjaan, tetapi kehilangan kompetensi sebagai akibat dari kenyamanan teknologi. Selain itu, ada pula risiko bias algoritmik yang belum sepenuhnya bisa dieliminasi.
“AI yang dilatih dari data bermasalah akan mereproduksi prasangka, diskriminasi, atau ketimpangan sosial yang sudah ada dalam data tersebut,” jelasnya.
Pun ketika AI menawarkan potensi yang besar untuk kemajuan peradaban umat manusia, masih perlu ada keseimbangan antara inovasi dan regulasi, serta antara eksplorasi dan etika. Pratama menegaskan bahwa peran manusia tetaplah kunci dalam menentukan arah penggunaan teknologi ini. “Apakah akan digunakan sebagai alat pemberdayaan atau justru menjadi pisau bermata dua yang membahayakan nilai-nilai kemanusiaan,” tuturnya.
Baca juga: Teknologi AI Ternyata Bisa Mengalami Gangguan Kognitif
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.