Pendiri toko buku Akik Tomi Wibisono (Sumber gambar: Hypeabis.id/ Nadhif Alwan Kamil)

Hypeprofil Tomi Wibisono: Menyajikan Kesenangan Membaca Buku

19 March 2025   |   19:00 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah perkembangan teknologi digital yang kian masif, keberadaan toko buku menjadi salah satu bagian yang kena getahnya. Akan tetapi, Tomi Wibisono, pemilik toko buku Akik di Sleman Yogyakarta, mampu membuktikan bahwa keberadaan toko buku dapat bertahan dengan cara yang unik. 

Langkah Tomi terjun ke industri buku independen berawal dari cita-citanya yang hendak memiliki perpustakaan mandiri. Untuk mencapai keinginan itu, dia harus menjual buku guna membeli daftar yang akan menjadi koleksi dalam perpustakaannya. “Tidak sengaja [mengoleksi buku], itu waktu kuliah. Lalu, keterusan sampai sekarang,” katanya kepada Hypeabis.id. 

Baca juga: Hypeprofil Boy Candra: Cerita Asam Manis Sang Penulis Melankolis

Dia pun mulai menjual buku dengan memanfaatkan media sosial instagram. Keputusannya untuk menjajakan buku lewat media sosial berbagi gambar tersebut membuatnya jadi salah satu toko buku generasi awal yang berjualan lewat platform digital medsos. 

Kondisi itu membuat Tomi merasakan keberuntungan dalam menjual buku karena banyak orang yang membeli. Buku-buku yang dijual kala itu adalah koleksi pribadi dan beberapa milik temannya. 

Selain itu, guna mewujudkan mimpinya memiliki perpustakaan, Tomi juga berkeliling ke sejumlah toko buku untuk menjual dagangannya ke orang lain. “Dahulu gerilya ke toko buku-toko buku, foto, posting, ambil lagi, jual lagi,” ujarnya.

Urusan modal, awal menjalankannya tidak membutuhkan biaya yang besar. Dia mengaku hanya membutuhkan bensin dan kuota internet karena penjualan dilakukan secara daring. Setelah itu, saat toko buku dibuka secara luring, dia menggunakan tempat tinggal sendiri sehingga tidak memerlukan biaya sewa. 

Tak hanya itu, dia juga menilai tidak banyak hambatan yang dilalui ketika mendirikan usaha ini. semua proses yang dijalani olehnya mengalir begitu saja. Selain itu, tidak ada target atau goal muluk-muluk yang ingin dicapai.

“Karena senang saja. Senang baca buku, ingin orang baca buku. Jadi, enggak ada pengen yang mewah-mewah gitu. Enggak ada yang wah-wah begitu,” ujarnya. 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Buku Akik (@bukuakik)


Keinginan Tomi membuka perpustakaan kala itu tidak dapat terlepas dari daerah tinggal sebelum merantau ke Yogyakarta. Dia yang tinggal di Balikpapan merasa kaget dengan betapa mudah akses yang dimiliki oleh orang-orang di tempat perantauan untuk mendapatkan buku. 

Kondisi tersebut juga menyadarkannya betapa timpang distribusi yang terjadi antara daerah tempat tinggalnya dengan tempat perantauan. Akibat distribusi tersebut, Tomi pun baru pertama kali membaca buku karya Pramoedya Ananta Toer pada saat kuliah. Padahal, banyak kawannya sudah membaca karya yang sejak lama.

Dia mengaku keinginan untuk membuat perpustakaan sendiri, dan pada akhirnya menjadi toko buku lantaran ingin bersenang-senang, “Enggak ada yang mulia-mulia banget lah. Hura-hura sebenarnya,” kelakarnya.

Dari keinginan tersebut, toko buku Akik pun berhasil menarik perhatian banyak orang untuk datang. Mereka yang berkunjung tidak selalu ingin membeli buku. Mereka dapat membaca secara gratis di tempat yang didirikan Tomi.

Tidak hanya itu, sejumlah penerbit juga datang untuk mengirimkan bukunya masuk ke toko buku Akik. Kini, di perpustakaan itu terdapat sekitar 10.000 buku yang dapat dibaca di tempat oleh siapa saja. Dari jumlah tersebut, sekitar 5.000 di antaranya dijual.

Selain dapat membaca buku secara gratis, tempat yang didirikan oleh Tomi juga menyediakan beberapa program seperti penampilan musik, diskusi, dan sebagainya. Dengan konsep seperti itu, sejumlah pembaca yang datang dan melakukan pembelian buku, sering kali mengungkap tidak ingin tempat untuk membaca seperti toko buku Akik hilang dari peredaran. 
 

Tomi Wibisono bersama CEO Kompas Gramedia Lilik Oetomo di toko buku Makarya (Sumber gambar: Hypeabis.id/ Nadhif Alwan Kamil)

Tomi Wibisono bersama CEO Kompas Gramedia Lilik Oetomo di toko Makarya (Sumber gambar: Hypeabis.id/ Nadhif Alwan Kamil)

Tak Sekadar Toko Buku 

Sejak berdiri pada 2015, toko buku independen itu telah bertahan selama 1 dekade. Tomi pun memiliki sejumlah harapan tentang toko buku di dalam negeri dalam konteks yang lebih luas lagi. Dia ingin semakin banyak peluang untuk membuka toko buku.

Sebab, saat ini jumlah toko buku yang ada di Indonesia dengan jumlah penduduk di dalam negeri mengalami ketimpangan yang cukup besar. Sementara itu, di tengah digitalisasi, toko buku lebih dari sekadar tempat transaksi untuk jual dan beli buku. “Kalau cuma tujuannya ingin membeli buku ya, aku akan beli online juga,” katanya. 

Dia menuturkan, toko buku merupakan tempat bagi para pencinta buku untuk menikmati berbagai macam pengalaman, seperti menemukan sesuatu yang baru, terkejut dengan apa yang disajikan, dan bertemu banyak orang. Sering bertemu dengan sesama pembaca buku juga akan membuka banyak kemungkinan baru yang bisa saja dialami oleh seseorang. 

Setelah toko buku Akik yang didirikannya mampu membuat banyak orang tertarik datang, Tomi bekerja sama Gramedia mencetuskan dan mengelola Makarya – tempat bagi para pencinta buku untuk bisa membaca buku gratis.

Konsep yang digunakan olehnya dalam Makarya tidak jauh berbeda dengan toko buku Akik yang ada di Yogyakarta. Selain dapat menjadi tempat bagi siapa saja untuk membaca dan membeli buku, tempat itu akan menjadi tempat berbagai kegiatan lintas disiplin.

Kegiatan-kegiatan tersebut misalnya diskusi bersama penulis, pameran seni, musik, dan sebagainya. Program yang akan hadir dalam Makarya rencananya diadakan setiap pekan untuk memeriahkan suasana, sekaligus mendorong semangat literasi masyarakat. 

Baca juga: Cerita Gramedia x Toko Buku Akik Mengembangkan Makarya, Utamakan Browsing Experience

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Investasi Emas Kembali Jadi Primadona di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

BERIKUTNYA

Jelajah Kebun Raya Cibodas, Kesegaran Alam di Kaki Gunung Gede dan Pangrango

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: